Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Harga minyak dunia bergerak menguat pada perdagangan hari Senin (29/6/2026) ini. Kenaikan dipicu oleh aksi saling serang yang kembali terjadi antara Amerika Serikat (AS) dan Iran selama beberapa hari terakhir.
Insiden tersebut menegaskan betapa rapuhnya kesepakatan damai interim kedua belah pihak, sekaligus kembali memperlambat jalur pengiriman energi di Selat Hormuz.
Baca Juga: Jepang Bidik Pertumbuhan Ekonomi Riil di Atas 1%, Siapkan Investasi Jumbo hingga 2040
Melansir Reuters, kontrak berjangka minyak mentah Brent naik 58 sen atau 0,8% ke level US$ 72,57 per barel pada pukul 02.07 GMT.
Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS bertengger di posisi US$ 70,11 per barel, naik 88 sen atau 1,3%.
"Masih banyak risiko yang membayangi pasar minyak. Meski demikian, para pelaku pasar tampak mulai fokus pada dampak pemulihan arus minyak terhadap keseimbangan pasokan global," ungkap tim analis dari ING dalam catatan risetnya pada hari Senin.
"Sikap puas diri (complacency) ini terbilang janggal dan jelas menyisakan risiko kenaikan harga (upside risk) yang signifikan jika pemulihan pasokan terbukti berjalan lambat."
Baca Juga: Profil Peserta 32 Besar Piala Dunia 2026: Cek yang Terkuat Berdasarkan Ranking FIFA
Fluktuasi Jalur Logistik Selat Hormuz
Sepanjang pekan lalu, harga minyak mentah Brent sebenarnya sempat merosot hingga 10,6%—mencatatkan penurunan mingguan ketiga berturut-turut.
Pelemahan dipicu oleh lonjakan pengiriman minyak mentah melalui Selat Hormuz yang menyentuh level tertinggi sejak ketegangan militer AS-Israel dengan Iran pecah pada akhir Februari lalu.
Namun, lalu lintas kapal tanker kembali tersendat pasca-munculnya serangan susulan terhadap kapal-kapal di selat tersebut sejak hari Kamis, termasuk insiden yang menimpa sebuah kapal tanker minyak yang terafiliasi dengan Qatar.
Peristiwa ini memicu aksi balasan dari AS dan Iran, sekaligus menjadi eskalasi terburuk sejak kedua negara menandatangani kesepakatan damai interim.
Guna meredam gejolak harga minyak lebih lanjut, seorang pejabat AS pada hari Minggu menyatakan bahwa Iran dan AS telah sepakat untuk menghentikan permusuhan di kawasan Teluk dan akan memperbarui pembicaraan terkait sengketa jalur pelayaran Selat Hormuz.
"Pasar kemungkinan besar akan mengevaluasi kembali asusinya mengenai pemulihan cepat pasokan minyak dari Teluk Persia," tulis analis dari ANZ dalam catatannya.
Baca Juga: Bursa Asia Lesu, Harga Minyak Naik Meski AS-Iran Sepakat Hentikan Serangan
Dampak Logistik dan Insiden di Ras Tanura
Raksasa minyak Arab Saudi, Saudi Aramco, dilaporkan telah memulai kembali pemuatan minyak mentah pada hari Jumat di Terminal Ras Tanura yang terletak di sebelah barat Selat Hormuz, setelah sempat lumpuh total selama hampir empat bulan.
Langkah ini diambil seiring upaya para produsen minyak untuk menggenjot output dan ekspor menjelang perundingan lanjutan.
Aktivitas pemuatan di kilang tersebut dilaporkan tetap berjalan meskipun sebuah helikopter milik perusahaan jatuh di kawasan Ras Tanura pada hari Minggu kemarin, yang menewaskan 14 warga negara setempat. Penyebab kecelakaan tersebut hingga kini masih belum diketahui.
Baca Juga: Pasar Global Galau! Gencatan Senjata AS-Iran Belum Mampu Redam Kekhawatiran Investor
"Secara fisik, arus pasokan masih terkendala oleh penumpukan antrean kapal tanker, kerusakan infrastruktur, serta penghentian produksi di beberapa titik. Diperlukan waktu hingga sisa akhir tahun ini sebelum pasokan benar-benar bisa mendekati level sebelum konflik," pungkas analis ANZ.














