Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Dolar Amerika Serikat (AS) bergerak stabil pada perdagangan Selasa (14/7/2026) menjelang rilis data inflasi AS yang menjadi perhatian utama investor.
Di saat yang sama, yen Jepang masih berada di bawah tekanan meski sempat menguat tipis, seiring meningkatnya kewaspadaan pasar terhadap potensi intervensi pemerintah Jepang.
Baca Juga: Inflasi AS Melambat, Peluang Kenaikan Suku Bunga Masih Terbuka
Melansir Reuters, Indeks dolar AS, yang mengukur kinerja mata uang Negeri Paman Sam terhadap sekeranjang mata uang utama termasuk yen dan euro, turun tipis 0,09% ke level 101,18.
Fokus pasar kini tertuju pada rilis Indeks Harga Konsumen (CPI) AS untuk Juni yang dijadwalkan pada Selasa, disusul data Indeks Harga Produsen (PPI) pada Rabu.
Investor juga akan mencermati kesaksian semesteran pertama Ketua Federal Reserve Kevin Warsh di hadapan Kongres AS.
Konflik Timur Tengah Angkat Harga Minyak
Ketegangan geopolitik kembali meningkat setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan Washington akan memberlakukan kembali blokade laut terhadap Iran dan memastikan Selat Hormuz tetap terbuka dengan mengenakan biaya kepada kapal yang melintas.
Baca Juga: Pengiriman Smartphone China Turun 4,3%, Huawei dan Apple Justru Naik
Pernyataan itu muncul setelah AS dan Iran kembali saling melancarkan serangan rudal dan drone sepanjang akhir pekan.
Iran juga mengklaim kembali menutup Selat Hormuz, jalur pelayaran penting bagi perdagangan energi dunia.
Situasi tersebut mendorong harga minyak melonjak hampir 3% pada Selasa hingga mencapai level tertinggi dalam empat pekan, seiring meningkatnya kekhawatiran terhadap kelancaran pasokan energi global.
Di pasar valuta asing, euro naik 0,1% menjadi US$ 1,1392, sedangkan pound sterling menguat 0,09% ke US$ 1,3358.
Peluang Kenaikan Suku Bunga The Fed Menguat
Gubernur Federal Reserve Christopher Waller mengatakan, bank sentral AS mungkin perlu menaikkan suku bunga dalam waktu dekat apabila data menunjukkan inflasi masih bertahan jauh di atas target 2%.
Baca Juga: Kospi Lanjut Melemah ke Level Terendah dalam 11 Minggu, Saham SK Hynix Terus Tekanan
Kepala Strategi Valuta Asing National Australia Bank, Ray Attrill mengatakan, inflasi inti (core CPI) sebesar 0,3% atau lebih pada Juni berpotensi menunjukkan bahwa indikator inflasi pilihan The Fed, yakni core PCE, juga akan meningkat pada level yang sama.
"Hal itu dapat menjadi pemicu bagi The Fed untuk menaikkan suku bunga secepatnya pada pertemuan Juli," ujar Attrill.
Berdasarkan median proyeksi ekonom, inflasi inti AS pada Juni diperkirakan naik 0,2% secara bulanan.
Data LSEG menunjukkan kontrak berjangka suku bunga The Fed kini mencerminkan ekspektasi kenaikan suku bunga sekitar 43 basis poin sepanjang tahun ini.
Yen Masih Dekat Level Terlemah 40 Tahun
Yen Jepang menguat tipis 0,1% menjadi 162,30 per dolar AS, namun masih berada di dekat level terlemah dalam sekitar 40 tahun sehingga pelaku pasar tetap mewaspadai kemungkinan intervensi pemerintah Jepang.
Baca Juga: Impor Minyak China Anjlok 41%, Terendah dalam Hampir Satu Dekade
Yen sempat menguat setelah Menteri Keuangan Jepang Satsuki Katayama menyatakan, pemerintah dapat mempertimbangkan penyesuaian alokasi aset dana pensiun negara apabila kondisi pengelolaan investasi berubah secara signifikan.
Secara terpisah, Menteri Kesehatan Jepang Kenichiro Ueno mengatakan pemerintah akan mengkaji kemungkinan peninjauan alokasi aset Government Pension Investment Fund (GPIF) bila diperlukan, meski ia menilai belum ada urgensi untuk melakukan perubahan dalam waktu dekat.
Sebelumnya, yen dan obligasi Jepang sempat menguat pada Jumat lalu setelah Katayama menyatakan pemerintah akan mendorong dana pensiun, termasuk GPIF, untuk meningkatkan investasi pada aset keuangan domestik.
Kepala Strategi Mata Uang Mizuho Securities Masafumi Yamamoto menilai, penguatan yen akan berlanjut hanya jika pemerintah segera memutuskan perubahan alokasi aset GPIF dengan porsi yang cukup besar.
"Tekanan beli terhadap yen akibat perubahan alokasi aset GPIF hanya akan berkelanjutan jika keputusan diambil dalam waktu dekat dan porsi investasi pada saham serta obligasi domestik ditingkatkan setidaknya masing-masing 5 poin persentase," ujarnya.
Baca Juga: Statistik Inggris di Semifinal Piala Dunia, Bisakah Tembus Final Lagi?
Ia menambahkan, apabila perubahan alokasi hanya bersifat terbatas atau proses pengambilan keputusan berlangsung lama, tambahan penguatan yen kemungkinan tidak akan signifikan.
Sementara itu, dolar Australia naik 0,26% menjadi US$ 0,6934, sedangkan dolar Selandia Baru (kiwi) melonjak 0,75% menjadi US$ 0,5791 karena investor meningkatkan ekspektasi kenaikan suku bunga di negara tersebut.
Di pasar kripto, bitcoin menguat 1,01% menjadi US$ 62.776,09, sementara ether naik 1,29% ke US$ 1.788,44.














