Sumber: Yahoo Finance | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
KONTAN.CO.ID - Sejumlah kesepakatan dagang terbesar yang tercapai sepanjang 2026 sejauh ini justru tidak melibatkan Amerika Serikat (AS). Salah satunya adalah perjanjian dagang baru antara India dan Eropa, yang menjadi kesepakatan terbaru dalam kurun waktu kurang dari satu bulan terakhir tanpa keikutsertaan Washington.
Selain itu, rencana lama Eropa untuk meningkatkan perdagangan dengan blok negara Amerika Selatan juga mulai bergerak maju. Di sisi lain, Kanada dan China mencapai kesepakatan dagang terbatas untuk memangkas tarif kendaraan listrik dan minyak kanola.
Namun, berbagai kesepakatan baru ini sekaligus menyoroti tantangan besar dalam upaya global membangun sistem perdagangan yang tidak bergantung pada Amerika Serikat.
Melansir Yahoo Finance, Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen pada Selasa menyebut pakta Uni Eropa–India sebagai “ibu dari semua kesepakatan dagang”, yang bertujuan membentuk zona perdagangan bebas dengan total populasi sekitar 2 miliar orang.
“Ini baru permulaan,” tulis von der Leyen melalui platform X.
Pandangan serupa disampaikan Seema Shah, Chief Global Strategist Principal Asset Management. Menurutnya, dunia akan semakin terbiasa dengan realitas baru di mana negara-negara membangun aliansi dagang yang lebih beragam.
Baca Juga: 7 Pimpinan Baru Goldman Sachs, Semua dari Divisi Ini? Ada Apa?
“Kita kemungkinan akan melihat semakin banyak aliansi antarnegara, seiring dunia bergerak ke arah sistem ekonomi yang tidak lagi sepenuhnya bergantung pada AS,” ujar Shah dalam wawancara dengan Yahoo Finance.
Namun, dunia perdagangan yang semakin multipolar ini tidak bebas dari hambatan. Kesepakatan Eropa dengan Amerika Latin tertunda akibat proses peninjauan hukum, sementara perjanjian dagang Kanada–China justru memicu reaksi keras dari Presiden AS Donald Trump.
Sepanjang 2025, perhatian pelaku pasar global masih sangat terfokus pada kesepakatan dagang yang berpusat pada AS. Pemerintahan Trump kala itu aktif bernegosiasi dengan banyak negara sekaligus, sering kali disertai ancaman tarif yang diumumkan secara cepat.
Meski pembicaraan dagang yang melibatkan AS masih berlangsung, Perwakilan Dagang AS Jamieson Greer bahkan baru-baru ini hadir di Davos, dan Trump dijadwalkan melakukan kunjungan penting ke China pada April, belakangan Trump justru lebih sering meragukan kesepakatan lama ketimbang mengumumkan perjanjian baru.
Pada Senin malam, Trump menulis di Truth Social bahwa parlemen Korea Selatan “tidak memenuhi komitmen” dalam kesepakatan dagang dengan AS. Ia pun mengancam akan menaikkan tarif balasan dari 15% menjadi 25%.
Baca Juga: Arab Saudi Tegaskan Tak Izinkan Wilayahnya Dipakai untuk Serangan ke Iran
Namun keesokan harinya, sebelum bertolak ke Iowa, Trump meredam ketegangan tersebut. “Kita akan menemukan solusinya,” ujarnya kepada wartawan.
Kesepakatan Eropa–India yang Tak Bisa Diremehkan
Kesepakatan antara Eropa dan India yang diumumkan pekan ini langsung dipandang sebagai sinyal keras bagi Gedung Putih, sekaligus berpotensi membawa dampak besar bagi perdagangan kedua kawasan.
India sepakat membuka pasar otomotifnya bagi mobil-mobil Eropa. Kedua pihak juga setuju menghapus atau memangkas tarif atas lebih dari 95% volume perdagangan mereka. Perdana Menteri India Narendra Modi menyebut perjanjian ini sebagai “kesepakatan perdagangan bebas terbesar dan paling bersejarah” bagi negaranya.
Dalam analisisnya, Capital Economics menilai dampak kesepakatan ini sangat luas dan tidak boleh diremehkan. Ini merupakan perjanjian dagang keempat India dalam beberapa bulan terakhir.
Meski sejumlah komoditas tetap dikecualikan, berbagai sektor, mulai dari tekstil hingga kimia, diperkirakan akan segera merasakan manfaat jika perjanjian ini diberlakukan. Dalam jangka menengah, kesepakatan ini dinilai dapat menjadi fondasi pertumbuhan ekonomi yang lebih cepat.
Sebaliknya, AS saat ini masih mengenakan tarif hingga 50% terhadap banyak produk asal India, seiring negosiasi dagang kedua negara yang mandek.
Tonton: Tak Hanya Soal Independensi, BI Dihadapkan Tekanan Rupiah hingga Arah Suku Bunga
Hambatan di Front Dagang Lain
Upaya penataan ulang perdagangan global juga menghadapi banyak ganjalan. Kesepakatan bersejarah antara Eropa dan blok dagang Amerika Selatan Mercosur, yang telah dinegosiasikan selama puluhan tahun, memang mencatat terobosan awal bulan ini.
Perjanjian tersebut bertujuan menghubungkan Eropa dengan empat negara Amerika Latin dalam zona perdagangan yang mencakup lebih dari 700 juta penduduk. Namun, Parlemen Eropa pekan lalu memutuskan membawa kesepakatan itu ke Mahkamah Eropa, langkah yang berpotensi menunda implementasi selama bertahun-tahun.
Komisi Eropa memperingatkan, penundaan ini bisa mengancam reputasi Eropa sebagai mitra dagang yang andal dan dapat diprediksi.
Kesepakatan Eropa–India juga akan menghadapi proses pemungutan suara serupa dalam beberapa pekan ke depan. Namun Capital Economics menilai peluang ratifikasi lebih besar karena isu sensitif secara politik, seperti pertanian, sengaja dikeluarkan dari perundingan.
Sementara itu, kesepakatan dagang terbatas antara Kanada dan China untuk memangkas tarif kendaraan listrik dan minyak kanola juga menjadi terobosan penting. Meski begitu, AS tetap menjadi mitra dagang terbesar Kanada.
Ancaman keras dari Gedung Putih membuat Perdana Menteri Kanada Mark Carney segera meredam spekulasi. Setelah Trump mengancam tarif hingga 100% jika Kanada memperluas kerja sama dengan China, Carney menegaskan tidak berniat meneken perjanjian dagang bebas yang lebih luas. Ia menyebut kesepakatan terbaru itu hanya bertujuan “memperbaiki sejumlah masalah yang muncul dalam beberapa tahun terakhir”.
Trump sendiri belum memberikan respons langsung terhadap kesepakatan Eropa–India. Namun dalam beberapa bulan terakhir, ia kerap melontarkan ancaman tarif yang semakin sering diabaikan oleh pasar.
Selain Kanada dan Korea Selatan, Trump juga sempat mengancam tarif baru terkait Iran dan Greenland. Namun hingga kini, sebagian besar ancaman tersebut belum direalisasikan. Bahkan ancaman terkait Greenland telah resmi dicabut.
Analisis Bloomberg Economics terhadap 49 ancaman tarif yang dilontarkan Trump sejak memenangkan pemilu menunjukkan, hanya sekitar satu dari empat ancaman yang benar-benar dijalankan.













