kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.799.000   30.000   1,08%
  • USD/IDR 17.363   9,00   0,05%
  • IDX 6.957   -144,42   -2,03%
  • KOMPAS100 936   -21,42   -2,24%
  • LQ45 669   -14,80   -2,16%
  • ISSI 251   -4,43   -1,74%
  • IDX30 373   -6,79   -1,79%
  • IDXHIDIV20 458   -7,34   -1,58%
  • IDX80 105   -2,51   -2,34%
  • IDXV30 134   -2,24   -1,64%
  • IDXQ30 119   -2,51   -2,07%

Iran Tegaskan Siap Gempur Balik Jika AS Kembali Menyerang


Jumat, 01 Mei 2026 / 13:56 WIB
Iran Tegaskan Siap Gempur Balik Jika AS Kembali Menyerang
ILUSTRASI. Penutupan Selat Hormuz menghambat 20% pasokan minyak dunia, memicu lonjakan harga energi. (via REUTERS/Majid Asgaripour)


Sumber: Reuters | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali meningkat setelah Iran memperingatkan akan melancarkan serangan balasan “panjang dan menyakitkan” terhadap posisi Amerika Serikat jika Washington kembali melakukan serangan.

Situasi ini semakin memperumit upaya pembentukan koalisi internasional untuk membuka kembali jalur pelayaran strategis di Selat Hormuz.

Dua bulan sejak konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran berlangsung, jalur laut vital tersebut masih ditutup. Penutupan ini menghambat sekitar 20% pasokan minyak dan gas dunia, memicu lonjakan harga energi global dan meningkatkan kekhawatiran terhadap potensi perlambatan ekonomi global.

Upaya diplomatik untuk meredakan konflik sejauh ini mengalami kebuntuan. Meskipun gencatan senjata telah berlaku sejak 8 April, Iran tetap memblokir Selat Hormuz sebagai respons terhadap blokade laut AS terhadap ekspor minyak Iran, yang merupakan sumber utama pendapatan negara tersebut.

Baca Juga: Perang Iran Tekan Restoran Dubai, Biaya Naik dan Pelanggan Menyusut

Presiden AS Donald Trump dijadwalkan menerima pengarahan terkait rencana serangkaian serangan militer baru untuk memaksa Iran kembali ke meja perundingan. Opsi tersebut telah lama menjadi bagian dari strategi Washington, namun laporan terkait rencana tersebut sempat mendorong lonjakan harga minyak mentah global.

Harga minyak acuan dunia, Brent, sempat melampaui US$126 per barel sebelum kembali turun ke kisaran US$114. Lonjakan ini mencerminkan sensitivitas pasar terhadap risiko gangguan pasokan energi global.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menyatakan bahwa tidak realistis mengharapkan hasil cepat dari pembicaraan dengan AS. Ia menegaskan bahwa proses negosiasi membutuhkan waktu, terlepas dari siapa mediator yang terlibat.

Sementara itu, aktivitas pertahanan udara dilaporkan terjadi di sejumlah wilayah ibu kota Iran, Teheran, dengan sistem pertahanan menanggapi ancaman drone dan pesawat nirawak.

Di tengah meningkatnya ketegangan, Uni Emirat Arab mengambil langkah preventif dengan melarang warganya bepergian ke Iran, Lebanon, dan Irak, serta meminta warga yang berada di negara-negara tersebut untuk segera kembali.

Presiden Trump kembali menegaskan bahwa Iran tidak akan diizinkan memiliki senjata nuklir. Ia juga menyatakan optimisme bahwa harga bahan bakar akan turun signifikan setelah konflik berakhir, menjelang pemilu paruh waktu yang menjadi perhatian utama Partai Republik.

Baca Juga: Sekjen PBB Tegaskan Iuran AS kepada PBB Wajib Dibayar, Tak Bisa Dinegosiasikan

Di sisi lain, Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres memperingatkan bahwa jika gangguan akibat penutupan Selat Hormuz berlanjut hingga pertengahan tahun, maka pertumbuhan ekonomi global akan melemah, inflasi meningkat, dan puluhan juta orang berisiko jatuh ke dalam kemiskinan dan kelaparan ekstrem.

Iran melalui pejabat tinggi Garda Revolusi menegaskan bahwa setiap serangan baru dari AS, bahkan dalam skala terbatas, akan dibalas dengan serangan berkepanjangan terhadap kepentingan AS di kawasan.

Pernyataan ini diperkuat oleh Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Mojtaba Khamenei, yang menegaskan bahwa Teheran akan mempertahankan kendali atas Selat Hormuz.

Dalam upaya membuka kembali jalur perdagangan global tersebut, AS juga tengah mempertimbangkan berbagai opsi, termasuk pembentukan koalisi maritim internasional bernama Maritime Freedom Construct. Namun, negara-negara seperti Prancis dan Inggris menyatakan bahwa mereka hanya akan berpartisipasi setelah konflik berakhir.




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Capital Structure

[X]
×