Sumber: Telegraph | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
Bisa jadi Trump hanya menggertak, yakni dengan memamerkan kekuatan untuk memaksa Teheran menghentikan program nuklir dan rudalnya. Namun ada alasan kuat untuk percaya bahwa ia serius. Menjatuhkan rezim Iran, atau memaksa Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei mundur, akan jauh lebih besar dampaknya dibandingkan bahkan penggulingan Nicolás Maduro di Venezuela.
Trump juga mungkin khawatir, jika tidak bertindak setelah melontarkan ancaman terbuka, kredibilitasnya akan runtuh. Kegagalan Barack Obama menegakkan “garis merah” soal senjata kimia Suriah pada 2013 kerap ia jadikan contoh buruk.
“Trump takut jika ia tidak berbuat apa-apa, ia akan dicap lemah,” kata seorang diplomat Barat. “Itu sesuatu yang ingin ia hindari.”
Sebagian pihak lain berpendapat, keraguan Trump lebih disebabkan realitas militer ketimbang politik. Gregory Brew, pakar Iran di Eurasia Group, mengatakan AS memang punya daya serang besar di kawasan, tetapi awalnya kekurangan sistem pertahanan untuk melindungi pangkalan regional dan Israel dari serangan balasan.
Perang 12 hari Israel–Iran pada Juni memang melemahkan, tapi tidak menghapus kemampuan rudal Iran. Rudal jarak menengah terkena dampak, namun persenjataan rudal balistik jarak pendek, yang paling efektif untuk menyerang target AS dan negara Teluk, sebagian besar masih utuh.
Baca Juga: Trump Ancam Kanada dengan Tarif 100% Jika Lanjutkan Kesepakatan Dagang dengan China
Kini celah itu mulai ditutup. Sistem pertahanan udara Patriot dan THAAD dilaporkan telah dikerahkan di pangkalan AS Al Udeid di Qatar dan lokasi lain. Jika Israel menilai pertahanannya sudah cukup kuat, dukungan terhadap serangan lanjutan untuk melemahkan kekuatan rudal Iran bisa kembali muncul.
“AS jelas sedang bersiap, baik untuk menggunakan kekuatan maupun menahan serangan balasan Iran,” ujar Brew. “Kemungkinan itu nyata. Pertanyaannya tinggal: apa tujuan akhirnya?”
Setiap aksi militer sarat risiko. Bahkan jika pengeboman memicu kembali demonstrasi, sebuah asumsi besar mengingat represi brutal yang sudah terjadi, kekuatan udara saja jarang mampu menjatuhkan rezim.
Di Libya, perlu berbulan-bulan serangan udara NATO yang dikombinasikan dengan gerak maju pemberontak untuk menjatuhkan Muammar Gaddafi. Iran tidak memiliki pemberontak seperti itu. Dan tidak seperti Libya, Iran masih mampu menyerang jauh melampaui wilayahnya.
Kalkulasi rezim telah berubah. Setelah kehilangan legitimasi dan gagal merangkul rakyatnya, mereka kini bertahan dengan kekerasan brutal dan keganasan itu bisa diarahkan keluar negeri.
Pada Juni tahun lalu, meski dilemahkan oleh hancurnya jaringan proksi, Iran memilih membatasi serangan rudalnya dan menghindari negara Teluk, kecuali serangan simbolis ke Al Udeid. Kali ini, mungkin tidak ada lagi alasan untuk menahan diri.
Meski mengalami kemunduran, Iran tetap memiliki kekuatan rudal yang menggentarkan. Dari ratusan rudal yang ditembakkan ke Israel pada Juni, puluhan berhasil menembus pertahanan udara dan menewaskan warga sipil. Bahkan tingkat kebocoran kecil, kata analis militer, bisa berdampak besar.
Baca Juga: Singapura Investasi US$ 778,8 Juta untuk Riset AI













