kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.639.000   15.000   0,57%
  • USD/IDR 17.676   -107,00   -0,60%
  • IDX 6.668   72,11   1,09%
  • KOMPAS100 872   13,18   1,53%
  • LQ45 663   10,90   1,67%
  • ISSI 232   2,15   0,94%
  • IDX30 371   5,78   1,58%
  • IDXHIDIV20 459   8,65   1,92%
  • IDX80 100   1,57   1,60%
  • IDXV30 127   2,77   2,24%
  • IDXQ30 119   2,33   2,00%

China Kurangi US Treasury Tersisa 2%, Hedge Fund Kini Jadi Penguasa


Kamis, 03 September 2026 / 20:19 WIB
China Kurangi US Treasury Tersisa 2%, Hedge Fund Kini Jadi Penguasa
ILUSTRASI. Wall Street (REUTERS/Jeenah Moon)


Sumber: Reuters | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - ORLANDO. China selama bertahun-tahun disebut sebagai salah satu ancaman terbesar bagi pasar obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS). Kekhawatiran kala itu adalah Beijing bisa menjual kepemilikan US Treasury secara besar-besaran karena alasan politik dan mengguncang sistem keuangan AS.

Namun, skenario tersebut tak pernah terjadi. Kini, ketika China justru terus mengurangi kepemilikan US Treasury, muncul sumber risiko baru yang dinilai berpotensi lebih besar, yakni investor domestik AS yang bergerak cepat atau "fast money", terutama hedge fund.

Kolumnis Reuters Jamie McGeever dalam tulisannya, Kamis (3/9/2026), menyebut perubahan struktur kepemilikan tersebut berpotensi membuat pasar US Treasury yang bernilai sekitar US$ 29 triliun menjadi kurang stabil.

Baca Juga: Perusahaan Sektor Jasa Jerman Kembali Gelar Rekrutmen Kendati Bisnis Masih Tertekan

Dalam beberapa tahun terakhir, China dan bank sentral negara lain secara bertahap mengurangi eksposur terhadap US Treasury. Pada saat yang sama, pembeli dari sektor swasta, termasuk hedge fund dan spekulan, meningkatkan kepemilikannya.

Perubahan tersebut dinilai telah mengurangi salah satu sumber stabilitas di pasar obligasi pemerintah AS yang merupakan pasar terbesar dan paling likuid di dunia.

Pada 2011, China tercatat memiliki sekitar US$ 1,3 triliun US Treasury atau sekitar 14% dari seluruh Treasury yang beredar.

Saat itu, muncul kekhawatiran Beijing dapat menggunakan kepemilikan obligasi tersebut sebagai senjata finansial dengan melakukan aksi jual besar-besaran. Langkah tersebut dikhawatirkan dapat membuat biaya pinjaman pemerintah AS melonjak, menekan dolar AS, bahkan mendorong ekonomi AS ke dalam resesi.

Namun, skenario tersebut sejak awal dinilai kecil kemungkinannya terjadi. Menjual Treasury dalam jumlah besar akan menghancurkan sebagian besar cadangan devisa China sekaligus berisiko merusak pasar ekspor terbesar Beijing, yakni AS.

Dengan kata lain, skenario kehancuran finansial bagi AS juga berpotensi menjadi bencana ekonomi bagi China. Kondisi tersebut menciptakan semacam "mutually assured destruction", sehingga Beijing tidak memiliki insentif kuat untuk menarik pelatuknya.

Sebaliknya, besarnya kepemilikan China dan bank sentral lainnya justru selama ini menjadi sumber stabilitas pasar Treasury.

Kini, kondisi tersebut telah banyak berubah.

Baca Juga: Surplus Dagang Kanada Merosot Tajam, Ekspor Energi dan Logam Tertekan

Kepemilikan resmi China atas US Treasury telah menyusut menjadi sekitar US$ 633 miliar, atau hanya sekitar 2% dari total Treasury yang dimiliki publik. China diyakini masih memiliki eksposur yang lebih besar melalui bank-bank milik negara dan entitas di luar negeri.

Secara keseluruhan, bank sentral asing yang pada 2008 menguasai sekitar 40% pasar obligasi pemerintah AS, kini hanya memiliki sekitar 12%.

Hedge Fund Ambil Peran Lebih Besar

Ketika investor konservatif dan berjangka panjang seperti bank sentral mulai mengurangi kepemilikan, peran pembeli marginal US Treasury semakin banyak diambil oleh hedge fund.

