kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45769,82   10,44   1.37%
  • EMAS915.000 -0,44%
  • RD.SAHAM -0.01%
  • RD.CAMPURAN 0.00%
  • RD.PENDAPATAN TETAP -0.03%

Ini isi surat terbuka koordinasi respon global penangananan virus corona untuk G20


Kamis, 09 April 2020 / 10:56 WIB
Ini isi surat terbuka koordinasi respon global penangananan virus corona untuk G20
ILUSTRASI. Bendera Negara G20, yakni: Afrika Selatan - Amerika Serikat - Arab Saudi - Argentina - Australia - Brasil - Inggris - China - India - Indonesia - Italia - Jepang - Jerman - Kanada - Korea Selatan - Meksiko - Perancis - Rusia - Turki - Uni Eropa

Reporter: Rizki Caturini | Editor: Rizki Caturini

KONTAN.CO.ID - WASHINGTON. Sekitar 165 pemimpin dunia, baik yang masih aktif menjabat maupun tidak, mendesak anggota G20 untuk segera mengesahkan pendanaan darurat kesehatan dunia sebesar US$ 8 miliar untuk mencegah gelombang kedua dari penyebaran virus corona (Covid-19). Mereka menawarkan rumusan aksi bagi G20 untuk menggelar konferensi khusus dan membentuk gugus tugas koordinasi respon global terkait Covid-19. 

Dalam sebuah surat terbuka, kelompok ini ingin G20  mempercepat pengadaan vaksin, obat dan penyembuhan serta memulihkan ekonomi dunia, mendesak adanya kolaborasi dan komitmen global untuk memberikan dana ‘jauh melebihi dari kapasitas berbagai lembaga internasional kita sekarang’. Surat tersebut menyatakan, “Situasi darurat ekonomi tidak akan selesai sampai permasalahan kesehatan ditangani. Permasalahan kesehatan tidak dapat selesai hanya dengan memberantas wabah di satu negara saja, tetapi juga harus memastikan bahwa seluruh negara juga pulih dari COVID-19.

Baca Juga: IMF: Virus corona dorong dunia ke dalam resesi yang lebih buruk dari krisis 2008

Surat terbuka tersebut memohon adanya kesepakatan untuk hal-hal berikut:

● US$ 8 miliar untuk mempercepat upaya pengadaan vaksin, obat dan penyembuhan;
● US$ 35 miliar untuk mendukung sistem kesehatan, mulai dari ventilator hingga peralatan tes, serta alat pelindung diri bagi petugas kesehatan;
● US$ 150 miliar bagi negara berkembang untuk menghadapi krisis kesehatan dan perekonomian serta mencegah gelombang kedua dari penyebaran virus corona agar tidak kembali ke negara-negara yang terkena dampak gelombang
pertama. Hal ini berarti menghapus pembayaran bunga utang dari negara-negara miskin, termasuk pembayaran sebesar US$ 44 miliar dari Afrika. Selain itu, yang diminta adalah tambahan anggaran sebesar US$ 500 miliar- US$ 600 miliar dari IMF dalam bentuk special drawing rights (SDR).

Banyak hal yang telah dilakukan oleh pemerintah nasional dalam menghadapi penurunan ekonomi. Akan tetapi, permasalahan ekonomi global memerlukan respon global. "Fokus kita sebaiknya adalah mencegah krisis likuiditas berkembang menjadi krisis solvency, serta mencegah resesi global berkembang menjadi depresi global. Untuk memastikan hal tersebut tidak terjadi, diperlukan koordinasi yang lebih baik terkait fiskal, keuangan, bank sentral dan inisiatif anti-proteksionis. Stimulus fiskal yang ambisius dari beberapa negara juga akan lebih efektif jika dilengkapi oleh semua negara yang memiliki kapasitas," ujar surat tersebut dalam rilis yang diterima KONTAN, Rabu (8/4).

Baca Juga: Jelang pertemuan OPEC +, AS kembali didesak ikut dalam pemangkasan produksi minyak

Sejumlah tokoh yang tergabung dalam kelompok ini di antaranya: mantan Perdana Menteri Selandia Baru James Brendan Bolger, mantan Menteri Luar Negeri Algeria Lakhdar Brahimi, mantan Perdana Menteri Norwegia Kjeil Magne Bondevik, mantan Presiden Meksiko Felipe Calderon dan lainnya. 




TERBARU

[X]
×