CLOSE [X]
kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ451.012,04   -6,29   -0.62%
  • EMAS990.000 0,00%
  • RD.SAHAM -0.27%
  • RD.CAMPURAN 0.00%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.09%

IMF: Risiko Resesi Global Meningkat di Tahun Depan


Kamis, 07 Juli 2022 / 23:05 WIB
IMF: Risiko Resesi Global Meningkat di Tahun Depan


Sumber: Reuters | Editor: S.S. Kurniawan

KONTAN.CO.ID - Dana Moneter Internasional atau IMF pada Rabu (6/7) mengatakan, prospek ekonomi global "gelap secara signifikan" sejak April lalu, dan tidak bisa mengesampingkan kemungkinan resesi global tahun depan mengingat risiko yang meningkat.

Direktur Pelaksana IMF Kristalina Georgieva menyatakan kepada Reuters dalam sebuah wawancara, lembaganya akan menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi global tahun ini yang saat ini 3,6% dalam beberapa pekan ke depan, ketiga kalinya di 2022 merevisi ke bawah. 

Menurutnya, para ekonom IMF masih menyelesaikan angka-angka baru.

IMF akan merilis perkiraan terbaru pertumbuhan ekonomi global untuk 2022 dan 2023 pada akhir Juli, setelah memangkas proyeksi sebelumnya hampir satu poin persentase penuh pada April lalu. Ekonomi global tumbuh 6,1% di 2021.

Baca Juga: Euro Dekati Level Terendah Dalam 20 Tahun, Ancaman Resesi Eropa Semakin Nyata

"Prospek sejak pembaruan terakhir kami pada April telah menjadi gelap secara signifikan," kata dia, mengutip lonjakan inflasi yang lebih universal, kenaikan suku bunga yang lebih substansial, perlambatan pertumbuhan ekonomi China, dan peningkatan sanksi atas Rusia menyusul invasi di Ukraina.

"Kita berada di perairan yang sangat berombak," ungkap Georgieva. 

Ditanya, apakah IMF mengesampingkan resesi global, dia bilang, "Risikonya telah meningkat sehingga kami tidak bisa mengesampingkannya."

Data ekonomi baru-baru ini, Georgieva mengungkapkan, menunjukkan beberapa ekonomi besar, termasuk China dan Rusia, mengalami kontraksi pada kuartal kedua, dan risikonya bahkan lebih tinggi pada 2023.

"Ini akan menjadi tahun 2022 yang sulit, tetapi mungkin bahkan 2023 lebih sulit," katanya. "Risiko resesi meningkat pada 2023".

Baca Juga: Resesi dan Suplai Jadi Masalah bagi Harga Komoditas Energi

Dan, Georgieva menegaskan, pengetatan kondisi keuangan yang lebih lama akan memperumit prospek ekonomi global. Tapi, dia menambahkan, sangat penting untuk mengendalikan lonjakan harga.

Prospek global sekarang lebih heterogen dibanding dua tahun lalu, dengan eksportir energi, termasuk Amerika Serikat, pada pijakan yang lebih baik, sementara importir sedang berjuang, dia menjelaskan.

Pertumbuhan ekonomi yang lebih lambat mungkin merupakan "harga yang harus dibayar", mengingat kebutuhan mendesak dan mendesak untuk memulihkan stabilitas harga.

Georgieva merujuk peningkatan risiko divergensi antara kebijakan fiskal dan moneter, dan mendesak negara-negara untuk secara hati-hati mengkalibrasi tindakan tersebut untuk mencegah kemungkinan dukungan fiskal yang merusak upaya bank sentral untuk mengendalikan inflasi.

"Kita perlu menciptakan tingkat koordinasi yang sama kuat antara bank sentral dan Kementerian Keuangan, sehingga mereka memberikan dukungan dengan cara yang sangat tepat sasaran, dan tidak melemahkan apa yang ingin dicapai oleh kebijakan moneter," katanya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×