Reporter: Nina Dwiantika | Editor: Nina Dwiantika
KONTAN.CO.ID - BEIJING. China mulai merasakan gelombang baru inflasi dari sisi industri. Harga pabrik di negara dengan ekonomi terbesar kedua dunia itu melonjak pada April 2026, dipicu lonjakan biaya energi dan bahan baku akibat perang Iran yang mengguncang pasar komoditas global.
Mengutip Bloomberg (11/5), data Biro Statistik Nasional China pada Senin (11/5) menunjukkan indeks harga produsen (PPI) naik 2,8% secara tahunan pada April. Kenaikan ini jauh lebih tinggi dibanding bulan sebelumnya yang hanya 0,5%, sekaligus menjadi laju tercepat sejak Juli 2022.
Angka tersebut juga melampaui seluruh proyeksi ekonom dalam survei Bloomberg yang memperkirakan median kenaikan hanya 1,8%.
Di sisi lain, inflasi konsumen juga bergerak naik. Indeks harga konsumen (CPI) meningkat 1,2% pada April, dari 1% pada Maret. Padahal, pasar sebelumnya memperkirakan tekanan harga akan sedikit melunak.
Lonjakan data inflasi itu langsung menggerakkan pasar keuangan. Yuan China menguat hingga 0,2% terhadap dolar Amerika Serikat dan sempat menembus level psikologis 6,8 per dolar. Sebaliknya, kontrak berjangka obligasi pemerintah China melemah, terutama tenor 30 tahun yang jatuh ke level intraday terendah dalam lebih dari sebulan.
Baca Juga: Angka Pernikahan di China Turun ke Level Terendah Dalam Satu Dekade
Statistikawan Biro Statistik Nasional China Dong Lijuan mengatakan, percepatan harga produsen didorong kenaikan tajam harga komoditas internasional, meningkatnya permintaan di sejumlah sektor domestik, serta membaiknya persaingan pasar.
Perang Iran disebut menjadi pemicu utama perubahan arah harga di China. Krisis energi global akibat konflik tersebut mengakhiri sekitar tiga setengah tahun deflasi di sektor manufaktur China.
Namun, perubahan itu tidak sepenuhnya menjadi kabar baik. Banyak perusahaan justru menghadapi tekanan margin laba karena sulit meneruskan kenaikan biaya produksi kepada konsumen. Permintaan domestik masih lemah, sementara pasar tenaga kerja mulai menunjukkan tanda-tanda perlambatan.
Bahkan di sektor jasa, banyak pelaku usaha masih memangkas harga demi menarik pelanggan, meskipun biaya operasional meningkat.
Tekanan terhadap profitabilitas industri juga terlihat dari indeks harga pembelian yang melonjak 3,5% secara tahunan. Selisih antara biaya input dan harga jual menjadi yang terbesar sejak Agustus 2024.
Sejak akhir 2022, China terjebak dalam spiral deflasi akibat kelebihan kapasitas produksi dan perang harga di tengah lemahnya konsumsi rumah tangga. Kini, lonjakan harga energi memberi peluang berakhirnya fase tersebut, meski risikonya adalah tekanan baru bagi dunia usaha.
Bloomberg Economics memperkirakan deflator produk domestik bruto (PDB), indikator perubahan harga di seluruh perekonomian, bisa mengakhiri tren penurunan tiga tahun pada kuartal ini.
Dari sisi sektoral, kenaikan harga di industri pertambangan dan pengolahan logam non-ferrous menyumbang hampir 1,6 poin persentase terhadap inflasi produsen April. Sementara sektor yang terdampak langsung perang Iran, seperti minyak mentah dan bahan kimia, menyumbang tambahan 1,5 poin persentase.
Adapun industri mesin listrik dan elektronik turut memberi kontribusi hampir setengah poin persentase terhadap kenaikan keseluruhan indeks harga produsen China.
Baca Juga: Industri Otomotif AS Desak Trump Blokir Mobil China dari Pasar Amerika













