kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.887.000   7.000   0,24%
  • USD/IDR 16.850   -59,00   -0,35%
  • IDX 8.951   -41,17   -0,46%
  • KOMPAS100 1.235   -4,75   -0,38%
  • LQ45 874   -1,52   -0,17%
  • ISSI 329   -0,59   -0,18%
  • IDX30 449   0,67   0,15%
  • IDXHIDIV20 532   3,66   0,69%
  • IDX80 137   -0,49   -0,35%
  • IDXV30 148   1,36   0,93%
  • IDXQ30 144   0,72   0,50%

Dunia di Ambang Perang Besar: AS Siap Hantam Iran Habis-habisan?


Minggu, 25 Januari 2026 / 07:27 WIB
Dunia di Ambang Perang Besar: AS Siap Hantam Iran Habis-habisan?
ILUSTRASI. Aset militer AS bergerak ke Timur Tengah, memicu kekhawatiran serangan ke Iran. Skenario terburuk perang terbuka siap dimulai. (via REUTERS/LAURENT GILLIERON)


Sumber: Telegraph | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

KONTAN.CO.ID - Para pemimpin ulama Iran mengklaim kemenangan. Milisi Basij yang terkenal brutal sudah kembali bersembunyi. 

Namun, muncul semakin banyak tanda bahwa Donald Trump mungkin masih bersiap menyerang Iran.

The Telegraph melaporkan, aset militer laut AS mulai bergerak ke posisi strategis. Kapal induk USS Abraham Lincoln beserta armada tempurnya, yang berlayar dari Timur Jauh menuju Laut Arab, tiba-tiba “menghilang” dari radar setelah berhenti menyiarkan data pelacakan. Armada kapal induk kedua dilaporkan telah memasuki Laut Mediterania, sementara armada ketiga sedang bergerak menyeberangi Samudra Atlantik ke arah timur.

Persiapan ini tidak hanya terjadi di laut. Data pemantauan penerbangan daring menunjukkan sejumlah besar jet tempur F-15 AS yang biasanya bermarkas di RAF Lakenheath, Suffolk, telah dipindahkan ke Yordania.

Tiga minggu setelah Trump berjanji kepada para demonstran bahwa pasukan AS “siap tempur” dan akan datang menyelamatkan mereka, bantuan yang dijanjikan itu tampaknya akhirnya benar-benar akan datang.

Namun bagi mereka yang mengikuti seruan Trump untuk tetap turun ke jalan dalam pemberontakan paling berdarah sejak berdirinya Republik Islam pada 1979, bantuan itu terasa datang terlambat. Tidak ada lagi demonstran yang bisa diselamatkan. Mereka telah tewas, cacat, dipenjara, atau menyerah dan berdiam di rumah.

Baca Juga: AS Resmi Keluar dari WHO, Organisasi Kesehatan Dunia Angkat Suara

Kelompok pembela HAM memperkirakan ribuan orang tewas dan lebih dari 26.000 ditangkap. Banyak aktivis mengaku merasa dikhianati oleh Trump, yang sebelumnya mendorong mereka untuk “TERUS BERDEMONSTRASI” lewat unggahan huruf kapital di Truth Social.

Iran sendiri menunggu Amerika mengambil langkah pertama sebelum menarik pelatuknya. Setelah perang 12 hari pada Juni lalu, Teheran perlahan membangun kembali persenjataannya. Bahan kimia yang diimpor dari China diyakini bisa digunakan untuk memproduksi hingga 500 rudal balistik.

Trump dikabarkan hampir memerintahkan serangan pekan lalu, namun mundur di detik terakhir. Alasannya, rezim Iran dianggap telah mengindahkan peringatannya dengan membatalkan rencana menggantung ratusan tahanan yang ditangkap saat kerusuhan.

Namun para diplomat dan analis menilai keputusan itu lebih mungkin dipengaruhi tekanan dari negara-negara Teluk yang khawatir akan serangan balasan rudal Iran ke pangkalan AS di wilayah mereka, serta dari Israel, yang menilai sistem pertahanannya belum cukup kuat untuk menahan serangan Iran berskala besar.

