kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.770.000   11.000   0,40%
  • USD/IDR 18.046   -27,00   -0,15%
  • IDX 5.595   -245,02   -4,20%
  • KOMPAS100 736   -35,18   -4,56%
  • LQ45 558   -23,17   -3,99%
  • ISSI 195   -8,81   -4,33%
  • IDX30 316   -12,58   -3,83%
  • IDXHIDIV20 392   -14,84   -3,65%
  • IDX80 84   -3,56   -4,08%
  • IDXV30 107   -4,76   -4,28%
  • IDXQ30 102   -3,95   -3,72%

Data Pekerjaan AS Memanas: Ujian Berat Menanti Kevin Warsh di Rapat Perdana The Fed


Jumat, 05 Juni 2026 / 22:51 WIB
Data Pekerjaan AS Memanas: Ujian Berat Menanti Kevin Warsh di Rapat Perdana The Fed
ILUSTRASI. USA-FED/BALANCE-SHEET (REUTERS/Evelyn Hockstein)


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

Janji Produktivitas Trump Berbenturan dengan Realita

Kevin Warsh, yang mengambil alih tongkat estafet dari Jerome Powell pada pertengahan Mei lalu, sebelumnya berargumen bahwa suku bunga bisa turun.

Sebelum dicalonkan oleh Presiden Donald Trump, ia menilai kebijakan presiden dan adopsi teknologi kecerdasan buatan (AI) akan menggenjot produktivitas serta mempercepat pertumbuhan ekonomi di tengah melambatnya inflasi.

Namun, data riil berbicara sebaliknya. Inflasi AS saat ini tertahan di level 1% atau lebih di atas target 2% milik The Fed, dan berada di jalur yang tepat untuk bertahan di atas target tersebut selama enam tahun berturut-turut. Data inflasi terbaru dijadwalkan rilis pekan depan.

Baca Juga: China Akan Memperketat Pengawasan Dana Investasi Swasta

Dana Moneter Internasional (IMF) bahkan memperkirakan inflasi AS baru akan kembali ke target 2% pada akhir tahun 2027, mundur dari estimasi semula di pertengahan tahun depan, akibat dampak ekonomi dari perang yang melibatkan AS dan Iran.

"Kami melihat adanya risiko kenaikan (upside risk) pada inflasi. Ini berarti langkah kebijakan Fed harus dilakukan dengan sangat hati-hati dan dikalibrasi erat dengan data yang masuk," ungkap juru bicara IMF, Julie Kozack.

Tekanan Geopolitik dan Efek Berantai Perang Iran

Pada rapat FOMC 28-29 April lalu, tiga pembuat kebijakan telah menyatakan dissenting opinion (beda pendapat) dan memilih mendorong kebijakan ke arah yang lebih ketat (hawkish).

Baca Juga: SpaceX Gagal Masuk Cepat Indeks S&P 500 Meski Cetak IPO Terbesar Dunia

Langkah ini membuka pintu lebar-lebar bagi kenaikan suku bunga, berbanding terbalik dengan harapan Presiden Trump yang menginginkan suku bunga turun di bawah kepemimpinan Warsh.

Isu ini menjadi sangat sensitif mengingat biaya pinjaman yang rendah menjadi kartu as Trump menjelang pemilihan paruh waktu (midterm elections) AS pada November mendatang.

Sebagian besar inflasi saat ini dipicu oleh perang dengan Iran yang telah memasuki bulan keempat dan menyebabkan guncangan harga minyak global.

Walau harga minyak mentah acuan sempat melandai baru-baru ini, jalur perdagangan strategis di Selat Hormuz masih terhambat akibat belum tercapainya kesepakatan damai.

Dalam laporan berkala dari 12 distrik regional The Fed yang dirilis Rabu lalu, para pelaku usaha mengeluhkan efek berantai dari lonjakan harga minyak.

Biaya-biaya produksi seperti pupuk, pengiriman barang, hingga material logam terus membubung tinggi, yang pada akhirnya dibebankan kepada konsumen dalam bentuk kenaikan harga barang.

Baca Juga: Diduga Membocorkan Informasi Rahasia, Otoritas Australia Periksa Mitra KPMG

"Pertanyaan besarnya sekarang adalah, apakah kita harus tetap bersabar?" kata Presiden Fed Kansas City, Jeffrey Schmid.

"Angka inflasi kita merangkak naik ke kisaran 3,50%, tingkat yang tidak disukai siapa pun. Apakah ini hanya sementara... atau kita harus bertindak dengan menaikkan suku bunga satu atau dua perempat persen demi meredam gejolak ini?"




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Supply Chain End-to-End: From Forecast to Customer Value

[X]
×