Sumber: Reuters | Editor: Harris Hadinata
KONTAN.CO.ID - MANILA. Filipina bersiap menghadapi berbagai kemungkinan dampak kenaikan harga minyak. Salah satu skenario terburuk yang dikhawatirkan adalah inflasi naik hingga dua digit dan menurunkan pertumbuhan ekonomi tahun ini di bawah target.
Sebelum konflik di Timur Tengah, Filipina memperkirakan inflasi akan meningkat menjadi 3,6% tahun ini dari 1,7% pada 2025, masih dalam target 2%-4%. Sementara pertumbuhan ekonomi ditarget di kisaran 5%-6% dari 4,4% di tahun lalu.
Reuters melaporkan, dalam presentasi kepada Senat, Selasa (24/3/2026), Sekretaris Perencanaan Ekonomi Filipina Arsenio Balisacan menguraikan lima skenario dengan tingkat keparahan yang berbeda, berdasarkan tingkat harga minyak yang berbeda dan durasi harga tersebut bertahan.
Baca Juga: Gejolak Minyak Bikin Investor Asia Borong Saham Energi Terbarukan China
Dalam skenario terburuk, di mana harga minyak mencapai US$ 200 per barel dan harga bertahan pada level tersebut selama enam bulan, inflasi dapat melonjak tajam, mencapai 7,3%-8,6% sepanjang tahun. Di satu titik, inflasi bahkan bisa mencapai setinggi 14,3%.
Dalam skenario tersebut, yang persentase terjadinya menurut Balisacan cukup rendah, pertumbuhan ekonomi dapat berkurang sebesar 1,47 hingga 1,95 poin persentase menjadi 3,5%-4,0%.
"Skenario ini benar-benar agak menakutkan jika terjadi karena dapat membawa kita pada inflasi dua digit yang belum pernah kita alami dalam beberapa tahun terakhir," kata Balisacan.
Baca Juga: Terkuak, Ini Dia Penyebab Trump Batal Serang Infrastruktur Energi Iran
Bahkan dalam skenario yang paling ringan, di mana harga minyak tetap di US$ 100 per barel selama sebulan, inflasi dapat melebihi 4%. Sementara pertumbuhan ekonomi dapat turun kurang dari seperempat poin persentase dari angka dasar pemerintah sebesar 5,5%.
Harga minyak bertahan di atas US$ 100 per barel pada Selasa (24/3/2026). Iran telah mengancam akan membawa harga minyak hingga US$ 200 per barel.
Filipina sangat bergantung pada impor bahan bakar untuk kebutuhan energinya. Menteri Energi Filipina Sharon Garin mengatakan, Selasa (24/3/2026), Filipina memiliki pasokan bahan bakar yang terkendali. Tetapi negara ini juga sedang berupaya untuk mendapatkan 1 juta barel minyak di dalam dan luar Asia Tenggara.
Garin mengatakan Filipina telah mendapat jaminan dari sumber-sumber seperti Korea Selatan dan China mengenai kelanjutan pasokan. Namun, Garin mengatakan dalam sidang Senat yang sama, ketidakpastian akan selalu ada dalam putaran pesanan berikutnya.













