kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45806,19   -5,40   -0.67%
  • EMAS1.055.000 -0,94%
  • RD.SAHAM -0.34%
  • RD.CAMPURAN -0.11%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.02%

Jack Ma pensiun, bagaimana nasib Alibaba ke depan?


Selasa, 10 September 2019 / 12:59 WIB
Jack Ma pensiun, bagaimana nasib Alibaba ke depan?
ILUSTRASI. Alibaba executive chairman Jack Ma

Sumber: South China Morning Post | Editor: Tendi Mahadi

Di saat yang sama, Alibaba juga mesti 'berperang' dengan rival domestik seperti Pinduoduo dan JD.com untuk pangsa pasar e-commerce yang lebih besar di kota-kota kecil China yang diharapkan menjadi pendorong pertumbuhan berikutnya untuk konsumsi Tiongkok.

"Penjualan jangka panjang dan pertumbuhan laba dapat mengambil manfaat dari investasi strategis dalam teknologi yang menggunakan kecerdasan buatan dan analisis data pengguna yang luas untuk menghasilkan uang dari segmen bisnis baru, seperti keuangan, logistik, cloud, media dan hiburan," kata analis Bloomberg Intelligence Vey -Sern Ling dalam catatannya.

Perusahaan juga berencana untuk menjual sahamnya di bursa Hong Kong pada bulan Oktober, setelah melakukan IPO terbesar sepanjang sejarah ketika melantai di bursa New York pada tahun 2014 dengan mengumpulkan US$ 25 miliar.

Tetapi sementara Ma secara formal telah menjauh dari pengelolaan Alibaba, para pengamat percaya bahwa ia masih akan terus menjadi pengaruh besar terhadap perusahaan yang telah ia dirikan.

Baca Juga: Jack Ma pensiun, ini momen-monem bersejarah Alibaba di bawah kepemimpinannya (2)

"Saya tidak berpikir Jack Ma akan tiba-tiba menghilang dan tidak memiliki hubungan dengan Alibaba lagi, dia akan tetap menjadi salah satu wajah perusahaan meskipun tidak memiliki peran formal," kata David de Cremer, profesor manajemen dan organisasi di Universitas Nasional Singapura.

Dia menunjukkan bahwa walaupun rencana suksesi Alibaba jarang terjadi di China tata kelola dan perencanaan perusahaan seperti itu akan menjadi lebih umum karena lebih banyak perusahaan teknologi China ingin go public dan melakukan bisnis di Barat.

“Apa yang Anda lihat sekarang adalah bahwa perusahaan-perusahaan China masih belum cukup berinvestasi dalam hal SDM atau rekrutmen orang-orang yang tepat sehingga pada dasarnya mereka dapat melatih dan membina untuk menjadi pemimpin perusahaan,” kata de Cremer.



TERBARU

[X]
×