Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Harga minyak dunia turun lebih dari 1% pada perdagangan Selasa (2/6/2026), memangkas sebagian kenaikan tajam pada sesi sebelumnya setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyatakan bahwa pembicaraan dengan Iran masih berlangsung.
Pernyataan Trump tersebut muncul di tengah laporan bahwa Teheran telah menghentikan perundingan tidak langsung dengan Washington terkait upaya mengakhiri konflik yang berlangsung di kawasan Timur Tengah.
Baca Juga: Manufaktur Asia Tenggara Kembali Menguat, Ditopang Permintaan Domestik
Berdasarkan data perdagangan terbaru, harga minyak mentah Brent turun US$ 1,53 atau 1,6% menjadi US$ 93,45 per barel.
Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS melemah US$ 1,42 atau 1,5% ke level US$ 90,74 per barel.
Analis UBS Giovanni Staunovo mengatakan, komentar Trump yang mengindikasikan adanya deeskalasi ketegangan menjadi faktor utama yang menekan harga minyak.
"Pesan Presiden Trump di media sosial yang menunjukkan potensi meredanya ketegangan saat ini membebani harga minyak. Meski demikian, arus pengiriman minyak melalui Selat Hormuz masih tetap terbatas," ujarnya.
Sebelumnya pada Senin (1/6/2026), kedua kontrak acuan minyak tersebut sempat melonjak lebih dari 5%, meskipun sepanjang Mei lalu harga minyak telah terkoreksi lebih dari 16% karena harapan tercapainya kesepakatan damai.
Baca Juga: Trump Longgarkan Tarif Impor Alat Industri dan Pertanian AS
Pasar Dibayangi Sinyal yang Bertolak Belakang
Ketidakpastian pasar meningkat setelah muncul sinyal yang saling bertentangan terkait negosiasi AS-Iran.
Dalam wawancara dengan CNBC pada Senin, Trump mengatakan tidak mempermasalahkan jika pembicaraan dengan Iran berakhir.
Namun tak lama kemudian, ia mengunggah pernyataan di media sosial bahwa negosiasi masih berjalan dan bahkan menyebut kepada ABC News bahwa dirinya memperkirakan kesepakatan untuk memperpanjang gencatan senjata serta membuka kembali Selat Hormuz dapat tercapai dalam sepekan ke depan.
Analis KCM Trade Tim Waterer mengatakan, pasar saat ini sangat sensitif terhadap perkembangan negosiasi antara AS dan Iran.
"Pasar fokus pada ada tidaknya kemajuan atau kemunduran dalam negosiasi AS-Iran, nada pernyataan kedua pihak, khususnya ancaman Iran terkait Selat Hormuz, serta pergerakan kapal tanker yang benar-benar terjadi di jalur tersebut," jelasnya.
Menurut Waterer, arah negosiasi akan menentukan apakah premi risiko geopolitik yang saat ini tercermin dalam harga minyak akan bertahan atau mulai berkurang.
Baca Juga: Likuiditas Berlebih, Bank Sentral China Kian Agresif Serap Dana
Selat Hormuz Masih Jadi Perhatian
Meski Lebanon telah mengumumkan gencatan senjata parsial antara Hezbollah dan Israel, yang menjadi sinyal terbatas deeskalasi konflik regional, pasar energi masih mencermati situasi di Selat Hormuz.
Sejak perang dimulai, Iran secara efektif membatasi sebagian besar pelayaran non-Iran keluar masuk Teluk Persia.
Kondisi ini mengganggu sekitar 20% pasokan minyak dan LNG global serta mendorong harga energi melonjak lebih dari 50%.
Seorang eksekutif perusahaan minyak nasional Abu Dhabi bahkan memperingatkan bahwa Agustus 2026 berpotensi menjadi titik balik kenaikan harga minyak yang lebih tajam apabila permintaan meningkat sementara krisis pasokan akibat perang Iran terus berlanjut.
Di sisi lain, ekspor minyak mentah AS mencapai rekor 5,6 juta barel per hari pada Mei, didorong meningkatnya permintaan dari kilang-kilang di Asia dan Eropa yang mencari alternatif pasokan di tengah gangguan pasokan Timur Tengah.
Baca Juga: Kapal Minyak dan LNG Mulai Bergerak di Selat Hormuz, Ini Sinyal yang Ditunggu Pasar
Stok Minyak AS Diperkirakan Turun
Survei awal Reuters menunjukkan persediaan minyak mentah AS diperkirakan turun sekitar 3,6 juta barel pada pekan yang berakhir 29 Mei.
Jika terkonfirmasi, penurunan tersebut akan memperpanjang tren penyusutan stok yang terjadi pada pekan sebelumnya.
Selain minyak mentah, stok bensin dan produk distilat juga diperkirakan mengalami penurunan.
Sementara itu, ketegangan geopolitik global masih berlanjut setelah Rusia melancarkan serangan drone dan rudal ke Kyiv serta sejumlah kota lain di Ukraina pada Selasa dini hari.
Serangan tersebut dilaporkan menewaskan sedikitnya 11 orang dan melukai lebih dari 100 orang.
Militer Ukraina juga mengklaim telah menyerang kilang minyak Ilsky di wilayah Krasnodar, Rusia, yang menyebabkan kebakaran di fasilitas tersebut.