Berbeda dengan bank sentral, hedge fund merupakan investor swasta yang lebih sensitif terhadap imbal hasil atau yield, bergerak lebih cepat, memiliki horizon investasi lebih pendek, serta kerap menggunakan leverage.

Hedge fund kini diperkirakan memiliki sekitar US$ 2,6 triliun dari seluruh Treasury yang beredar, atau lebih dari 8% pasar.

Menurut UniCredit, kondisi ini menciptakan "less-stable equilibrium" atau keseimbangan yang lebih tidak stabil. Pasar US Treasury menjadi lebih rentan terhadap gejolak karena pergerakan kecil pada yield obligasi dapat memicu margin call dan memaksa investor mengurangi leverage.

Risikonya semakin besar jika memperhitungkan posisi short hedge fund.

Berdasarkan kajian Federal Reserve yang diterbitkan pada Juni, total eksposur bruto hedge fund terhadap US Treasury pada akhir tahun lalu mencapai US$ 4 triliun. Angka tersebut mencakup posisi short sebesar US$ 1,6 triliun.

Untuk membiayai posisi tersebut dan menyediakan jaminan atau collateral, pinjaman tunai hedge fund melalui pasar repo juga melonjak menjadi sekitar US$ 3 triliun.

Yang menjadi perhatian, eksposur bruto hedge fund terhadap Treasury, pinjaman repo, serta nilai transaksi bulanan di pasar Treasury semuanya telah lebih dari dua kali lipat sejak awal 2023.

Baca Juga: Kontraksi Sektor Jasa Prancis Makin Dalam, Permintaan Kembali Memburuk

Aktivitas tersebut juga sangat terkonsentrasi. Sekitar 50 hedge fund terbesar menguasai sekitar 90% dari total aktivitas tersebut.

"Skala ekspansi ini sangat mencolok," kata ekonom Federal Reserve sekaligus penulis kajian tersebut, Philip J. Monin.

Menurut dia, kombinasi skala yang besar, konsentrasi tinggi dan leverage yang meningkat menciptakan potensi tekanan sistemik apabila beberapa strategi investasi menghadapi tekanan secara bersamaan atau terjadi guncangan besar terhadap pemain terbesar.

Meski demikian, sejauh ini belum terjadi gejolak besar di pasar Treasury akibat aktivitas hedge fund.

Kekhawatiran terhadap runtuhnya strategi basis trade, yakni strategi hedge fund yang menggunakan leverage besar untuk memanfaatkan perbedaan harga antara kontrak futures Treasury dan obligasi tunai, juga belum terbukti.

Investor, regulator dan pembuat kebijakan pun sudah mengetahui berbagai risiko tersebut.

Capital Economics bahkan menilai kekhawatiran regulator terhadap semakin besarnya peran hedge fund di pasar Treasury kemungkinan terlalu berlebihan. Hedge fund telah mengurangi posisi short pada kontrak futures secara cukup signifikan sepanjang tahun ini dan proses tersebut sejauh ini berlangsung tertib.

Namun, terdapat perbedaan mendasar antara hedge fund dan bank sentral sebagai pemilik US Treasury.

Bank sentral cenderung membeli lebih banyak Treasury dan dolar AS ketika nilainya turun guna menjaga nilai cadangan devisa mereka. Investor swasta seperti hedge fund justru lebih mungkin memangkas kerugian dan menjual aset ketika pasar bergerak berlawanan.

Baca Juga: PMI Sektor Jasa Italia Mencapai Level Tertinggi dalam Hampir 3,5 Tahun

Pola tersebut dapat memperkuat negative feedback loop, yakni kondisi ketika penurunan harga memicu aksi jual lebih lanjut dan semakin memperbesar tekanan di pasar.

Hal ini menjadi semakin relevan ketika pasar Treasury AS dan obligasi pemerintah global tengah menghadapi aksi jual terberat dalam beberapa dekade.

Pertanyaannya, apakah perubahan struktur kepemilikan US Treasury kini membuat risiko "kecelakaan pasar"meningkat—dari sekadar koreksi menjadi krisis?

Jika risiko tersebut benar-benar muncul, pasar mungkin akan kembali merindukan peran bank sentral asing, termasuk China, yang selama ini menjadi pembeli jangka panjang dan relatif stabil di pasar obligasi pemerintah AS.


Video Terkait



TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×