Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Laporan ketenagakerjaan AS yang melonjak tajam pada hari Jumat (5/6/2026) diperkirakan akan meredakan kekhawatiran para pejabat Federal Reserve terkait pelemahan pasar tenaga kerja.
Fokus bank sentral kini beralih sepenuhnya pada risiko inflasi. Kondisi ini menuntut Ketua anyar The Fed Kevin Warsh untuk menyeimbangkan tekanan internal dari rekan-rekannya serta lonjakan ekspektasi investor terkait potensi kenaikan suku bunga.
Baca Juga: Pasar Tenaga Kerja AS Tetap Solid, The Fed Diperkirakan Belum Turunkan Suku Bunga
Melansir Reuters, Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan pertumbuhan bersih sebesar 172.000 lapangan kerja pada bulan Mei. Angka ini dua kali lipat lebih tinggi dari perkiraan konsensus para ekonom.
Lonjakan tersebut mengembalikan rata-rata perekrutan dalam tiga bulan terakhir ke level normal seperti era sebelum pandemi COVID-19, sekaligus menjaga tingkat pengangguran stabil di angka 4,3%.
Dirilisnya data ini, tepat kurang dari dua minggu sebelum rapat perdana Warsh sebagai kepala bank sentral AS pada 16-17 Juni mendatang, langsung mengubah peta prediksi investor.
Probabilitas kenaikan suku bunga pada bulan Desember melonjak menjadi sekitar 70%, naik dari kisaran 50% pada hari Kamis.
Data ini bahkan memicu salah satu Presiden The Fed regional untuk menyatakan bahwa bank sentral mungkin harus segera mengambil tindakan.
"Kondisi ekonomi saat ini sudah mendekati definisi saya tentang lapangan kerja penuh (full employment)," tulis Presiden Fed Cleveland, Beth Hammack, dalam unggahannya di LinkedIn.
"Sebaliknya, inflasi menunjukkan cerita yang berbeda. Angkanya tinggi dan terus bergerak naik... Jika tren ini berlanjut, tindakan pengetatan mungkin akan segera meluncur."
Baca Juga: WTO: Pertumbuhan Perdagangan Barang Global Mulai Melambat pada 2026
Mencari 'Normal Baru' di Pasar Tenaga Kerja
Setelah sempat mengalami fluktuasi besar akibat masifnya perekrutan pasca-pandemi, lonjakan migrasi, hingga pengetatan pekerja asing oleh pemerintahan Donald Trump, tolok ukur pertumbuhan kerja yang "normal" sempat menjadi kabur.
Banyak ekonom dan pembuat kebijakan mengira pertumbuhan lapangan kerja bulanan bisa merosot tanpa perlu mengkhawatirkan resesi atau lonjakan angka pengangguran.
Namun, data tiga bulan terakhir memicu spekulasi lahirnya "normal baru". Laporan bulan Mei menunjukkan gelombang masyarakat yang kembali bekerja dan mencari nafkah melesat tajam.
Baca Juga: Iran Peringatkan Israel Keluar dari Lebanon, Negosiasi Damai Terancam Mandek
Masuknya tenaga kerja baru dari sektor informal ini sukses menjaga tingkat pengangguran tetap stabil di angka 4,3%, meskipun penyerapan tenaga kerja sangat tinggi.
Ditambah lagi, data ketenagakerjaan bulan Maret dan April juga direvisi naik secara signifikan.
Bagi Warsh, situasi ini membalikkan arah angin. Ia yang semula diprediksi akan menakhodai Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) menuju era suku bunga rendah, kini justru menghadapi tekanan ke arah sebaliknya.
"Kemenangan tiga bulan berturut-turut data nonfarm payrolls di atas konsensus harusnya menghapus kecemasan FOMC terhadap risiko penurunan pasar tenaga kerja. Hal ini membuat The Fed semakin sulit mengabaikan tingginya inflasi inti maupun inflasi utama," kata Stephen Brown, Kepala Ekonom Amerika Utara di Capital Economics.
"Jika pasar tenaga kerja tidak mengalami kejutan buruk di musim panas, tampaknya FOMC berpeluang besar melakukan beberapa kali kenaikan suku bunga darurat akhir tahun ini."
Baca Juga: Bangkrut, Ribuan Karyawan Spirit Airlines Kena PHK Massal
Setelah hanya menghasilkan rata-rata kurang dari 10.000 pekerjaan baru per bulan pada tahun 2025 akibat ketidakpastian tarif impor dan pengetatan imigrasi, pertumbuhan lapangan kerja dalam lima bulan pertama tahun 2026 kini melonjak dengan rata-rata 113.000 per bulan.
