Cegah kematian pertama akibat corona, Vietnam habis-habisan selamatkan pilot Inggris

Kamis, 14 Mei 2020 | 15:43 WIB Sumber: Reuters
Cegah kematian pertama akibat corona, Vietnam habis-habisan selamatkan pilot Inggris

ILUSTRASI. Seorang warga yang mengenakan masker wajah menunggu untuk pengujian virus corona di sebuah pusat pengujian cepat sementara di Hanoi, Vietnam, 3 April 2020.

KONTAN.CO.ID - HANOI. Vietnam telah melakukan upaya habis-habisan untuk menyelamatkan nyawa pasien virus corona baru yang paling kritis, seorang pilot Inggris yang bekerja di Vietnam Airlines.

Melalui pengujian yang agresif dan program karantina terpusat yang massal, negara Asia Tenggara itu hanya menghitung 288 kasus virus corona dan tidak melaporkan kematian satu pun.

Vietnam mengeluarkan banyak biaya untuk mencoba menyelamatkan nyawa pria berusia 43 tahun, yang diidentifikasi hanya sebagai "Pasien 91", yang menangkap virus corona di sebuah bar di pusat bisnis Selatan Kota Ho Chi Minh pada pertengahan Maret.

Baca Juga: Kasus corona di Singapura lampaui 26.000, masih tertinggi di ASEAN

Lebih dari 4.000 orang yang terhubung dengan kluster tersebut telah menjalani pengujian, dengan 18 dari mereka terinfeksi virus corona.

Sementara sebagian besar pasien telah pulih, kondisi pilot asal Inggris itu yang mendapat peralatan life support memburuk secara signifikan.

Pada Selasa (12/5), Kementerian Kesehatan Vietnam mengadakan pertemuan dengan para ahli dari rumahsakit terkemuka dan memutuskan bahwa satu-satunya cara untuk menyelamatkan hidup pilot itu adalah dengan transplantasi paru-paru.

Kasusnya telah menarik perhatian nasional di Vietnam, dengan pemerintah memenangkan dukungan luas untuk langkah-langkahnya mengatasi virus corona.

Baca Juga: Ketika virus corona menghilangkan kemacetan lalu lintas di Asia Tenggara

Pada Kamis (14/5), media pemerintah Vietnam melaporkan, 10 orang, termasuk seorang veteran militer berusia 70 tahun, telah mengajukan diri sebagai donor paru-paru, tetapi ditolak oleh dokter negara.

"Kami tersentuh oleh niat baik mereka, tetapi peraturan saat ini tidak memungkinkan kami untuk transplantasi paru-paru yang disumbangkan oleh kebanyakan orang yang masih hidup," kata perwakilan dari Pusat Koordinasi Nasional untuk Transplantasi Organ Manusia (VNHOT) kepada surat kabar Tuoi Tre seperti dikutip Reuters.

Tuoi Tre menyebutkan, Pasien 91 saat ini hanya memiliki 10% dari kapasitas paru-parunya yang tersisa, dan telah menjalani perawatan dengan peralatan life support selama lebih dari 30 hari.

Baca Juga: Kasus corona melonjak, Malaysia bisa perketat kembali Perintah Kontrol

Wakil Menteri Kesehatan Nguyen Truong Son mengatakan kepada media bulan lalu, Vietnam telah mengimpor obat spesialis dari luar negeri untuk mengobati pembekuan darah pada pasien, tetapi tidak berhasil.

Menurut Kantor Berita Vietnam (VNA), Vietnam telah menghabiskan lebih dari 5 miliar dong (US$ 200.000) untuk berupaya menyelamatkan pilot asal Inggris itu.

Pada Maret, media Pemerintah China menyatakan, negaranya berhasil melakukan transplantasi paru-paru ganda pada pasien virus corona, sebuah prosedur yang mereka sebut sebagai metode signifikan untuk merawat para korban penyakit yang paling parah.

Vietnam berharap untuk memanfaatkan kesuksesannya memerangi virus corona dengan memposisikan diri sebagai tempat yang aman bagi  pelaku bisnis. Sebab, produsen internasional ingin mendiversifikasi rantai pasokan mereka jauh dari China.

Baca Juga: Selamat, Thailand laporkan nol kasus baru corona sejak 9 Maret

Halaman   1 2 Tampilkan Semua
Editor: S.S. Kurniawan

Terbaru