Sumber: Reuters | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Gempa bumi berkekuatan 7,4 magnitudo mengguncang wilayah barat Kolombia pada Senin (10/8/2026) dan memicu kehancuran besar di sejumlah kota. Tim penyelamat hingga Selasa masih menyisir timbunan reruntuhan untuk mencari korban yang kemungkinan masih terjebak.
Berdasarkan laporan terpisah dari sejumlah kota terdampak, sedikitnya 254 orang meninggal dunia hingga Selasa pagi. Sebanyak 101 korban dilaporkan tewas di Pereira, kawasan yang menjadi pusat perkebunan kopi, sementara 95 orang lainnya meninggal dunia di Cali, kota terbesar ketiga di Kolombia.
Gempa tersebut disebut sebagai gempa paling mematikan yang melanda Kolombia pada abad ini. Guncangan kuat merusak atau meruntuhkan gedung apartemen, rumah, sekolah hingga pusat kesehatan.
Tim SAR bekerja sepanjang malam hingga Selasa menggunakan crane dan ekskavator. Para penyelamat juga menggunakan tangan kosong, membentuk rantai manusia dan memindahkan ember berisi puing-puing untuk mencari korban yang masih hidup.
Situasi semakin sulit di sejumlah komunitas adat di wilayah Choco yang menghadap Samudra Pasifik dan berada dekat dengan pusat gempa. Banyak wilayah tersebut masih kehilangan listrik dan akses terhadap layanan dasar sehingga menghambat proses evakuasi dan pertolongan.
Baca Juga: Drone Ukraina Serang Terminal Gandum Rusia, Operasional Dihentikan
Ribuan Orang Kehilangan Tempat Tinggal
Gempa membuat ribuan warga kehilangan tempat tinggal. Sejumlah kompleks apartemen runtuh, sementara rumah-rumah yang masih berdiri mengalami retakan parah. Banyak keluarga terpaksa menunggu di luar rumah hingga bangunan dinyatakan aman oleh petugas.
Rosa Gonzalez, pengelola sebuah rumah penginapan di Pereira, menceritakan bagaimana dirinya berhasil menyelamatkan diri bersama suami dan bayi mereka yang berusia 10 bulan.
"Bangunan mulai berderit dan tepat ketika kami berlari keluar, bangunan itu runtuh," kata Gonzalez kepada Reuters sembari mengelus kucingnya yang berhasil diselamatkan pada malam hari.
Delapan orang berhasil keluar hidup-hidup dari bangunan tersebut. Namun, seorang pria lanjut usia masih terjebak di teras dan Gonzalez khawatir pria tersebut termasuk dalam korban meninggal dunia.
Di Pereira, influencer media sosial Jose Gallego baru saja tiba di bandara ketika gempa terjadi. Ia sedang merekam siaran langsung dan mengabadikan guncangan hebat ketika berlindung di bawah meja, sementara sebagian plafon bangunan berjatuhan.
"Ada orang-orang yang terluka, berdarah, berteriak dan berusaha menghubungi keluarga mereka," ujarnya.
Gallego mengatakan dirinya tidak bisa tidur dan memilih berada di ruang terbuka untuk mengantisipasi gempa susulan. Hingga Selasa sore, lebih dari 100 gempa susulan telah tercatat.
"Saya melintasi kota dengan berjalan kaki; butuh waktu dua jam dan pemandangannya sangat menyedihkan," katanya kepada Reuters.
"Rasanya seperti mimpi buruk yang menjadi kenyataan," tambahnya.
Rumah Hancur, Warga Mengungsi
Alberto Machado, 34 tahun, mengatakan gempa terjadi setelah dirinya mengantar anaknya ke sekolah. Rumah keluarganya di Cali hancur akibat guncangan tersebut.
Istri Machado, ibu mertuanya dan dua anak mereka kemudian menghabiskan malam di rumah tetangga karena belum mengetahui langkah selanjutnya.
Sebuah pusat olahraga di Cali juga disiapkan untuk menampung sekitar 60 orang pada malam hari, termasuk 30 lansia yang dievakuasi dari sebuah panti jompo yang mengalami kerusakan.
Shelter anjing dan kucing turut meminta bantuan berupa makanan, obat-obatan dan tenaga sukarelawan.
Baca Juga: Selat Hormuz Terancam Tetap Ditutup, Serangan Kapal Kembali Terjadi
Di sejumlah wilayah Cali, warga memasak makanan di jalan dan berusaha menyelamatkan barang-barang yang masih dapat digunakan dari reruntuhan.
