Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Harga minyak dunia bergerak melemah pada Jumat (27/2/20226) dan berada di jalur penurunan mingguan, seiring Amerika Serikat dan Iran sepakat memperpanjang perundingan nuklir.
Langkah ini meredakan kekhawatiran gangguan pasokan akibat potensi konflik, di tengah ekspektasi kenaikan produksi oleh OPEC+ akhir pekan ini.
Melansir Reuters, kontrak berjangka Brent crude turun 5 sen menjadi US$ 70,70 per barel pada pukul 03.31 GMT. Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) terkoreksi 1 sen ke US$ 65,20 per barel.
Baca Juga: Beda Jauh! Klaim Rudal Iran Trump Tak Sesuai Data Intelijen AS
Secara mingguan, Brent mengarah pada penurunan sekitar 1,8%, sedangkan WTI berpotensi melemah 2,2%, memangkas sebagian kenaikan pekan sebelumnya.
Analis senior Sparta Commodities, June Goh, mengatakan pelaku pasar cenderung bersikap wait and see menjelang akhir pekan. Di satu sisi, tensi AS–Iran masih membayangi.
Di sisi lain, pasar menanti hasil pertemuan OPEC+ pada Minggu (1/3), yang diperkirakan membahas kenaikan produksi.
AS dan Iran menggelar pembicaraan tidak langsung di Jenewa pada Kamis untuk membahas sengketa nuklir yang telah berlangsung lama.
Upaya ini dilakukan guna menghindari eskalasi konflik setelah Presiden AS Donald Trump memerintahkan peningkatan kehadiran militer di kawasan tersebut.
Baca Juga: Simak Prospek Kinerja Emiten Properti Grup Aguan di Tahun 2026
Selama perundingan berlangsung, harga minyak sempat naik lebih dari US$ 1 per barel setelah laporan media menyebut pembahasan menemui jalan buntu terkait tuntutan AS agar Iran menghentikan sepenuhnya pengayaan uranium dan menyerahkan seluruh stok uranium yang diperkaya hingga 60%.
Namun harga kembali melemah setelah mediator Oman menyatakan kedua pihak mencatat kemajuan.
Menteri Luar Negeri Oman Sayyid Badr Albusaidi mengatakan, perundingan teknis lanjutan dijadwalkan berlangsung pekan depan di Wina.
Analis ANZ, Daniel Hynes, menilai perkembangan ini memang meredakan kekhawatiran aksi militer dalam waktu dekat.
Namun, waktu menuju tenggat 16 Maret yang ditetapkan Trump relatif singkat untuk mencapai kesepakatan komprehensif.
Sementara itu, sumber Reuters menyebut Arab Saudi tengah meningkatkan produksi dan ekspor minyak sebagai langkah antisipasi jika terjadi gangguan pasokan akibat kemungkinan serangan terbatas terhadap Iran.
Baca Juga: Serangan Israel Tewaskan 8 Orang di Gaza di Tengah Gencatan Senjata
Di sisi lain, kelompok produsen OPEC+ diperkirakan akan mempertimbangkan kenaikan produksi sebesar 137.000 barel per hari untuk April dalam pertemuan 1 Maret, setelah sebelumnya menangguhkan peningkatan output pada kuartal pertama tahun ini.
Kombinasi faktor geopolitik dan potensi tambahan pasokan tersebut membuat harga minyak bergerak fluktuatif dan cenderung melemah menjelang akhir pekan.













![[Intensive Workshop] Excel for Business Reporting](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_28012616011400.jpg)