Sumber: Reuters | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Konflik antara Iran dan Israel terus mengalami eskalasi signifikan. Untuk pertama kalinya sejak perang dimulai, Iran dilaporkan menggunakan rudal balistik jarak jauh, yang memperluas potensi ancaman hingga ke luar kawasan Timur Tengah, termasuk Eropa.
Pejabat militer Israel menyatakan bahwa Iran meluncurkan dua rudal balistik dengan jangkauan hingga 4.000 kilometer yang diarahkan ke pangkalan militer Amerika Serikat–Inggris di Diego Garcia, Samudra Hindia. Langkah ini menandai perluasan konflik sejak serangan militer AS dan Israel terhadap Iran dimulai pada 28 Februari lalu.
Kepala militer Israel, Eyal Zamir, menyebut rudal tersebut tidak ditujukan ke Israel, melainkan memiliki jangkauan hingga ibu kota Eropa seperti Berlin, Paris, dan Roma. Hal ini meningkatkan kekhawatiran bahwa konflik dapat berdampak lebih luas secara global.
Serangan di Israel dan Korban Sipil
Di sisi lain, Iran juga melancarkan serangan ke wilayah Israel. Rudal menghantam kota Dimona dan Arad di bagian selatan Israel, menyebabkan puluhan korban luka, termasuk anak-anak.
Kelompok Garda Revolusi Iran mengklaim bahwa target serangan adalah instalasi militer dan pusat keamanan. Namun, dampak terhadap warga sipil menimbulkan kekhawatiran baru terkait eskalasi konflik.
Baca Juga: Bukan Hanya Urea, Pasokan Fosfat Global Terancam Konflik Timur Tengah
Juru bicara militer Israel, Brigadir Jenderal Effie Defrin, menyatakan bahwa sistem pertahanan udara berfungsi, tetapi gagal mencegat serangan tersebut sepenuhnya.
Kota Dimona sendiri berada dekat dengan fasilitas nuklir rahasia Israel, sementara kawasan tersebut juga berdekatan dengan beberapa instalasi militer penting, termasuk pangkalan udara Nevatim.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyebut serangan tersebut sebagai malam yang sulit bagi negaranya. Ia menegaskan komitmen Israel untuk terus menyerang musuh di berbagai front.
Trump Pertimbangkan Pengurangan Operasi Militer
Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengindikasikan kemungkinan mengurangi intensitas operasi militer terhadap Iran. Dalam pernyataan di media sosial, Trump menyebut AS hampir mencapai tujuannya.
Namun, ia juga menegaskan bahwa negara lain seharusnya mengambil peran dalam mengamankan Selat Hormuz, jalur pelayaran penting yang kini terancam tertutup dan berpotensi memicu krisis energi global.
Pernyataan Trump yang berubah-ubah mengenai tujuan perang menimbulkan kebingungan di kalangan sekutu tradisional AS. Sementara itu, pengerahan pasukan tambahan AS ke kawasan Timur Tengah terus berlangsung.
Serangan ke Fasilitas Nuklir dan Energi
Media Iran melaporkan bahwa kompleks pengayaan uranium Shahid Ahmadi-Roshan di Natanz menjadi target serangan gabungan AS-Israel. Meski demikian, tidak ditemukan kebocoran radioaktif dan warga sekitar dinyatakan aman.
Badan pengawas nuklir global International Atomic Energy Agency menyatakan tengah menyelidiki insiden tersebut.
Selain itu, serangan juga dilaporkan terjadi di pelabuhan Bushehr dan Pulau Kharg—pusat utama ekspor minyak Iran. Pulau ini dinilai sebagai target strategis jika AS memutuskan untuk menyerang sektor energi Iran secara langsung.
Baca Juga: Tiga Pekan Berjalan, Perang Iran Kian Memanas dan Lepas dari Kendali Trump
Iran juga melancarkan serangan drone ke pangkalan militer AS di Uni Emirat Arab dan Kuwait, yang digunakan sebagai titik operasi militer di kawasan Teluk.
Dampak Global: Harga Gas Eropa Melonjak
Konflik ini berdampak langsung pada pasar energi global. Harga gas alam di Eropa dilaporkan melonjak hingga 35% dalam sepekan terakhir, dipicu oleh serangan terhadap infrastruktur energi dan meningkatnya risiko gangguan pasokan.
Penutupan efektif Selat Hormuz—yang mengalirkan sekitar 20% pasokan minyak dan gas alam cair dunia—menjadi faktor utama lonjakan harga tersebut.
Sejumlah negara mulai merasakan dampaknya. India, misalnya, menghadapi kelangkaan gas memasak, meskipun berhasil mendapatkan izin dari Iran untuk melintasi selat tersebut bagi beberapa kapal pengangkut energi.
Perdana Menteri India Narendra Modi dilaporkan telah melakukan komunikasi langsung dengan Presiden Iran Masoud Pezeshkian terkait isu ini.
Sementara itu, Iran juga membuka kemungkinan akses bagi kapal-kapal yang terkait dengan Jepang, yang sangat bergantung pada impor energi melalui jalur tersebut.













