Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Pengamatan satelit harian menunjukkan bahwa Bumi semakin terang pada malam hari akibat meningkatnya penggunaan pencahayaan buatan, dengan lonjakan signifikan terjadi di kawasan Asia Tenggara dan Afrika Sub-Sahara.
Melansir Reuters Rabu (8/4/2026), penelitian terbaru yang dipublikasikan di jurnal Nature mencatat adanya kenaikan bersih sebesar 16% pada tingkat pencahayaan malam global sepanjang periode 2014 hingga 2022.
Baca Juga: TikTok Investasi 1 Miliar Euro untuk Bangun Data Center Kedua di Finlandia
Namun, peningkatan ini tidak terjadi secara merata, melainkan bervariasi antarwilayah.
Negara dengan tingkat kecerahan tertinggi pada 2022 adalah Amerika Serikat (AS), diikuti China, India, Kanada, dan Brasil.
Peningkatan cahaya malam terutama didorong oleh urbanisasi yang pesat, ekspansi infrastruktur, serta meluasnya akses listrik di wilayah pedesaan.
Profesor penginderaan jauh dari University of Connecticut Zhe Zhu mengatakan bahwa selama ini terdapat anggapan sederhana bahwa Bumi terus menjadi lebih terang seiring pertumbuhan populasi dan ekonomi.
“Kami menemukan bahwa lanskap malam Bumi sebenarnya sangat dinamis. Tingkat pencahayaan terus berubah bertambah, berkurang, dan bergeser,” ujarnya.
Penelitian ini menggunakan lebih dari satu juta citra harian dari satelit pengamat Bumi milik pemerintah AS yang diproses oleh NASA.
Metode ini dinilai lebih akurat dibanding studi sebelumnya yang hanya mengandalkan data bulanan atau tahunan.
Baca Juga: Gencatan Senjata AS-Iran Tak Serta-Merta Pulihkan Industri Penerbangan Global
Asia Tenggara Jadi Sorotan
Peningkatan paling drastis terjadi di negara berkembang, khususnya di Afrika Sub-Sahara dan Asia Tenggara.
Negara seperti Somalia, Burundi, dan Kamboja mencatat lonjakan terbesar, diikuti Ghana, Guinea, dan Rwanda.
Menurut Zhu, fenomena ini tidak hanya mencerminkan urbanisasi, tetapi juga ekspansi besar-besaran akses energi listrik.
“Ini menunjukkan perubahan besar ketika wilayah yang sebelumnya gelap kini menjadi bagian dari jaringan listrik global,” jelasnya.
Baca Juga: Arus Dana Asing Keluar dari Pasar Berkembang Tembus US$70 Miliar, Terbesar Sejak 2020
Redup karena Konflik dan Kebijakan
Di sisi lain, penurunan cahaya malam juga terjadi di sejumlah negara. Penurunan drastis umumnya disebabkan oleh bencana alam, gangguan jaringan listrik, dan konflik bersenjata, seperti di Lebanon, Ukraina, Yaman, dan Afghanistan.
Sebagai contoh, penurunan signifikan di Ukraina terjadi sejak eskalasi konflik pada Februari 2022. Kondisi serupa juga terlihat di beberapa wilayah Timur Tengah selama periode konflik.
Selain itu, penurunan cahaya juga terjadi secara bertahap di negara-negara yang menerapkan kebijakan efisiensi energi dan pengurangan polusi cahaya.
Eropa mencatat penurunan bersih sekitar 4%, didorong oleh penggunaan lampu LED yang lebih efisien serta kebijakan penghematan energi.
Prancis bahkan disebut sebagai salah satu pelopor dalam kebijakan konservasi langit gelap (dark-sky conservation).
Profesor dari Ruhr University Bochum Christopher Kyba menyoroti kebijakan Prancis yang mematikan lampu jalan pada malam hari saat aktivitas publik menurun sebagai langkah yang signifikan.
Baca Juga: Oxford: Pemulihan Pasar Global Butuh Waktu Meski Ada Gencatan Senjata AS-Iran
Dampak Lingkungan
Meski pencahayaan malam mencerminkan kemajuan ekonomi dan akses energi, peningkatan ini juga membawa dampak negatif.
Polusi cahaya diketahui dapat mengganggu ekosistem nokturnal, pola migrasi hewan, serta ritme sirkadian manusia.
Selain itu, langit malam yang semakin terang juga membuat bintang-bintang semakin sulit terlihat dari permukaan Bumi.













