Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Pergerakan bursa saham di kawasan Asia cenderung fluktuatif pada perdagangan Senin (29/6/2026) ini.
Kondisi ini terjadi setelah Iran dan Amerika Serikat (AS) sepakat untuk menghentikan sementara aksi saling serang yang sempat membayangi keberlangsungan kesepakatan damai interim kedua negara.
Baca Juga: PBOC Luncurkan Reverse Repo Overnight Perdana, Suntik Likuiditas 300 Miliar Yuan
Di sisi lain, harga minyak mentah bergerak menguat akibat ketidakpastian yang masih membayangi pasar, sementara dolar AS bertahan kokoh mendekati level tertinggi dalam satu tahun terakhir.
Kembalinya jalur diplomasi di Timur Tengah ini menyusul ketegangan selama beberapa hari terakhir akibat aksi saling serang, yang dipicu oleh proyektil Iran yang menghantam kapal kargo di Selat Hormuz pekan lalu.
Kedua belah pihak sempat saling tuduh atas pelanggaran gencatan senjata sementara tersebut.
Di pasar berjangka (futures), indeks S&P 500 dan Nasdaq menguat 0,4% pada awal perdagangan.
Namun, di kawasan Asia, indeks KOSPI Korea Selatan anjlok hampir 2%, sementara indeks Nikkei Jepang melemah 1%. Alhasil, indeks MSCI Asia-Pacific (di luar Jepang) terkoreksi tipis 0,4%.
"Pasar saat ini tampak kehilangan arah," ujar Nick Twidale, Chief Market Strategist di ATFX Global, Sydney.
"Kita mungkin akan mendapat dorongan sentimen positif jika muncul kabar baik lebih lanjut dari Timur Tengah, tetapi untuk saat ini pergerakan pasar tampaknya lebih banyak dipengaruhi oleh arus transaksi harian tanpa adanya pergeseran mayor ke salah satu sisi."
Baca Juga: Bursa Australia Menguat Senin (29/6) Dipicu Saham Tambang, Ketegangan AS-Iran Mereda
Harga Minyak Naik Akibat Kekhawatiran Gencatan Senjata
Kekhawatiran mengenai masa depan kesepakatan damai berhasil mendongkrak harga minyak bumi.
Kontrak berjangka minyak mentah Brent naik 0,85% menjadi US$ 72,6 per barel, sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS menguat lebih dari 1% ke level US$ 70,01 per barel.
Secara umum, harga minyak sebenarnya telah menghapus hampir seluruh keuntungan yang diperoleh selama masa perang, seiring langkah pasar yang dengan cepat mengalkulasi ulang prospek kelancaran pasokan energi.
Kesepakatan damai interim sebanyak 14 poin yang disetujui pada 17 Juni lalu sejatinya dimaksudkan untuk menghentikan pertempuran yang dimulai oleh AS dan Israel sejak 28 Februari.
Langkah ini juga bertujuan untuk membuka kembali Selat Hormuz selagi negosiasi mengenai isu sensitif lainnya seperti program nuklir Iran berjalan.
Meskipun insiden saling serang terakhir memicu kekhawatiran eskalasi, para pelaku pasar secara umum masih mengonfirmasi ekspektasi adanya resolusi damai.
"Pasar memasuki bulan Juli dengan kondisi gencatan senjata yang tidak sepenuhnya dipercayai oleh siapa pun," kata Marc Chandler, Chief Market Strategist di Bannockburn Capital Markets.
Baca Juga: Bukan Main! Korsel Bangun Mega Klaster AI, Nilai Investasi Tembus 1.000 Triliun Won
Sektor Teknologi Masih Dibayangi Aksi Ambil Untung
Selain faktor geopolitik, kekhawatiran investor mengenai valuasi perusahaan terkait kecerdasan buatan (AI) yang dinilai sudah terlalu tinggi (overvalued) setelah reli panjang turut membebani pasar.
BofA Global Research dalam catatan risetnya menyebutkan bahwa saat ini pasar tengah mengalami rotasi taktis, di mana investor mulai beralih dari saham-saham AI berkapitalisasi raksasa (mega-cap) ke segmen saham yang lebih kecil dan siklikal.
Hal ini menandai awal dari penyebaran pasar setelah sebelumnya terjadi konsentrasi yang ekstrem pada sektor teknologi.
Tony Sycamore, analis pasar di IG, menyoroti kembalinya keresahan investor atas besarnya belanja modal (capital expenditure) terkait AI yang digelontorkan oleh perusahaan-perusahaan raksasa.
Muncul ketidakpastian mengenai kapan investasi jumbo tersebut dapat merefleksikan pertumbuhan laba yang mampu menjustifikasi nilai valuasi saham saat ini.
Baca Juga: Harga Emas Meredup Senin (29/6), Pasar Cermati Konflik AS-Iran dan Prospek Suku Bunga
Dolar AS Kokoh, Emas Jatuh
Meredanya harga minyak dalam beberapa waktu terakhir berpotensi mengurangi tekanan inflasi.
Meski begitu, level harga saat ini dinilai masih akan menjaga bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed), tetap berada di bawah tekanan untuk menaikkan suku bunga.
Investor memperkirakan setidaknya akan ada satu kali kenaikan suku bunga pada tahun ini.
Meningkatnya peluang kenaikan suku bunga tersebut sukses menopang keperkasaan dolar AS. Indeks Dolar AS tercatat berada di posisi 101,33, hanya sedikit di bawah level tertinggi satu tahun yang dicapai pekan lalu.
Baca Juga: Messi vs Ronaldo di Piala Dunia 2026: Siapa yang Lebih Unggul di Fase Grup?
Sementara itu, mata uang yen Jepang masih tertahan di level 161,77 per dolar AS. Kekhawatiran akan adanya intervensi lanjutan dari pemerintah Tokyo menjaga mata uang yang rapuh tersebut agar tidak menembus rekor terendah baru dalam 40 tahun terakhir.
Di sisi lain, penguatan dolar AS memberikan tekanan berat bagi pergerakan emas dunia yang melemah 0,4% ke level US$ 4.072 per ons troi.
Logam mulia ini bersiap mencatatkan penurunan sebesar 13% pada kuartal kedua, yang menjadi penurunan kuartalan terbesar sejak tahun 2013.













