Hong Kong Perluas Bandara Internasional, Landasan Pacu Ketiga Mulai Dibuka

Senin, 11 Juli 2022 | 12:24 WIB   Reporter: Dina Mirayanti Hutauruk
Hong Kong Perluas Bandara Internasional, Landasan Pacu Ketiga Mulai Dibuka

ILUSTRASI. Bandara Internasional Chek Lap Kok Hong Kong (HKG) telah diperluas. REUTERS/Tyrone Siu


KONTAN.CO.ID - HONG KONG. Bandara Internasional Chek Lap Kok Hong Kong (HKG) telah diperluas. Bandara ini resmi mengoperasikan landasan pacu ketiganya pada 8 Juli 2022. Penambahan landasan pacu itu telah menambah luas bandara 650 hektare menjadi 1.606 ha dan akan meningkatkan kapasitas pergerakan pesawat 50%. 

Landasan pacu ketiga ini merupakan bagian dari proyek senilai HK$ 141,5 miliar atau setara US$ 18 miliar. Selain itu, di bandara tersebut, juga sedang dibangun kompleks hiburan, ritel dan komersial dengan nilai investasi HK$ 20 miliar yang digarap oleh konglomerat lokal New World Development Co. Proyek itu lebih besar dari Grand Central Terminal New York. 

Proyek pengembangan Bandara Internasional Hong Kong ini dirancang untuk memperkuat peran Hong Kong sebagai pusat penerbangan global. Namun, saat ini pemerintah melarang maskapai membawa penumpang ke Hong Kong bila tak menunjukkan hasil negatif PCR pra keberangkatan.

Penangguhan penerbangan ini telah menekan permintaan perjalan udara dari dan ke Hong Kong. Sepanjang lima bulan pertama tahun ini, bandara ini hanya mencatatkan jumlah penumpang 545.000 orang. Sedangkan pada periode yang sama tahun 2019 mencapai 31,4 juta. 

Baca Juga: Makau Menutup Seluruh Kasino Selama Sepekan, Demi Mengekang Penyebaran Covid-19

Melansir Bloomberg, Senin (11/7), Robert Boyle, Pendiri Gridpoint Consulting, perusahaan penasehat penerbangan yang berbasis di London, mengatakan kebijakan pemerintah telah hampir membunuh Maskapai Cathai Pasifick dan bandara Hong Kong. 

Namun, pada Kamis lalu, Hong Kong telah mengumumkan akan menangguhkan larangan rute penerbangan yang kedapatan membawa penumpang yang terinfeksi Covid-19. Larangan itu telah menyebabkan 100 rute penerbangan dihentikan tahun ini. 

Investasi infrastruktur Bandara Internasional Hong Kong memang ditujukan untuk jangka panjang. Namun, Kepala Ekonom Asia Pasifik Natixis SA Alicia Garcia Herrero mengatakan, kebijakan pemerintahnya terkait Covid-19 bisa membuat bandara itu beresiko kehilangan daya saingnya dengan negara lain di Asia yang telah membuka perbatasan mereka lebih cepat. 

"Hong kong perlu bergerak secepat mungkin," ujarnya.

Sementara Singapura sudah bergerak lebih maju memimpin kebangkitan perjalan udara di Asia. Bandara Changi telah mengumumkan akan membuka kembali dua terminal yang ditutup karena Covid-19. Duabi dan Doha, yang bersaing dengan Hong Kong sebagai pusat transit udara, berhasil mempertahankan volume penerbangan yang besar selama pandemi.

Proyek perluasan bandara Hong Kong saat ini merupakan yang terbesar sejak bandara itu dibuka tahu 1998, menggantikan Bandara Kai Tak yang sempit dan dekat pusat kota.

Sejak dibangun, bandara itu dengan cepat berkembang karena punya peranan penting dalam memperkuat peran Hong Kong sebagai hub global untuk penerbangan. Pada tahun 2018, bandara ini mencatatkan jumlah penumpang sebanyak 74 juta. bandingkan dengan 29,5 juta di Kai Tak pada tahun 1996.

Baca Juga: Tianqi Lithium Meraup US$ 1,7 Miliar dalam IPO Hong Kong, Terbesar di 2022

Pada Rabu (6/7) Otoritas Bandara Hong Kong melaporkan kerugian tahun fiskal kedua berturut-turut, menjadikan total kerugiannya selama pandemi menjadi HK$ 7,4 miliar. Pendapatan turun untuk tahun keempat berturut-turut.

Hong Kong telah mempertahankan statusnya sebagai pusat kargo udara tersibuk di dunia, titik terang yang langka dalam pandemi. Namun, berdirinya kota ini sebagai pusat pelayaran global bisa menjadi kisah peringatan. Pada tahun 2004, pelabuhan Hong Kong adalah yang tersibuk di dunia, tetapi sekarang menjadi No. 9,  yang jauh dengan Shanghai sebagai pelopor yang tak terbantahkan.

Dengan fasilitas yang lebih besar, koneksi penerbangan domestik yang lebih banyak, dan transfer yang lebih mudah, bandara-bandara China berada di jalur untuk menambah porsi mereka untuk lalu lintas penumpang dan kargo dengan biaya bersaing dengan Hong Kong.

Editor: Herlina Kartika Dewi

Terbaru