Angka ini dinilai cukup untuk menghentikan wacana pemangkasan suku bunga lebih lanjut.
Gubernur The Fed Christopher Waller bahkan menyatakan bahwa pasar tenaga kerja saat ini sudah stabil, sehingga fokus utama bank sentral harus dialihkan untuk menjinakkan inflasi yang membandel—pandangan yang kini tampaknya menjadi suara mayoritas di internal Fed.
"Saya tidak bisa lagi mengesampingkan opsi kenaikan suku bunga ke depan jika inflasi tidak segera mereda," ujar Waller, membalikkan sikapnya yang sempat mendukung pemangkasan suku bunga pada awal tahun ini saat dirinya masih menjadi kandidat kuat Ketua Fed.
Baca Juga: Ekonomi India: Kejutan Pertumbuhan 7,8% di Tengah Konflik Timur Tengah
Janji Produktivitas Trump Berbenturan dengan Realita
Kevin Warsh, yang mengambil alih tongkat estafet dari Jerome Powell pada pertengahan Mei lalu, sebelumnya berargumen bahwa suku bunga bisa turun.
Sebelum dicalonkan oleh Presiden Donald Trump, ia menilai kebijakan presiden dan adopsi teknologi kecerdasan buatan (AI) akan menggenjot produktivitas serta mempercepat pertumbuhan ekonomi di tengah melambatnya inflasi.
Namun, data riil berbicara sebaliknya. Inflasi AS saat ini tertahan di level 1% atau lebih di atas target 2% milik The Fed, dan berada di jalur yang tepat untuk bertahan di atas target tersebut selama enam tahun berturut-turut. Data inflasi terbaru dijadwalkan rilis pekan depan.
Baca Juga: China Akan Memperketat Pengawasan Dana Investasi Swasta
Dana Moneter Internasional (IMF) bahkan memperkirakan inflasi AS baru akan kembali ke target 2% pada akhir tahun 2027, mundur dari estimasi semula di pertengahan tahun depan, akibat dampak ekonomi dari perang yang melibatkan AS dan Iran.
"Kami melihat adanya risiko kenaikan (upside risk) pada inflasi. Ini berarti langkah kebijakan Fed harus dilakukan dengan sangat hati-hati dan dikalibrasi erat dengan data yang masuk," ungkap juru bicara IMF, Julie Kozack.
Tekanan Geopolitik dan Efek Berantai Perang Iran
Pada rapat FOMC 28-29 April lalu, tiga pembuat kebijakan telah menyatakan dissenting opinion (beda pendapat) dan memilih mendorong kebijakan ke arah yang lebih ketat (hawkish).
Baca Juga: SpaceX Gagal Masuk Cepat Indeks S&P 500 Meski Cetak IPO Terbesar Dunia
Langkah ini membuka pintu lebar-lebar bagi kenaikan suku bunga, berbanding terbalik dengan harapan Presiden Trump yang menginginkan suku bunga turun di bawah kepemimpinan Warsh.
Isu ini menjadi sangat sensitif mengingat biaya pinjaman yang rendah menjadi kartu as Trump menjelang pemilihan paruh waktu (midterm elections) AS pada November mendatang.
Sebagian besar inflasi saat ini dipicu oleh perang dengan Iran yang telah memasuki bulan keempat dan menyebabkan guncangan harga minyak global.
Walau harga minyak mentah acuan sempat melandai baru-baru ini, jalur perdagangan strategis di Selat Hormuz masih terhambat akibat belum tercapainya kesepakatan damai.
Dalam laporan berkala dari 12 distrik regional The Fed yang dirilis Rabu lalu, para pelaku usaha mengeluhkan efek berantai dari lonjakan harga minyak.
Biaya-biaya produksi seperti pupuk, pengiriman barang, hingga material logam terus membubung tinggi, yang pada akhirnya dibebankan kepada konsumen dalam bentuk kenaikan harga barang.
Baca Juga: Diduga Membocorkan Informasi Rahasia, Otoritas Australia Periksa Mitra KPMG
"Pertanyaan besarnya sekarang adalah, apakah kita harus tetap bersabar?" kata Presiden Fed Kansas City, Jeffrey Schmid.
"Angka inflasi kita merangkak naik ke kisaran 3,50%, tingkat yang tidak disukai siapa pun. Apakah ini hanya sementara... atau kita harus bertindak dengan menaikkan suku bunga satu atau dua perempat persen demi meredam gejolak ini?"













