Reporter: Nina Dwiantika | Editor: Nina Dwiantika
KONTAN.CO.ID - BEIJING. Setelah lama diperlakukan bak anak tiri pasar global, aset-aset China perlahan kembali naik panggung. Memasuki awal 2026, investor global mulai meningkatkan eksposur ke saham dan mata uang Negeri Tirai Bambu. Di tengah ketidakpastian ekonomi dunia, China kembali diposisikan sebagai peluang meski belum sepenuhnya bebas dari risiko.
Melansir Bloomberg (14/1), sejumlah raksasa investasi global, mulai dari Goldman Sachs hingga Bernstein Societe Generale, kompak menaikkan pandangan mereka terhadap pasar saham China. Alasan utamanya terdengar klasik yakni valuasi murah, dukungan kebijakan pemerintah, dan prospek laba yang dinilai mulai membaik.
Momentum ini diperkuat oleh penguatan yuan yang akhirnya menembus level psikologis 7 per dolar AS. Bahkan, sebagian pelaku pasar mulai berani memasang target agresif, hingga ke kisaran 6,25 per dolar. Citigroup, BNP Paribas Asset Management, dan Bank of America termasuk yang masuk barisan optimistis.
Yang menarik, tahun lalu China mencatat fenomena langka, saham dan mata uang sama-sama reli. Ini pertama kali terjadi sejak 2017, Indeks saham China di Hong Kong melonjak lebih dari 22% sepanjang 2025, sementara yuan menguat lebih dari 4%, kenaikan terbaik dalam lima tahun.
Kombinasi ini menciptakan yuan yang lebih kuat membuat imbal hasil saham makin menarik bagi investor global, sementara arus modal ke pasar saham ikut menopang nilai tukar.
Baca Juga: Taiwan Perketat Perang Teknologi, CEO OnePlus Masuk Daftar Buruan
Valuasi murah
Dari sisi valuasi, pasar saham China memang tampak menggiurkan. Hang Seng China Enterprises Index saat ini diperdagangkan di kisaran 10,7 kali proyeksi laba, jauh di bawah S&P 500 yang sudah tembus 22 kali. Goldman bahkan berani menaikkan target indeks CSI 300 ke level 5.200, dengan potensi kenaikan sekitar 9%.
Bank investasi asal AS itu juga memproyeksikan pertumbuhan laba perusahaan China bakal melonjak ke 14% pada 2026–2027, dari hanya 4% pada 2025, ditopang oleh monetisasi kecerdasan buatan (AI), stimulus kebijakan, dan kelonggaran likuiditas.
Antusiasme pasar pun terlihat nyata. Nilai transaksi saham di bursa domestik China sempat menembus rekor 3,65 triliun yuan dalam sehari jauh di atas rata-rata normal.
Tapi pertanyaan besarnya, apakah reli ini mencerminkan pemulihan fundamental, atau sekadar perburuan aset murah di pasar yang terlalu lama terpuruk?
Faktanya, problem lama China belum benar-benar pergi. Konsumsi domestik masih lemah, tekanan deflasi belum sepenuhnya reda, dan sektor properti sumber masalah utama beberapa tahun terakhir masih berkutat di ruang pemulihan.
Bahkan para manajer investasi sendiri cenderung realistis. “Ini bukan bull market besar-besaran, lebih ke bull struktural yang berjalan pelan,” kata Wang Dan dari Shenzhen Sunrise Asset Management.
Dengan kata lain, ini lebih mirip reli berbasis harapan dan repositioning portofolio, bukan ledakan pertumbuhan ekonomi.
Baca Juga: Pelaku Usaha Inggris Makin Pesimistis











![[Intensive Workshop] Foreign Exchange & Hedging Strategies](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_17122515210200.jpg)
