Sumber: Reuters | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Harga minyak dunia turun pada Jumat (17/4/2026) seiring meningkatnya harapan investor bahwa konflik di Timur Tengah mulai mendekati akhir. Optimisme ini didorong oleh potensi kelanjutan pembicaraan antara Amerika Serikat dan Iran pada akhir pekan serta tercapainya gencatan senjata 10 hari antara Lebanon dan Israel.
Harga minyak mentah Brent turun US$ 3,09 atau 3,11% menjadi US$ 96,30 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) turun US$ 4,01 atau 4,23% ke level US$ 90,68 per barel.
Analis UBS, Giovanni Staunovo, mengatakan pasar minyak saat ini sangat sensitif terhadap perkembangan konflik maupun tanda-tanda deeskalasi.
Menurutnya, sentimen pasar membaik setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan pada Kamis bahwa kesepakatan dengan Iran “sudah sangat dekat”.
Meski turun pada perdagangan Jumat, harga Brent masih berada di jalur kenaikan mingguan sekitar 1,2%. Sebaliknya, WTI diperkirakan turun sekitar 6% dibandingkan posisi penutupan pekan lalu.
Baca Juga: Trump Sebut Kesepakatan Damai dengan Iran Sudah Dekat
Trump juga menyebut Iran menawarkan komitmen untuk tidak memiliki senjata nuklir selama lebih dari 20 tahun. Pernyataan tersebut dianggap sebagai salah satu titik penting dalam negosiasi untuk mengakhiri perang Iran.
“We're going to see what happens. But I think we're very close to making a deal with Iran,” ujar Trump kepada wartawan di luar Gedung Putih.
Harga minyak memang telah turun di bawah US$ 100 per barel, tetapi masih bertahan di atas US$ 90 per barel setelah sempat melonjak sekitar 50% sepanjang Maret akibat konflik di kawasan.
Analis PVM, Tamas Varga, menilai masih ada sejumlah faktor yang menahan harga minyak tetap tinggi. Faktor tersebut meliputi sifat sementara gencatan senjata antara Israel dan Lebanon, target Israel untuk melemahkan rezim Iran secara signifikan, serta kecilnya kemungkinan Selat Hormuz dibuka kembali dalam waktu dekat.
Kampanye militer Israel di Lebanon juga dinilai menjadi hambatan besar bagi upaya perdamaian yang diinginkan Trump untuk mengakhiri perang yang dimulai pada akhir Februari lalu.
Baca Juga: Karyawan SPBU TotalEnergies di Prancis Mogok, Protes Harga BBM dan Kenaikan Gaji
Sumber Reuters menyebut negosiator AS dan Iran kini menurunkan ekspektasi terhadap tercapainya perjanjian damai komprehensif. Sebagai gantinya, kedua pihak tengah mempertimbangkan memorandum sementara guna mencegah konflik kembali pecah.
Di sisi lain, Prancis dan Inggris akan memimpin pertemuan sekitar 40 negara yang bertujuan menunjukkan kepada AS bahwa para sekutunya siap membantu memulihkan arus pelayaran melalui Selat Hormuz ketika kondisi memungkinkan.
Analis Ole Hansen mengatakan proses normalisasi distribusi minyak akan membutuhkan waktu berbulan-bulan, bahkan jika situasi keamanan membaik.
Sementara itu, analis dari ING memperkirakan sekitar 13 juta barel per hari aliran minyak terganggu akibat penutupan Selat Hormuz.













