Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Ekspor Jepang naik untuk delapan bulan berturut-turut pada April 2026, melampaui ekspektasi pasar di tengah gangguan pasokan global akibat perang Amerika Serikat-Israel dengan Iran.
Mengutip Reuters, Kamis (21/5/2026), data pemerintah Jepang menunjukkan nilai ekspor naik 14,8% secara tahunan pada April.
Capaian ini lebih tinggi dibanding proyeksi median pasar sebesar 9,3% dan melanjutkan kenaikan revisi 11,5% pada Maret.
Baca Juga: Singtel Raup Laba Lebih Tinggi, Volatilitas Energi dan Mata Uang Jadi Ancaman
Kinerja ekspor tersebut memperkuat sinyal ketahanan ekonomi Jepang setelah sebelumnya data menunjukkan ekonomi negara itu tumbuh 2,1% secara tahunan pada kuartal I-2026, didorong ekspor dan konsumsi domestik yang solid.
Ekspor Jepang ke Amerika Serikat tercatat naik 9,5% dibanding tahun sebelumnya, sedangkan ekspor ke China melonjak 15,5%.
Di sisi lain, impor Jepang tumbuh 9,7%, juga melampaui perkiraan pasar sebesar 8,3%, meskipun impor minyak mentah turun tajam.
Volume pengiriman minyak mentah anjlok 64%, menjadi penurunan terdalam sejak 1980, menurut pejabat Kementerian Keuangan Jepang.
Secara nilai, impor minyak mentah turun 49,9%, penurunan terbesar sejak pandemi Covid-19 pada November 2020.
Baca Juga: Donald Trump Siapkan Aturan Baru Pengawasan AI di Tengah Kekhawatiran Ancaman Siber
Pemerintah Jepang berupaya mendiversifikasi sumber pasokan minyak dengan meningkatkan impor dari luar Timur Tengah, termasuk dari Amerika Serikat.
Namun langkah tersebut belum mampu sepenuhnya mengimbangi dampak konflik di kawasan tersebut.
Meski demikian, Jepang masih mencatat surplus perdagangan sebesar 301,9 miliar yen atau sekitar US$ 1,9 miliar.
Angka ini berbanding terbalik dengan perkiraan pasar yang sebelumnya memproyeksikan defisit sebesar 29,7 miliar yen.
Ekonom senior SMBC Nikko Securities, Koya Miyamae, mengatakan kenaikan harga minyak mentah turut mendorong naiknya harga produk turunan minyak seperti nafta.
Baca Juga: Bursa Asia Naik Kamis (21/5), Ditopang Kinerja Nvidia dan Penundaan Mogok Samsung
“Ke depan, defisit perdagangan kemungkinan akan melebar,” ujarnya.
Penutupan Selat Hormuz akibat konflik Timur Tengah telah mendorong kenaikan biaya energi dan memicu gangguan pasokan minyak serta bahan baku lainnya.
Namun ekspor Jepang masih relatif kuat karena sektor industri domestik memanfaatkan persediaan yang ada dan ditopang cadangan strategis minyak Jepang yang besar.
Analis memperingatkan, jika gangguan jalur pasokan Timur Tengah berlangsung lama, kondisi tersebut dapat membebani impor dan ekspor Jepang karena meningkatkan biaya produksi dan memperlambat permintaan global, terutama pada sektor intensif energi seperti industri kimia.
Sementara itu, data terpisah menunjukkan pesanan mesin inti Jepang turun 9,4% pada Maret dibanding bulan sebelumnya. Penurunan ini lebih dalam dari proyeksi pasar sebesar 8,1% dan menjadi kontraksi pertama dalam dua bulan terakhir.
Baca Juga: Harga Emas Dunia Stabil Kamis (21/5), Harapan Damai Iran Redam Kekhawatiran Inflasi
Survei sektor swasta juga menunjukkan aktivitas bisnis Jepang masih relatif lesu.
Aktivitas manufaktur melambat pada Mei, sementara pertumbuhan sektor jasa terhenti untuk pertama kalinya dalam lebih dari setahun akibat lonjakan biaya terkait konflik Timur Tengah yang menekan kepercayaan pelaku usaha.













