Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Harga minyak mentah dunia berada di jalur mencatat kenaikan mingguan terbesar sejak invasi besar-besaran Rusia ke Ukraina pada Februari 2022, meskipun sempat melemah tipis pada perdagangan Jumat (6/3/2026).
Setelah Washington memberikan pengecualian untuk pembelian minyak Rusia guna meredakan keterbatasan pasokan.
Melansir Reuters, minyak mentah Brent melonjak sekitar 17,2% sepanjang pekan ini, sementara West Texas Intermediate (WTI) melesat sekitar 20%.
Baca Juga: Iran Serang Dubai, Orang-Orang Kaya Asia Pindahkan Dananya dari Uni Emirat Arab
Pada pukul 07.38 GMT, harga Brent turun 53 sen atau 0,6% menjadi US$84,88 per barel, sedangkan WTI melemah 61 sen atau 0,8% ke level US$60,40 per barel.
Reli tajam harga minyak dipicu serangan militer oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir pekan lalu.
Sebagai respons, Iran menghentikan lalu lintas kapal tanker yang melintasi Selat Hormuz, jalur strategis yang menangani sekitar seperlima pasokan minyak harian dunia.
Konflik yang kemudian meluas ke berbagai wilayah penghasil energi utama di Timur Tengah juga memicu gangguan produksi minyak serta penutupan sejumlah kilang dan fasilitas gas alam cair (LNG).
“Setiap hari aktivitas di Hormuz terhenti, dampaknya besar bagi pasar minyak, baik dari sisi penyimpanan sekitar 20 juta barel per hari maupun aliran pasokan ke pasar global. Hal ini bisa mendorong harga energi dunia lebih tinggi,” kata Priyanka Sachdeva, analis pasar senior di Phillip Nova.
Baca Juga: Pasukan Pakistan dan Afghanistan Bentrok, PBB: 100.000 Orang Mengungsi Akibat Perang
Seorang pejabat Gedung Putih mengatakan Departemen Keuangan AS tengah menyiapkan langkah-langkah untuk menekan lonjakan harga energi akibat konflik Iran.
Wacana kebijakan tersebut sempat membuat harga minyak turun lebih dari 1% pada awal perdagangan Jumat.
Namun penurunan harga terbatas setelah laporan Bloomberg menyebut pemerintahan Donald Trump untuk sementara tidak akan menggunakan Departemen Keuangan untuk melakukan perdagangan kontrak berjangka minyak.
Di sisi lain, Departemen Keuangan AS pada Kamis memberikan pengecualian bagi perusahaan untuk membeli minyak Rusia yang dikenai sanksi dan saat ini tersimpan di kapal tanker, guna meredakan keterbatasan pasokan yang membuat sejumlah kilang di Asia mengurangi aktivitas pengolahan bahan bakar.
Pengecualian pertama diberikan kepada kilang di India, yang kemudian membeli jutaan barel minyak mentah Rusia, membalikkan tekanan sebelumnya agar mereka menghentikan pembelian tersebut.
Baca Juga: Rupee Tertekan Konflik Timur Tengah, RBI Gelontorkan US$ 12 Miliar
Data perusahaan pelacakan kapal Kpler menunjukkan sekitar 30 juta barel minyak Rusia saat ini tersedia di kapal-kapal di kawasan Samudra Hindia, Laut Arab, dan Selat Singapura, termasuk yang disimpan di fasilitas penyimpanan terapung.
Meski demikian, kenaikan harga minyak kali ini dinilai masih lebih moderat dibandingkan lonjakan pada 2022 ketika serangan Rusia ke Ukraina mendorong harga minyak menembus US$100 per barel.
“Penting untuk menempatkan pergerakan ini dalam konteks yang tepat. Meski harga minyak melonjak hampir 20% bulan ini, levelnya saat ini hanya sekitar US$3,40 di atas rata-rata empat tahun terakhir,” kata analis IG, Tony Sycamore













