kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.725.000   80.000   3,02%
  • USD/IDR 17.783   -84,00   -0,47%
  • IDX 6.478   83,58   1,31%
  • KOMPAS100 839   13,65   1,65%
  • LQ45 636   8,33   1,33%
  • ISSI 228   3,43   1,53%
  • IDX30 354   3,43   0,98%
  • IDXHIDIV20 430   2,63   0,62%
  • IDX80 96   1,52   1,61%
  • IDXV30 120   0,44   0,37%
  • IDXQ30 112   0,91   0,82%

China Pertahankan Suku Bunga Acuan, LPR Tak Berubah 15 Bulan


Kamis, 20 Agustus 2026 / 10:58 WIB
China Pertahankan Suku Bunga Acuan, LPR Tak Berubah 15 Bulan
ILUSTRASI. China mempertahankan suku bunga acuan pinjaman atau loan prime rate (LPR) pada Agustus 2026 (REUTERS/Tyrone Siu)


Sumber: Reuters | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - SHANGHAI. China mempertahankan suku bunga acuan pinjaman atau loan prime rate (LPR) pada Agustus 2026. Keputusan tersebut memperpanjang periode LPR tidak berubah menjadi 15 bulan berturut-turut, sejalan dengan ekspektasi pasar.

Bank sentral China mempertahankan LPR tenor satu tahun di level 3,00%, sedangkan LPR tenor lima tahun tetap sebesar 3,50%.

Keputusan tersebut menunjukkan bahwa pembuat kebijakan China kemungkinan lebih mengandalkan percepatan implementasi kebijakan fiskal dibandingkan pelonggaran moneter baru untuk menopang pertumbuhan ekonomi.

Analis menilai ruang pelonggaran moneter semakin terbatas karena bank-bank China masih menghadapi margin keuntungan yang berada di dekat level terendah sepanjang sejarah.

Baca Juga: Harga Emas Dunia Bertahan di Level Tertinggi Dua Bulan, Didorong Pelemahan Dolar AS

Mengapa penting?

Stabilnya suku bunga acuan pinjaman menunjukkan bahwa pemerintah China tampaknya memilih mempercepat pengeluaran fiskal, terutama untuk proyek-proyek infrastruktur yang telah masuk dalam anggaran, daripada meluncurkan stimulus moneter baru.

Langkah tersebut dilakukan ketika ekonomi China masih menghadapi lemahnya permintaan domestik.

Sejumlah data ekonomi China yang dirilis pada Juli 2026, mulai dari produksi industri, penjualan ritel hingga penyaluran kredit, menunjukkan bahwa ekonomi terbesar kedua di dunia tersebut masih kesulitan mendorong konsumsi dan permintaan dalam negeri.

Penyaluran kredit baru dalam yuan bahkan mengalami kontraksi pada Juli dan mencatat penurunan terbesar yang pernah terjadi. Realisasi tersebut juga berada di bawah ekspektasi pasar karena faktor musiman serta lemahnya permintaan kredit dari rumah tangga.

LPR China tetap 3,00% dan 3,50%

Dalam survei Reuters terhadap 25 pelaku pasar yang dilakukan pekan ini, seluruh responden memperkirakan tidak akan ada perubahan pada kedua suku bunga LPR.

LPR tenor satu tahun, yang umumnya menjadi acuan bagi sebagian besar pinjaman rumah tangga dan korporasi, dipertahankan pada 3,00%.

Sementara itu, LPR tenor lima tahun yang banyak digunakan sebagai referensi pembiayaan jangka panjang, termasuk kredit properti, tetap berada di 3,50%.

Keputusan tersebut menunjukkan bahwa bank sentral China masih berhati-hati dalam memberikan stimulus moneter tambahan.

Baca Juga: Vietnam Usulkan Penghapusan Hukuman Mati untuk Enam Jenis Tindak Pidana

China pilih percepatan belanja fiskal

Pada pertemuan Politbiro Juli lalu, para pemimpin China berkomitmen mendukung perekonomian yang melambat dengan mempercepat belanja fiskal untuk proyek-proyek infrastruktur yang telah masuk anggaran.

Pemerintah China tidak mengindikasikan rencana untuk meluncurkan stimulus besar-besaran baru.

Strategi tersebut mengindikasikan bahwa Beijing lebih memilih mengoptimalkan kebijakan fiskal yang sudah tersedia untuk menopang pertumbuhan ekonomi hingga akhir tahun.

Bank sentral China pada pekan lalu juga menyatakan akan mempertahankan kebijakan moneter yang cukup longgar dan meluncurkan langkah-langkah yang praktis serta efektif jika diperlukan.

Namun, bank sentral belum memberikan sinyal yang jelas mengenai kemungkinan pemangkasan suku bunga kebijakan maupun rasio giro wajib minimum atau reserve requirement ratio (RRR) perbankan.

Margin bank batasi ruang pemangkasan suku bunga

Barclays menilai bank sentral China belum terburu-buru memangkas suku bunga kebijakan maupun RRR.

"Meski mempertahankan sikap akomodatif, kami menilai Laporan Kebijakan Moneter Kuartal II Bank Sentral China menunjukkan bahwa bank sentral masih belum terburu-buru memangkas suku bunga kebijakan atau rasio giro wajib minimum (RRR). Oleh karena itu, kami tetap memperkirakan suku bunga kebijakan akan bertahan pada level saat ini sepanjang 2026," ujar Barclays.

Baca Juga: Tesla Bersiap Luncurkan Cybercab, Robotaxi Tanpa Setir di Austin

Menurut Barclays, penguatan yuan dalam beberapa waktu terakhir telah mengurangi sebagian kendala terhadap pelonggaran moneter. Namun, rendahnya margin bunga bersih (net interest margin/NIM) perbankan membuat ruang untuk pemangkasan suku bunga semakin terbatas.

"Meski penguatan yuan baru-baru ini telah mengurangi sebagian kendala terhadap pelonggaran moneter, kami menilai rendahnya margin bunga bersih perbankan membatasi ruang untuk pemangkasan suku bunga lebih lanjut. Secara historis, NIM perbankan cenderung bergerak sejalan dengan suku bunga kebijakan, karena suku bunga pinjaman yang terkait dengan LPR biasanya akan disesuaikan lebih rendah segera setelah suku bunga kebijakan dipangkas," kata Barclays.

Dengan demikian, arah kebijakan China ke depan diperkirakan masih akan lebih banyak bertumpu pada implementasi fiskal dan dukungan terhadap sektor riil, sementara kebijakan moneter tetap longgar tetapi tidak agresif.

Kondisi tersebut menjadi penting bagi perekonomian China yang masih menghadapi tantangan berupa lemahnya permintaan domestik, perlambatan kredit dan tekanan terhadap profitabilitas sektor perbankan.




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×