Sumber: Telegraph | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
Penilaian intelijen Barat menunjukkan Iran memprioritaskan pembangunan ulang program rudalnya, termasuk mengimpor bahan kimia dari China untuk bahan bakar padat. Banyak rudal selamat karena disimpan di fasilitas bawah tanah yang dibangun dengan bantuan Korea Utara.
Citra satelit juga menunjukkan peluncuran uji coba rudal dari Bandar Antariksa Imam Khomeini.
Setelah kecolongan parah dalam serangan “pemenggalan” tahun lalu yang menewaskan puluhan pejabat tinggi di rumah mereka, perlindungan target bernilai tinggi kini jadi prioritas utama. Para pejabat bergilir tinggal di rumah aman, berganti kendaraan, dan dilarang membawa ponsel.
Meski upaya membasmi mata-mata sudah dilakukan dan banyak eksekusi terjadi, kemungkinan jaringan intelijen Israel masih bertahan. Sejumlah pejabat Israel dan mantan pejabat AS mengakui, Israel memang punya peran dalam kerusuhan. Ini menandakan kemampuan intelijen manusia Israel di Iran belum lenyap.
Iran juga berdiskusi dengan China untuk membeli sistem pertahanan udara jarak jauh HQ-9B, meski belum ada bukti pengiriman.
Dari 21 lokasi rudal yang diserang Israel pada Juni lalu, 16 sudah dibangun ulang, sisanya masih diperbaiki. Rudal dan peluncurnya dikabarkan sudah disiapkan menghadapi kemungkinan serangan mendadak AS.
“Unit rudal bawah tanah sudah siaga tinggi selama berminggu-minggu. Jika Trump ingin menyerang tanpa alasan, semuanya sudah siap,” kata seorang pejabat senior Iran.
Sementara itu, negara-negara Teluk tetap waspada. Bagi mereka, Iran kini tidak lagi menjadi ancaman eksistensial seperti dulu. Itu mengubah perhitungan kawasan: hidup berdampingan secara tidak nyaman dinilai lebih baik daripada perang besar.
Tonton: Harga Emas Dunia Tembus 4.900 Dollar AS, Goldman Sachs: Berpotensi Naik ke 5.400 Dollar AS
Jika Iran membalas sepenuhnya, dampaknya bisa menghancurkan, bukan hanya bagi Israel, tetapi terutama bagi negara-negara tetangga yang rentan terhadap rudal jarak pendek Iran.
“Dalam banyak hal, perang rudal menguntungkan pihak penyerang,” kata analis militer. “Dari 100 rudal, tingkat intersepsi 80 persen tetap menyisakan 20 yang lolos. Bagi negara kecil, margin kesalahannya sangat tipis.”
“Karena itu Israel dan negara Arab Teluk sangat khawatir dengan program rudal Iran. Dari fasilitas desalinasi hingga infrastruktur energi, Teheran bisa menimbulkan kerusakan besar bahkan dengan tingkat kebocoran yang relatif kecil.”