Banyak pihak sempat mengira peluang aksi militer sudah tertutup, apalagi setelah Trump mengalihkan perhatian ke isu Greenland. Tetapi dalam beberapa hari terakhir, menurut Wall Street Journal, ia kembali menekan para pembantunya untuk menyodorkan opsi yang bisa berdampak “menentukan” bagi Iran.

Baca Juga: Desainer Hermès Mundur Setelah 37 Tahun, Tutup dengan Peragaan Busana Pria Terakhir

Apa arti “menentukan” itu masih belum jelas. Opsinya disebut mulai dari serangan terbatas ke fasilitas Garda Revolusi Iran hingga kampanye militer berkepanjangan untuk melumpuhkan rezim.

Bisa jadi Trump hanya menggertak, yakni dengan memamerkan kekuatan untuk memaksa Teheran menghentikan program nuklir dan rudalnya. Namun ada alasan kuat untuk percaya bahwa ia serius. Menjatuhkan rezim Iran, atau memaksa Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei mundur, akan jauh lebih besar dampaknya dibandingkan bahkan penggulingan Nicolás Maduro di Venezuela.

Trump juga mungkin khawatir, jika tidak bertindak setelah melontarkan ancaman terbuka, kredibilitasnya akan runtuh. Kegagalan Barack Obama menegakkan “garis merah” soal senjata kimia Suriah pada 2013 kerap ia jadikan contoh buruk.

“Trump takut jika ia tidak berbuat apa-apa, ia akan dicap lemah,” kata seorang diplomat Barat. “Itu sesuatu yang ingin ia hindari.”

Sebagian pihak lain berpendapat, keraguan Trump lebih disebabkan realitas militer ketimbang politik. Gregory Brew, pakar Iran di Eurasia Group, mengatakan AS memang punya daya serang besar di kawasan, tetapi awalnya kekurangan sistem pertahanan untuk melindungi pangkalan regional dan Israel dari serangan balasan.

Perang 12 hari Israel–Iran pada Juni memang melemahkan, tapi tidak menghapus kemampuan rudal Iran. Rudal jarak menengah terkena dampak, namun persenjataan rudal balistik jarak pendek, yang paling efektif untuk menyerang target AS dan negara Teluk, sebagian besar masih utuh.

Baca Juga: Trump Ancam Kanada dengan Tarif 100% Jika Lanjutkan Kesepakatan Dagang dengan China

Kini celah itu mulai ditutup. Sistem pertahanan udara Patriot dan THAAD dilaporkan telah dikerahkan di pangkalan AS Al Udeid di Qatar dan lokasi lain. Jika Israel menilai pertahanannya sudah cukup kuat, dukungan terhadap serangan lanjutan untuk melemahkan kekuatan rudal Iran bisa kembali muncul.

“AS jelas sedang bersiap, baik untuk menggunakan kekuatan maupun menahan serangan balasan Iran,” ujar Brew. “Kemungkinan itu nyata. Pertanyaannya tinggal: apa tujuan akhirnya?”

Setiap aksi militer sarat risiko. Bahkan jika pengeboman memicu kembali demonstrasi, sebuah asumsi besar mengingat represi brutal yang sudah terjadi, kekuatan udara saja jarang mampu menjatuhkan rezim.

Di Libya, perlu berbulan-bulan serangan udara NATO yang dikombinasikan dengan gerak maju pemberontak untuk menjatuhkan Muammar Gaddafi. Iran tidak memiliki pemberontak seperti itu. Dan tidak seperti Libya, Iran masih mampu menyerang jauh melampaui wilayahnya.

Kalkulasi rezim telah berubah. Setelah kehilangan legitimasi dan gagal merangkul rakyatnya, mereka kini bertahan dengan kekerasan brutal dan keganasan itu bisa diarahkan keluar negeri.

