kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.880.000   90.000   3,23%
  • USD/IDR 16.852   -57,00   -0,34%
  • IDX 8.881   -111,42   -1,24%
  • KOMPAS100 1.228   -11,21   -0,90%
  • LQ45 869   -6,21   -0,71%
  • ISSI 326   -3,82   -1,16%
  • IDX30 445   -3,51   -0,78%
  • IDXHIDIV20 525   -2,80   -0,53%
  • IDX80 136   -1,27   -0,92%
  • IDXV30 145   -1,01   -0,69%
  • IDXQ30 143   -0,52   -0,36%

Dolar AS Menuju Pelemahan Mingguan Terburuk (23/1), Yen Tertekan Jelang Keputusan BoJ


Jumat, 23 Januari 2026 / 08:47 WIB
Dolar AS Menuju Pelemahan Mingguan Terburuk (23/1), Yen Tertekan Jelang Keputusan BoJ
ILUSTRASI. Dolar AS (Reuters/Marcos Brindicci)


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - Dolar Amerika Serikat (AS) bersiap mencatat penurunan mingguan terdalam dalam setahun terakhir, setelah manuver Presiden AS Donald Trump terkait Greenland dan perubahan sikapnya yang mendadak mengguncang kepercayaan investor.

Di sisi lain, yen Jepang masih berada di bawah tekanan menjelang keputusan kebijakan Bank of Japan (BoJ) yang akan diumumkan pada Jumat (23/1/2026).

Ketidakpastian geopolitik membebani sentimen pasar sepanjang pekan ini.

Baca Juga: Ringgit Malaysia Perkasa atas Dolar AS, Ini yang Jadi Pendongkraknya

Trump sebelumnya menyatakan telah mengamankan akses AS ke Greenland melalui kesepakatan dengan NATO, bersamaan dengan langkah mundur dari ancaman tarif terhadap Eropa serta pernyataan bahwa AS tidak akan mengambil wilayah otonom Denmark itu dengan kekuatan militer.

Aset-aset AS menjadi sasaran tekanan jual di awal pekan, dengan dolar menanggung dampak terbesar di pasar valuta asing.

Melansir Reuters, Indeks dolar, yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama, berada di level 98,329 setelah turun 0,58% pada sesi sebelumnya.

Secara mingguan, indeks ini berada di jalur pelemahan sekitar 1%, menjadi performa terburuk sejak Januari 2025.

Sementara itu, euro stabil di US$1,1751, mendekati level tertinggi tiga pekan yang sempat dicapai awal minggu ini. Pound sterling juga bertahan di US$1,3496, tak jauh dari level tertinggi dua pekan.

Ahli strategi valuta asing dan suku bunga global Macquarie Group Thierry Wizman menilai, kesepakatan Greenland memang meredakan risiko tarif dan invasi, namun tidak menyelesaikan persoalan mendasar berupa renggangnya hubungan antar sekutu.

“Ini bukan kondisi yang baik jika ingin mempertahankan status dolar AS sebagai mata uang cadangan global,” ujarnya.

Baca Juga: Kejutan! Manufaktur Jepang Ekspansi Tercepat Sejak Juni 2025, Apa Pemicunya?

Fokus ke BoJ, Yen Masih Rapuh

Perhatian investor kini tertuju pada keputusan Bank of Japan. Bank sentral Jepang secara luas diperkirakan akan mempertahankan suku bunga acuannya setelah menaikkan suku bunga ke level tertinggi dalam 30 tahun pada bulan lalu.

Pasar akan mencermati pernyataan Gubernur BoJ Kazuo Ueda untuk mencari sinyal waktu kenaikan suku bunga berikutnya serta apakah ada nada kebijakan yang lebih hawkish guna menopang yen yang masih lemah.

Yen terus berada di bawah tekanan sejak Sanae Takaichi menjabat sebagai Perdana Menteri Jepang pada Oktober lalu.

Baca Juga: Volvo ES90 Luncurkan 'Selamat', Strategi Unik di Tengah Banjir EV Baru

Mata uang ini telah melemah lebih dari 4% akibat kekhawatiran fiskal dan kini bergerak di kisaran 158,50 per dolar AS, mendekati level yang memicu peringatan verbal dan potensi intervensi pemerintah Jepang.

Yen juga berada di jalur penurunan mingguan keempat berturut-turut, pola yang terakhir terjadi pada September.

Magdalene Teo, Head of Fixed Income Research Asia di Julius Baer mengatakan, yen terus dijual karena pasar menilai kebijakan moneter BoJ masih terlalu longgar di tengah meningkatnya risiko inflasi.

“Untuk penguatan yen yang berkelanjutan, dibutuhkan investasi domestik yang signifikan serta keyakinan bahwa kebijakan pemerintahan Takaichi akan mendorong pertumbuhan dan kesehatan fiskal, bukan sebaliknya,” ujarnya.

Data yang dirilis Jumat menunjukkan inflasi inti Jepang pada Desember melambat, namun tetap berada di atas target 2% BoJ, sehingga ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga lanjutan masih terjaga.

Baca Juga: Harga Emas Diproyeksi US$ 5.400: Investor Siap Raup Cuan Gila?

Gejolak di pasar obligasi Jepang pekan ini juga mencerminkan kegelisahan investor terhadap kondisi fiskal, terutama setelah Takaichi menyerukan pemilu cepat dan menjanjikan pemangkasan pajak, yang mendorong imbal hasil obligasi pemerintah Jepang (JGB) ke level tertinggi sepanjang sejarah.

Manajer portofolio Brandywine Global, Carol Lye, menilai otoritas Jepang perlu menyampaikan rencana yang lebih konkret.

“Jika tidak ada tindakan nyata, pasar tidak akan tenang. Volatilitas JGB masih berpeluang berlanjut di seluruh tenor,” katanya.

Mata Uang Lain

Di pasar valuta lainnya, dolar Australia stabil di US$0,6841, sementara dolar Selandia Baru melemah 0,25% ke US$0,5914.

Bitcoin naik 0,37% ke US$89.518,13, menjauh dari level terendah pekan ini.

Selanjutnya: Anuitas Bukan Cuma Cicilan: Pahami 4 Jenisnya yang Bisa Untungkan Keuanganmu

Menarik Dibaca: Anuitas Bukan Cuma Cicilan: Pahami 4 Jenisnya yang Bisa Untungkan Keuanganmu




TERBARU
Kontan Academy
SPT Tahunan PPh Coretax: Mitigasi, Tips dan Kertas Kerja Investing From Zero

[X]
×