Sumber: Reuters | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
KONTAN.CO.ID - Kekhawatiran meningkat pada Senin (20/4/2026) bahwa gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran mungkin tidak akan bertahan. Kondisi ini terjadi setelah AS mengatakan pihaknya telah menyita sebuah kapal kargo Iran yang mencoba menerobos blokade, sementara Iran bersumpah akan melakukan pembalasan.
Upaya membangun perdamaian yang lebih langgeng di kawasan juga terlihat rapuh, setelah Iran menyatakan tidak akan ikut serta dalam putaran kedua negosiasi yang diharapkan AS dapat dimulai sebelum gencatan senjata berakhir pada Selasa.
Reuters memberitakan, Amerika Serikat tetap memberlakukan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran, sementara Iran sempat mencabut lalu kembali memberlakukan blokade terhadap lalu lintas kapal yang melintasi Selat Hormuz, jalur yang biasanya menangani sekitar seperlima pasokan minyak dunia.
Militer AS pada Minggu mengatakan pihaknya menembaki sebuah kapal kargo berbendera Iran ketika kapal tersebut berlayar menuju Pelabuhan Bandar Abbas di Iran.
“Kami sepenuhnya menguasai kapal mereka, dan sedang melihat apa isi muatannya!” tulis Presiden Donald Trump di media sosial.
Militer Iran mengatakan kapal tersebut sedang melakukan perjalanan dari China.
“Kami memperingatkan bahwa angkatan bersenjata Republik Islam Iran akan segera merespons dan membalas tindakan pembajakan bersenjata oleh militer AS ini,” kata seorang juru bicara militer, menurut media pemerintah.
Baca Juga: Ekspor Magnet Tanah Jarang China Turun 1,6% pada Maret 2026
Harga minyak melonjak dan pasar saham bergejolak karena para pelaku pasar mempertimbangkan kemungkinan bahwa lalu lintas kapal keluar-masuk kawasan Teluk akan tetap berada pada level minimum.
Iran Menolak Perundingan Damai
Media pemerintah Iran melaporkan Teheran telah menolak perundingan damai baru, dengan alasan blokade yang masih berlangsung, retorika ancaman, serta perubahan sikap Washington dan “tuntutan yang berlebihan”.
“Tidak mungkin membatasi ekspor minyak Iran sambil mengharapkan keamanan gratis bagi pihak lain,” tulis Wakil Presiden Pertama Iran Mohammadreza Aref di media sosial.
“Pilihannya jelas: pasar minyak bebas untuk semua, atau risiko biaya besar bagi semua pihak.”
Trump sebelumnya memperingatkan Iran bahwa AS akan menghancurkan “setiap jembatan dan pembangkit listrik” di Iran jika Teheran menolak syarat-syaratnya, melanjutkan pola ancaman yang kerap ia lontarkan belakangan ini.
Iran mengatakan jika Amerika Serikat menyerang infrastruktur sipilnya, maka Iran akan menyerang pembangkit listrik serta fasilitas desalinasi (penyulingan air laut) milik negara-negara Arab Teluk.
Persiapan Pembicaraan yang Bisa Saja Tidak Terjadi
Trump mengatakan para utusannya akan tiba di Islamabad pada Senin malam, sehari sebelum gencatan senjata dua minggu berakhir.
Seorang pejabat Gedung Putih mengatakan kepada Reuters bahwa delegasi AS akan dipimpin oleh Wakil Presiden JD Vance, yang memimpin perundingan damai pertama perang tersebut sepekan lalu, serta mencakup utusan Trump Steve Witkoff dan menantu Trump Jared Kushner.
Namun Trump mengatakan kepada ABC News dan MS Now bahwa Vance tidak akan berangkat.
Pakistan, yang berperan sebagai mediator utama, tampak bersiap untuk pembicaraan tersebut.
Dua pesawat kargo raksasa AS jenis C-17 mendarat di sebuah pangkalan udara pada Minggu sore, membawa peralatan keamanan dan kendaraan sebagai persiapan kedatangan delegasi AS, menurut dua sumber keamanan Pakistan.
Otoritas kota Islamabad menghentikan transportasi umum serta lalu lintas kendaraan berat di dalam kota. Kawat berduri dipasang di sekitar Hotel Serena, lokasi pembicaraan pekan lalu. Pihak hotel juga meminta semua tamu untuk meninggalkan tempat.
Memasuki minggu kedelapan, perang ini telah menciptakan guncangan paling parah terhadap pasokan energi global dalam sejarah, mendorong harga minyak melonjak akibat penutupan de facto Selat Hormuz.
Tonton: Harga Emas Antam Kembali Merosot Hari ini (20 April 2026)
Ribuan orang telah tewas akibat serangan AS-Israel ke Iran serta invasi Israel ke Lebanon yang dilakukan secara paralel sejak perang dimulai pada 28 Februari.
Iran membalas serangan tersebut dengan rudal dan drone terhadap Israel serta negara-negara Arab terdekat yang menjadi lokasi pangkalan militer AS.
Ketua parlemen Iran, Mohammad Baqer Qalibaf, yang memimpin pihak Iran dalam pembicaraan, sebelumnya mengatakan kedua pihak telah mencapai kemajuan, namun masih memiliki perbedaan besar terkait isu nuklir dan Selat Hormuz.
Sekutu-sekutu Eropa, yang berulang kali dikritik Trump karena tidak membantu upaya perangnya, khawatir tim negosiasi Washington mendorong kesepakatan cepat dan dangkal yang masih memerlukan pembicaraan lanjutan yang rumit secara teknis selama berbulan-bulan hingga bertahun-tahun.













