Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - China memperingatkan akan ada “konsekuensi” setelah Taiwan menghadiri pembukaan Pacific Islands Forum (PIF) di Palau. Beijing menyatakan keberadaan Taiwan dalam forum tersebut sebagai tindakan yang tidak semestinya.
Utusan Khusus China untuk Urusan Kepulauan Pasifik Qian Bo mengatakan Beijing memiliki keprihatinan serius atas kehadiran Taiwan dalam pertemuan tahunan yang melibatkan 18 negara tersebut.
Baca Juga: Minyak Brent Kembali ke Atas US$ 91 Selasa (1/9), Konflik AS-Iran Jadi Pemicu
“Selalu akan ada konsekuensi,” kata Qian kepada wartawan pada Senin (31/8/2026) setelah upacara pembukaan forum di Palau dilansir dari Reuters.
Namun, Qian menegaskan pernyataannya bukan merupakan ancaman. Ia tidak menjelaskan konsekuensi seperti apa yang mungkin diambil China.
“Ini bukan ancaman,” ujarnya.
Qian menilai kehadiran Taiwan dalam forum tersebut tidak semestinya terjadi karena dinilai mendapat penolakan dari banyak pihak.
“Ini ditentang oleh semua pihak, jadi hal ini seharusnya tidak terjadi. Kami menilai sangat tidak pantas untuk melakukannya,” kata dia.
Taiwan merupakan wilayah yang diklaim China sebagai bagian dari teritorinya. Sementara itu, Taiwan yang memiliki pemerintahan demokratis menolak klaim kedaulatan Beijing.
Taiwan turut menghadiri upacara pembukaan PIF pada Senin. Menteri Luar Negeri Taiwan Lin Chia-lung juga diundang untuk mengikuti sejumlah pertemuan dan agenda sampingan yang digelar bersamaan dengan forum tersebut.
Taiwan bukan mitra dialog resmi PIF seperti China, tetapi berstatus sebagai mitra pembangunan. Amerika Serikat (AS) dan Jepang juga berstatus sebagai mitra dialog.
Baca Juga: PMI Jepang: Bisnis Baru Manufaktur Jepang Naik dengan Laju Tercepat Sejak 2018
Hubungan Taiwan di Pasifik Menyusut
Kehadiran Taiwan menjadi salah satu isu yang menonjol dalam pertemuan PIF di tengah meningkatnya persaingan pengaruh China dengan negara-negara Barat di kawasan Pasifik.
China secara bertahap mengurangi jumlah negara kepulauan Pasifik yang masih memiliki hubungan diplomatik resmi dengan Taiwan.
Saat ini, hanya tiga negara Pasifik yang masih mempertahankan hubungan tersebut, yakni Palau, Tuvalu dan Kepulauan Marshall.
Baca Juga: Nissan-Honda Perkuat Kerja Sama Teknologi, Siapkan ECU untuk Mobil Generasi Baru
Forum yang berlangsung di Palau itu juga diwarnai absennya sejumlah pemimpin negara anggota. Pemimpin Fiji, Vanuatu, Samoa, Kepulauan Solomon dan Kiribati tidak menghadiri pertemuan tersebut.
Menteri Luar Negeri Selandia Baru Winston Peters mengatakan dirinya sangat curiga terhadap banyaknya pemimpin yang tidak hadir.
Namun, Menteri Luar Negeri Australia Penny Wong mengatakan setiap pemimpin memiliki alasan masing-masing terkait keputusan perjalanan.
“Pandangan Australia adalah bahwa ini merupakan forum yang sangat penting. Saya tahu Perdana Menteri Anthony Albanese, yang telah tiba, menantikan keterlibatannya dengan para mitra,” kata Wong kepada ABC News.
China merupakan mitra dagang terbesar Australia. Namun, Canberra tetap mewaspadai meningkatnya pengaruh Beijing di kawasan Pasifik.
Baca Juga: Belanja Modal Perusahaan Jepang Naik 1,6% di Kuartal II-2026
Australia terus memperkuat kerja sama keamanan dengan negara-negara kepulauan di kawasan tersebut untuk mencegah China membangun kehadiran militer permanen.
Australia dan sekutunya, AS, selama ini menganggap kawasan Pasifik Selatan sebagai bagian dari lingkup pengaruh strategis mereka.














