Dampak Pembubaran Parlemen, Indeks Saham Bursa Malaysia dan Ringgit Merosot

Selasa, 11 Oktober 2022 | 10:54 WIB   Reporter: Adrianus Octaviano
Dampak Pembubaran Parlemen, Indeks Saham Bursa Malaysia dan Ringgit Merosot

ILUSTRASI. Bursa Saham Malaysia rontok


KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bursa saham Malaysia dan ringgit melemah menyusul keputusan Perdana Menteri Ismail Sabri Yaakob yang membubarkan parlemen pada awal pekan ini. Hal tersebut dilakukan untuk membuka jalan bagi rencana pemilihan umum di tahun ini.

Mengutip Bloomberg (11/10), Indeks acuan KLCI ambles 1,6% dan berada di jalur untuk pelemahan hari ketiga, sejalan dengan bursa di kawasan. Saham perusahaan elektronik seperti Inari Amertron, Press Metal Aluminium, dan Top Glove termasuk di antara jajaran top loser dalam indeks tersebut.

Pembubaran itu terjadi tiga hari setelah pemerintahan Ismail mengajukan anggaran untuk tahun depan yang memotong pajak sambil tetap mempersempit defisit fiskal melalui subsidi yang lebih tepat sasaran.

Rencana anggaran belanja harus diajukan lagi setelah pemilihan diadakan, Menteri Keuangan Zafrul Aziz mengatakan kepada media lokal pada hari Jumat, mengutip jajak pendapat awal 1999 sebagai preseden.

Baca Juga: Perdana Menteri Malaysia Ismail Sabri Resmi Bubarkan Parlemen dan Mempercepat Pemilu

Kepala riset CGS-CIMB Malaysia Ivy Ng menulis dalam sebuah catatan bahwa pemilu akan dipandang positif oleh pasar jika mampu mengembalikan stabilitas politik. Tetapi kemungkinan parlemen yang digantung, dan ketidakmampuan selanjutnya untuk meloloskan Anggaran 2023, tetap menjadi risiko utama yang dapat menyebabkan aksi jual di KLCI.

"Kami menyarankan investor untuk tetap defensif mengingat ketidakpastian pemilu dan kekhawatiran atas resesi global," katanya.

Ng menambahkan bahwa sektor konstruksi dan properti berpotensi mendapatkan keuntungan dalam jangka menengah, sementara penerima manfaat potensial lainnya termasuk aset yang diatur seperti telekomunikasi dan utilitas dari kejelasan kebijakan.

Sementara itu, nilai tukar ringgit juga turun 0,5% terhadap dolar Amerika Serikat (AS).  Ahli strategi di Scotiabank di Singapura Qi Gao bilang, ringgit mungkin menghadapi beberapa kelemahan di tengah ketidakpastian menjelang pemilihan umum.

“Secara umum, ringgit akan mengikuti nada pasar yang luas, dan akan ditopang jika perdana menteri yang berkuasa memenangkan pemilihan,” tambahnya.

 

 

Editor: Anna Suci Perwitasari

Terbaru