Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Singapore Exchange (SGX) membukukan laba semesteran tertinggi sejak melantai di bursa pada tahun 2000.
Capaian ini didorong oleh kuatnya volume perdagangan di seluruh lini bisnis, sekaligus mengindikasikan aktivitas pasar saham yang solid serta pipeline penawaran umum perdana saham (IPO) yang terus berkembang.
Melansir Reuters Kamis (5/2/2026), SGX, yang lebih dari separuh pendapatannya pada tahun fiskal 2025 berasal dari saham dan derivatif ekuitas, menyatakan bahwa volume perdagangan meningkat di seluruh divisi seiring investor menata ulang portofolio mereka di tengah volatilitas pasar global.
Baca Juga: Ada Apa dengan Harga Emas? Ini Penyebab Gejolak Terbarunya
Pendapatan bersih dari segmen fixed income, currencies, and commodities (FICC) tercatat naik 12,5% menjadi 178,9 juta dolar Singapura (sekitar US$140,6 juta). Kontribusi segmen ini mencapai hampir 25,7% dari total pendapatan SGX.
Bursa Singapura juga mencatat pertumbuhan stabil pada volume derivatif valuta asing dan komoditas, mencerminkan tingginya volatilitas di pasar bijih besi dan nilai tukar mata uang.
Sepanjang semester tersebut, SGX menerima 15 pencatatan saham baru, melonjak tiga kali lipat dibandingkan lima pencatatan pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Divisi perdagangan saham tunai (equities cash) membukukan kenaikan pendapatan pencatatan hampir 7% menjadi 13,5 juta dolar Singapura.
Baca Juga: Bursa Asia Lesu Kamis (5/2), Aksi Jual Saham Teknologi Global Bikin Investor Waspada
Pada 2025, Singapura memimpin pasar IPO di Asia Tenggara dengan sembilan transaksi yang menghimpun dana sekitar US$1,6 miliar.
Salah satunya adalah pencatatan UltraGreen.ai pada November, yang menjadi IPO non-REIT terbesar di Singapura dalam delapan tahun terakhir.
Bersama SGX, bank sentral Singapura tengah menjalankan serangkaian reformasi untuk menghidupkan kembali pasar ekuitas dan menarik lebih banyak perusahaan melantai di bursa.
Upaya tersebut meliputi kemudahan pencatatan ganda antara SGX dan Nasdaq, rencana penurunan jumlah minimum saham yang harus dibeli investor, modernisasi sistem kustodian pasca-transaksi, serta peningkatan insentif market maker guna menekan biaya eksekusi transaksi.
Baca Juga: Harga Minyak Dunia Turun 1% Kamis (5/2) Pagi: Brent ke US$68,47 & WTI ke US$64,23
SGX melaporkan laba bersih disesuaikan sebesar 357,1 juta dolar Singapura untuk periode enam bulan yang berakhir pada 31 Desember, naik dari 320,1 juta dolar Singapura pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Meski kinerja keuangan mencetak rekor, saham SGX sempat turun hingga 1% ke level 17,58 dolar Singapura pada Kamis, seiring indeks acuan Strait Times Index melemah 0,2%.
SGX juga mengumumkan dividen interim kuartalan sebesar 11 sen dolar Singapura per saham, lebih tinggi dibandingkan 9 sen yang dibagikan pada tahun lalu.













