Sumber: Reuters | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - DUBAI/DOHA. Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat tajam.
Pemerintah Amerika Serikat menarik sebagian personel militernya dari sejumlah pangkalan di Timur Tengah setelah Iran memperingatkan negara-negara tetangganya bahwa pangkalan AS akan menjadi sasaran jika Washington melancarkan serangan.
Seorang pejabat AS, yang enggan disebutkan namanya, mengatakan penarikan personel dilakukan sebagai langkah pencegahan di tengah eskalasi situasi keamanan kawasan.
Langkah ini muncul setelah seorang pejabat senior Iran menyebut Teheran telah menyampaikan peringatan langsung kepada negara-negara regional terkait potensi serangan balasan.
Baca Juga: Ancaman Iran Nyata, Ini 9 Lokasi Pangkalan Militer AS yang ada di Timur Tengah
Menurut tiga diplomat, sebagian personel AS telah diminta meninggalkan Pangkalan Udara Al Udeid di Qatar, yang merupakan basis udara utama AS di kawasan. Meski demikian, belum terlihat tanda-tanda evakuasi besar-besaran seperti yang terjadi menjelang serangan rudal Iran ke pangkalan tersebut tahun lalu.
Salah satu diplomat menggambarkan langkah ini sebagai “penyesuaian postur keamanan”, bukan perintah evakuasi penuh.
Aktivitas di pangkalan masih berlangsung normal dan tidak terlihat pemindahan pasukan ke lokasi alternatif seperti stadion atau pusat perbelanjaan, sebagaimana pernah terjadi sebelumnya.
Ancaman Trump dan Respons Iran
Ketegangan meningkat seiring pernyataan Presiden AS Donald Trump yang berulang kali mengancam akan campur tangan di Iran, dengan alasan mendukung demonstran anti-pemerintah.
Dalam wawancara dengan CBS News, Trump menyatakan akan mengambil “tindakan sangat keras” jika Iran mengeksekusi para pengunjuk rasa.
Trump juga secara terbuka menyerukan warga Iran untuk terus melakukan protes dan mengambil alih institusi negara, dengan mengatakan bahwa “bantuan sedang dalam perjalanan”.
Baca Juga: Trump Siap Bantu Demonstran Iran, Teheran Keluarkan Ultimatum ke AS
Menanggapi hal itu, seorang pejabat senior Iran menyatakan bahwa Teheran telah meminta negara-negara seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Turki untuk mencegah AS melancarkan serangan.
Iran memperingatkan bahwa setiap basis militer AS di negara-negara tersebut akan menjadi target jika Iran diserang.
“Iran telah menyampaikan secara tegas bahwa serangan terhadap wilayahnya akan dibalas dengan menghantam pangkalan-pangkalan Amerika di kawasan,” kata pejabat tersebut.
Ia juga menambahkan bahwa komunikasi langsung antara Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi dan Utusan Khusus AS Steve Witkoff kini telah dihentikan.
Situasi Dalam Negeri Iran Memburuk
Ancaman perang terjadi di tengah krisis domestik terburuk yang pernah dihadapi Republik Islam Iran sejak Revolusi 1979. Gelombang protes yang bermula dari keluhan ekonomi dua pekan lalu berkembang menjadi kerusuhan besar dan kekerasan luas.
Pemerintah Iran menyebut lebih dari 2.000 orang tewas dalam kerusuhan tersebut. Sementara kelompok hak asasi manusia HRANA mencatat jumlah korban tewas mencapai 2.403 demonstran dan 147 aparat atau pendukung pemerintah. Angka ini jauh melampaui korban pada gelombang protes sebelumnya pada 2009 dan 2022.
Baca Juga: Iran Siap Menyerang Jika AS Intervensi, Protes Masih Bergolak di Tehran
Kepala Staf Angkatan Bersenjata Iran, Abdolrahim Mousavi, menyebut negaranya belum pernah menghadapi tingkat kerusakan sebesar ini dan menyalahkan “musuh asing” atas situasi tersebut.
Menteri Luar Negeri Prancis Jean-Noel Barrot bahkan menyebutnya sebagai “represi paling brutal dalam sejarah kontemporer Iran”.
Akses informasi dari dalam Iran semakin terbatas akibat pemadaman internet nasional, sehingga verifikasi independen menjadi sulit.
Seorang pejabat Israel mengatakan penilaian intelijen negaranya menyebut Trump telah memutuskan untuk melakukan intervensi di Iran, meskipun waktu dan bentuk intervensi tersebut belum jelas.












![[Intensive Workshop] Foreign Exchange & Hedging Strategies](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_17122515210200.jpg)