Pada Juni tahun lalu, meski dilemahkan oleh hancurnya jaringan proksi, Iran memilih membatasi serangan rudalnya dan menghindari negara Teluk, kecuali serangan simbolis ke Al Udeid. Kali ini, mungkin tidak ada lagi alasan untuk menahan diri.

Meski mengalami kemunduran, Iran tetap memiliki kekuatan rudal yang menggentarkan. Dari ratusan rudal yang ditembakkan ke Israel pada Juni, puluhan berhasil menembus pertahanan udara dan menewaskan warga sipil. Bahkan tingkat kebocoran kecil, kata analis militer, bisa berdampak besar.

Baca Juga: Singapura Investasi US$ 778,8 Juta untuk Riset AI

Penilaian intelijen Barat menunjukkan Iran memprioritaskan pembangunan ulang program rudalnya, termasuk mengimpor bahan kimia dari China untuk bahan bakar padat. Banyak rudal selamat karena disimpan di fasilitas bawah tanah yang dibangun dengan bantuan Korea Utara.

Citra satelit juga menunjukkan peluncuran uji coba rudal dari Bandar Antariksa Imam Khomeini.

Setelah kecolongan parah dalam serangan “pemenggalan” tahun lalu yang menewaskan puluhan pejabat tinggi di rumah mereka, perlindungan target bernilai tinggi kini jadi prioritas utama. Para pejabat bergilir tinggal di rumah aman, berganti kendaraan, dan dilarang membawa ponsel.

Meski upaya membasmi mata-mata sudah dilakukan dan banyak eksekusi terjadi, kemungkinan jaringan intelijen Israel masih bertahan. Sejumlah pejabat Israel dan mantan pejabat AS mengakui, Israel memang punya peran dalam kerusuhan. Ini menandakan kemampuan intelijen manusia Israel di Iran belum lenyap.

Iran juga berdiskusi dengan China untuk membeli sistem pertahanan udara jarak jauh HQ-9B, meski belum ada bukti pengiriman.

Dari 21 lokasi rudal yang diserang Israel pada Juni lalu, 16 sudah dibangun ulang, sisanya masih diperbaiki. Rudal dan peluncurnya dikabarkan sudah disiapkan menghadapi kemungkinan serangan mendadak AS.

“Unit rudal bawah tanah sudah siaga tinggi selama berminggu-minggu. Jika Trump ingin menyerang tanpa alasan, semuanya sudah siap,” kata seorang pejabat senior Iran.

Sementara itu, negara-negara Teluk tetap waspada. Bagi mereka, Iran kini tidak lagi menjadi ancaman eksistensial seperti dulu. Itu mengubah perhitungan kawasan: hidup berdampingan secara tidak nyaman dinilai lebih baik daripada perang besar.

Tonton: Harga Emas Dunia Tembus 4.900 Dollar AS, Goldman Sachs: Berpotensi Naik ke 5.400 Dollar AS

Jika Iran membalas sepenuhnya, dampaknya bisa menghancurkan, bukan hanya bagi Israel, tetapi terutama bagi negara-negara tetangga yang rentan terhadap rudal jarak pendek Iran.

“Dalam banyak hal, perang rudal menguntungkan pihak penyerang,” kata analis militer. “Dari 100 rudal, tingkat intersepsi 80 persen tetap menyisakan 20 yang lolos. Bagi negara kecil, margin kesalahannya sangat tipis.”

“Karena itu Israel dan negara Arab Teluk sangat khawatir dengan program rudal Iran. Dari fasilitas desalinasi hingga infrastruktur energi, Teheran bisa menimbulkan kerusakan besar bahkan dengan tingkat kebocoran yang relatif kecil.”

Selanjutnya: Menu MBG Buah Kecapi Dihujat: Ternyata Kecapi Sumber Gizi Penting Balita & Anak

Menarik Dibaca: Keamanan Instagram: Wajib Tahu 5 Cara Mudah Agar Akun Tak Dibobol




TERBARU
Kontan Academy
SPT Tahunan PPh Coretax: Mitigasi, Tips dan Kertas Kerja Investing From Zero

[X]
×