Sumber: AFP | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
KONTAN.CO.ID - Pasar saham global bergerak lesu. Sementara, harga emas dan perak melonjak ke level tertinggi pada Jumat (23/1/2026).
Melansir AFP, lonjakan Harga emas dan perak terjadi seiring meningkatnya ketegangan geopolitik setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump melontarkan peringatan baru terhadap Iran.
Trump sebelumnya sempat meredakan ketegangan dengan Eropa terkait isu Greenland. Namun, ia kembali memicu kekhawatiran pasar setelah menyatakan Amerika Serikat mengirimkan “armada besar” ke arah Iran sebagai langkah antisipasi.
Emas, yang dikenal sebagai aset lindung nilai (safe haven), terus menguat dan kian mendekati rekor baru di kisaran US$ 5.000 per troy ounce. Sementara itu, harga perak juga terus menanjak tajam hingga menembus US$ 102 per ounce, didorong kekhawatiran pasar terhadap langkah Trump berikutnya, baik dalam pernyataan maupun tindakan nyata.
Di sisi lain, nilai tukar dolar AS melemah dan turun ke level terendah dalam empat bulan terakhir terhadap euro.
Sentimen pasar sempat membaik dalam dua hari terakhir setelah Trump menarik ancaman pengenaan tarif terhadap sejumlah negara Eropa. Ancaman tersebut sebelumnya muncul karena penolakan Eropa terhadap rencana Washington mengambil alih wilayah otonom Denmark, Greenland.
Baca Juga: Gara-Gara Tarif, Volkswagen Urung Bangun Pabrik Audi di Amerika
Meski begitu, Trump kembali membuka peluang aksi militer baru terhadap Iran. Ia menyebut opsi tersebut tetap terbuka setelah Amerika Serikat mendukung dan ikut terlibat dalam perang Israel selama 12 hari pada Juni lalu, yang menargetkan program nuklir dan rudal balistik Iran.
Dalam beberapa hari terakhir, potensi aksi militer AS terlihat mereda. Kedua pihak menegaskan masih ingin memberi ruang bagi jalur diplomasi.
Pasar Saham Bergerak Terbatas
Bursa saham Eropa bergerak tanpa arah yang jelas. Frankfurt ditutup tipis di zona hijau, sementara London dan Paris berakhir melemah.
Wall Street menunjukkan pola serupa. Indeks Dow Jones terkoreksi, sementara Nasdaq justru menguat.
Saham Intel anjlok hingga 17% setelah perusahaan semikonduktor tersebut menyampaikan proyeksi kinerja yang di bawah ekspektasi pasar.
Sementara itu, pasar saham Asia justru ditutup menguat.
Baca Juga: Tanggapi Trump, PM Kanada Tegaskan Tidak Membuat Kesepakatan Dagang dengan China
Powell di Bawah Tekanan
Pernyataan keras terbaru Trump terhadap sekutu kembali memicu kekhawatiran perang dagang dan ketidakpastian iklim investasi di Amerika Serikat. Kondisi ini turut menekan nilai dolar sepanjang pekan ini.
Analis menilai belum ada jaminan bahwa hubungan Amerika Serikat dan Eropa akan membaik secara berkelanjutan. Sikap Trump yang kerap mengancam tarif atas berbagai isu dinilai mengguncang kepercayaan pelaku pasar dan mendorong minat terhadap aset aman seperti emas dan perak.
Investor juga bersiap menghadapi rapat Federal Reserve pekan ini, menyusul rilis data ekonomi AS yang relatif sesuai perkiraan. Kekhawatiran pasar meningkat setelah jaksa AS menyoroti Ketua The Fed Jerome Powell, yang memicu isu independensi bank sentral.
The Fed diperkirakan akan menahan suku bunga acuannya, setelah memangkas suku bunga dalam tiga pertemuan sebelumnya. Rapat ini juga berlangsung di tengah spekulasi Trump yang mulai mempertimbangkan kandidat pengganti Powell, mengingat masa jabatannya berakhir pada Mei mendatang.
Tonton: Waspada, AS- Sekutu Kepung Iran, Konflik Timur Tengah Kembali Pecah?
Di Asia, Bank of Japan memutuskan mempertahankan suku bunga acuannya menjelang pemilu dadakan pekan depan, yang berpotensi memengaruhi kebijakan belanja pemerintah. Setelah sempat bergejolak, nilai tukar yen tercatat menguat tipis.
Pekan ini, perhatian pasar juga tertuju pada musim laporan keuangan di Amerika Serikat. Sejumlah raksasa korporasi seperti Apple, Microsoft, Boeing, Tesla, hingga Meta dijadwalkan merilis kinerja keuangan terbarunya.













