Reporter: Syamsul Ashar | Editor: Syamsul Azhar
KONTAN.CO.ID - JAKARTA- Dinamika di Selat Hormuz memasuki babak baru pasca gencatan senjata di Lebanon. Terbaru Menteri Luar Negeri Iran Sayed Abbas Arghchi melalui cuitannya di X mengumumkan selat hormuz resmi dibuka.
Organisasi Pelabuhan dan Maritim Republik Islam Iran secara resmi mengumumkan bahwa seluruh jalur pelayaran untuk kapal komersial melalui Selat Hormuz kini dinyatakan sepenuhnya terbuka.
Pembukaan ini berlaku untuk sisa periode gencatan senjata, dengan syarat mengikuti rute terkoordinasi yang telah ditetapkan oleh otoritas Teheran.
Baca Juga: Iran Umumkan Jalur Selat Hormuz Resmi Dibuka! Trump: Terimakasih
"Sejalan dengan gencatan senjata di Lebanon, jalur pelayaran untuk semua kapal komersial melalui Selat Hormuz dinyatakan sepenuhnya terbuka untuk sisa periode gencatan senjata, pada rute terkoordinasi seperti yang telah diumumkan oleh Organisasi Pelabuhan dan Maritim Republik Islam Iran."
Kurang dari satu jam cuitan Menlu Iran berselang, Presiden AS, Donald J. Trump, turut memberikan respons langsung melalui pernyataan resminya. "Iran Baru Saja Mengumumkan Bahwa Selat Iran Sepenuhnya terbuka dan siap untuk dilalui, terimakasih!" tulis Donald Trump, di akun media sosial SocialTruth yang diteruskan lewat akun resmi pemerintah Amerika Serikat di X @whitehouse
Namun, pengumuman pembukaan jalur tersebut berbenturan keras dengan realitas blokade laut yang digelar Amerika Serikat (AS). Pusat komando militer Amerika Serikat di Timur Tengah, US Centcomm melaporkan, pada Jumat (17/4), kapal perusak rudal mereka, yakni USS Rafael Peralta (DDG 115) dilaporkan mencegat dan mengarahkan sebuah kapal dagang untuk kembali ke pelabuhan Iran.
Langkah ini merupakan bagian dari penegakan blokade ketat yang diinstruksikan oleh Washington.
Baca Juga: Iran Pastikan Jalur Selat Hormuz Tetap Terbuka Selama Gencatan Senjata
Data militer menunjukkan taring AS masih sangat tajam di wilayah tersebut. Sejak blokade dimulai, tercatat sebanyak 19 kapal telah mematuhi arahan pasukan AS untuk memutar haluan kembali ke perairan Iran.
Amerika mengklaim, secara statistik, efektivitas operasi ini mencapai tingkat sempurna; tercatat tak satupun kapal yang berhasil lolos dari hadangan gugus tugas laut AS selama masa blokade berlangsung.
Meskipun Iran menawarkan rute koordinasi, kehadiran USS Rafael Peralta menunjukkan bahwa setiap pergerakan kapal tetap berada dalam bidikan radar Washington. Para pelaku usaha logistik global kini masih bersikap hati-hati (wait and see) melihat kontradiksi antara kebijakan terbuka Iran dan tindakan represif blokade AS di salah satu urat nadi energi dunia tersebut.
Baca Juga: AS Siap Kawal Tanker di Selat Hormuz, Trump Kerahkan Instrumen Militer













