kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 1.986.000   17.000   0,86%
  • USD/IDR 16.835   40,00   0,24%
  • IDX 6.679   65,44   0,99%
  • KOMPAS100 965   12,40   1,30%
  • LQ45 750   8,15   1,10%
  • ISSI 212   1,80   0,86%
  • IDX30 390   4,00   1,04%
  • IDXHIDIV20 468   2,84   0,61%
  • IDX80 109   1,41   1,31%
  • IDXV30 115   1,81   1,60%
  • IDXQ30 128   1,06   0,84%

Efek Perang Tarif, Korporasi Ubah Target


Jumat, 25 April 2025 / 13:53 WIB
Efek Perang Tarif, Korporasi Ubah Target
ILUSTRASI. Kinerja Penjualan: Suasana kantor pusat PT. Unilever Indonesia Tbk (UNVR) di Tangerang Selatan, Kamis (28/7/2022). Unilever Indonesia berhasil mencatatkan penjualan bersih sebesar Rp21,46 triliun di semester pertama tahun ini, naik 6,39 persen ketimbang periode yang sama tahun lalu. UNVR berhasil mencatatkan pertumbuhan laba sebesar 12,5 persen secara year on year (yoy) dengan menjadi Rp3,42 triliun. KONTAN/Baihaki/28/7/2022


Reporter: Avanty Nurdiana | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - LONDON. Banyak perusahaan dari berbagai industri di dunia mulai menaikkan harga, memangkas target keuangan, dan mulai tidak percaya akan kinerja mereka setelah  ketidakpastian ekonomi akibat perang dagang. Kondisi ini karena perusahaan khawatir biaya operasi mereka naik, rantai pasokan terganggu, dan ada kekhawatiran ekonomi global. 

Laporan keuangan kuartal pertama tahun ini memaparkan kondisi ekonomi perusahaan yang penuh dengan ketidakpastian karena kebijakan perdagangan Trump yang berubah-ubah.

Chief Financial Officer Procter & Gamble, Andre Schulten dikutip Reuters mengatakan, perusahaan harus menggunakan semua cara untuk menutupi biaya tambahan akibat tarif yang dikenakan, termasuk dengan menaikkan harga produk seperti popok Pampers.

Baca Juga: Bos Unilever (UNVR) Buka Suara Soal Dampak Tarif Trump Terhadap Kinerja Perusahaan

Target laba dipangkas

Perusahaan besar seperti PepsiCo, Thermo Fisher Scientific, dan American Airlines juga memangkas perkiraan laba mereka tahun ini karena dampak dari perang dagang.

Bahkan, American Airlines tak memberi panduan keuangan di tahun 2025. PepsiCo mengatakan, saat ini tidak seoptimis dulu karena daya beli konsumen yang rendah. Perusahaan lain seperti Nestlé, Unilever dan Chipotle juga mengungkapkan kekhawatiran serupa.

Dalam dua minggu terakhir, hampir 30 perusahaan global mengurangi atau menarik kembali target keuangan mereka, termasuk Masco dan maskapai Delta serta Southwest. Tesla mengatakan akan meninjau kembali proyeksi pertumbuhan mereka dalam tiga bulan. Ini karena kebijakan perdagangan dan penurunan minat pasar pada produk mereka.

Baca Juga: Elon Musk Angkat Kaki dari Pemerintahan Donald Trump, Bagaimana Nasib DOGE?

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memulai gelombang tarif baru pada awal April, yang menyebabkan kekhawatiran besar di kalangan bisnis dan konsumen, serta menyebabkan penurunan tajam di pasar saham. Ia kemudian sempat menunda beberapa tarif hingga Juli, namun tarif tinggi tetap diberlakukan untuk barang dari China, baja, aluminium dan mobil impor. AS mengatakan terbuka mengurangi tarif China jika ada negosiasi, tapi China menolak memulai pembicaraan sebelum semua tarif dibatalkan. 

Di sisi lain, beberapa perusahaan mulai mengubah strategi. Hyundai Motor misalnya memindahkan produksi beberapa mobil dari Meksiko ke AS. Mereka juga mempertimbangkan memindahkan produksi dari Korea ke negara lain. Beberapa produsen obat besar juga akan menambah investasi di AS. Tapi CFO Bristol Myers khawatir jika kebijakan ini akan menghambat inovasi dan akses obat pada para pasien.

Selanjutnya: Promo Es Krim Weekend Terbaru 25-27 April 2025, Dapatkan Diskon Sampai 40%

Menarik Dibaca: Dividen BTPN Rp 52,84 per saham, Cum Date pada Rabu Depan



TERBARU
Kontan Academy
Supply Chain Management on Practical Inventory Management (SCMPIM) Negotiation Mastery

[X]
×