Korban Selamat Disambut Sorak-sorai
Suasana haru terjadi ketika tim penyelamat berhasil menemukan seorang perempuan dalam keadaan hidup di bawah reruntuhan kompleks apartemen Torres del Limonar di Cali.
Warga, relawan, petugas penyelamat dan pejabat setempat berkumpul di sekitar kompleks yang sebelumnya terdiri dari dua menara bertingkat di kawasan yang dipenuhi pepohonan tersebut.
Kerumunan bersorak ketika perempuan itu berhasil dikeluarkan dari reruntuhan dan dibawa menggunakan tandu.
Namun, kondisi korban di Cali terus bertambah. Sekretaris Kesehatan Masyarakat Cali, German Escobar, mengatakan kamar mayat kota telah penuh dan petugas mulai membawa lebih banyak jenazah dari jalan-jalan.
Wali Kota Cali Alejandro Eder menjadi salah satu pejabat yang memberlakukan jam malam dengan penjagaan militer untuk mencegah penjarahan. Rekaman media sosial menunjukkan Eder diteriaki warga ketika mengunjungi salah satu kawasan yang mengalami kerusakan parah.
Wilayah Terpencil Masih Terisolasi
Kondisi paling sulit dilaporkan terjadi di Choco, wilayah yang berada dekat dengan pusat gempa. Sejumlah kota di kawasan tersebut mengatakan belum menerima bantuan pemerintah.
Andres Caicedo, pemimpin komunitas di Sipi, mengatakan warga harus berjuang mendapatkan akses komunikasi. Sipi merupakan komunitas kecil di kawasan hutan yang membutuhkan perjalanan sekitar 11 jam melalui jalur darat dan sungai dari ibu kota Choco.
"Kami harus memanjat pohon untuk mendapatkan sedikit koneksi internet," kata Caicedo kepada Caracol TV.
"Kami memiliki anak-anak dan orang lanjut usia yang masih belum pulih dari keterkejutan ... Kami tidak memiliki pusat kesehatan atau persediaan medis, kami melakukan apa yang kami bisa dengan tangan kami sendiri," terangnya.
Hingga Selasa sore, tiga bandara masih ditutup. Sejumlah wilayah, terutama Choco, juga belum mendapatkan akses terhadap gas, air dan listrik. Beberapa jalan utama masih tidak dapat dilalui.
Federasi Kopi Nasional Kolombia turut turun ke lapangan untuk menilai kerusakan pada perkebunan dan infrastruktur pedesaan. Kepala federasi, German Bahamon, mengatakan pihaknya bekerja bersama keluarga-keluarga terdampak untuk melakukan pendataan kerusakan.
Baca Juga: Indeks Kospi Reli: Ditutup Melonjak Lebih dari 3% Ditopang Saham Pembuat Chip
Pemerintah Janjikan Dukungan Ekonomi
Gempa terjadi hanya beberapa hari setelah pelantikan Presiden baru Kolombia, Abelardo De La Espriella. Presiden kemudian mengunjungi sejumlah wilayah terdampak dan menjanjikan dukungan ekonomi bagi masyarakat yang kehilangan tempat tinggal.
Pemerintah sebelumnya mengumumkan langkah-langkah penghematan segera setelah mengambil alih kekuasaan. Saat ini pemerintah juga tengah mempersiapkan revisi anggaran senilai lebih dari US$180 miliar yang disusun oleh pemerintahan sebelumnya yang berhaluan kiri.
Sementara itu, pemerintah Kolombia belum kembali memberikan angka korban meninggal secara nasional setelah sebelumnya Presiden De La Espriella menyampaikan jumlah korban pada Senin siang.
Sejumlah lembaga pemerintah bahkan disebut telah diperintahkan untuk tidak mengeluarkan angka korban masing-masing. Kondisi tersebut memicu kritik dari sejumlah pengamat sekaligus menimbulkan kebingungan mengenai jumlah korban sebenarnya.
Dengan komunikasi yang masih terganggu di sejumlah wilayah yang paling parah terdampak, pemerintah memperkirakan diperlukan waktu beberapa hari untuk mengetahui secara menyeluruh skala kerusakan dan memastikan jumlah korban meninggal akibat gempa bumi tersebut.













![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_22072614202900.jpg)
