kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45700,06   2,33   0.33%
  • EMAS938.000 -0,85%
  • RD.SAHAM 0.36%
  • RD.CAMPURAN 0.15%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.14%

Jack Ma pensiun, bagaimana nasib Alibaba ke depan?


Selasa, 10 September 2019 / 12:59 WIB
Jack Ma pensiun, bagaimana nasib Alibaba ke depan?
ILUSTRASI. Alibaba executive chairman Jack Ma

Sumber: South China Morning Post | Editor: Tendi

KONTAN.CO.ID - SHANGHAI. Jack Ma pensiun hari ini. Ketika pada September lalu ia mengatakan akan meninggalkan Alibaba secara total dalam waktu dua belas bulan, semua orang terperanga. Harga saham Alibaba di bursa New York pun sempat anjlok 4% karena berita tersebut.

Maklum saja banyak yang kaget. Pasalnya selama hampir dua dekade, Ma telah menjadi wajah Alibaba sejak didirikan bersama 17 temannya pada tahun 1999 lalu. 

Ma, yang baru berusia 55 tahun masih dianggap terlalu muda untuk pergi dari perusahaan yang angkat. Sementara beberapa pendiri perusahaan lain masih mencengkram erat perusahaannya hingga berusia delapan puluh tahun.

Dilansir dari South China Morning Post, kepergian Ma dari peran ketua eksekutif bertepatan dengan peringatan 20 tahun Alibaba, mungkin merupakan indikasi terbesar bahwa perusahaan ini telah sepenuhnya beralih ke era baru. Di mana kendali perusahaan diserahkan kepada generasi orang-orang yang lebih muda lewat Daniel Zhang Yong sebagai pemimpinnya.

Baca Juga: Pensiun dari Alibaba Group mulai hari ini, Jack Ma menggelar pesta besar

"Jack dengan terkenal mengomunikasikan keinginannya untuk pensiun dari Alibaba hampir sejak awal pendirian perusahaan," kata Duncan Clark, seorang teman Ma dan penulis buku Alibaba: The House That Jack Ma Built.

"Jack tidak memiliki kualifikasi profesional dalam manajemen atau keterampilan teknis maupun keuangan, jadi dia selalu mencari profesional berbakat [seperti Zhang] untuk membantu. Dalam hal itu, dia sudah merencanakan transisi ini untuk waktu yang sangat lama," kata Clark.

Fakta bahwa Ma telah berbicara tentang meninggalkan Alibaba begitu awal juga membuatnya begitu unik, terutama di China. Soalnya ada pengkultusan terhadap pendiri perusahaan dan budaya yang cenderung menekankan bisnis multi-generasi.

Ma adalah salah satu dari sedikit pendiri perusahaan teknologi yang telah menyerahkan tongkat estafet kepada penerus secara lebih awal.

Di bawah bimbingan Ma, Alibaba telah menjadi pemimpin e-commerce di China. Perusahaan ini memiliki kapitalisasi pasar sekitar US$ 460 miliar dan penjualan dalam acara belanja Singles’ Day 24-hour yang mencapai US$ 30,8 miliar pada tahun lalu.

Alibaba juga dinobatkan sebagai merek ritel paling bernilai di luar Amerika Serikat pada tahun 2019.

Perusahaan afiliasi keuangannya, Ant Financial, adalah salah satu dari dua penyedia pembayaran mobile yang dominan di negara ini. Selain itu, bisnis cloud perusahaan, dalam waktu kurang dari satu dekade, menancapkan dirinya ke posisi nomor tiga di pasar global.

Baca Juga: Jack Ma pensiun, ini momen-monem bersejarah Alibaba di bawah kepemimpinannya (1)

Awal tahun ini perusahaan meluncurkan prosesor chip yang dikembangkan sendiri, di tengah seruan dari Beijing untuk mencapai swasembada yang lebih besar dalam bidang semikonduktor. Alibaba juga telah mendorong dirinya lebih jauh ke dalam pengembangan kecerdasan buatan.

Meski pensiun, tapi Ma tidak memutuskan hubungan sama sekali dengan Alibaba. Dia akan tetap menjadi anggota dewan direksi Alibaba sampai pertemuan pemegang saham tahunan pada tahun 2020.

Selain itu, Ma juga akan tetap menjadi mitra seumur hidup dalam Kemitraan Alibaba dengan hak untuk mencalonkan mayoritas direktur di dewan perusahaan.

Investor dan analis akan mengawasi bagaimana Zhang mengarahkan perusahaan melalui kondisi ekonomi yang tidak menentu di tengah perang dagang antara AS dan China serta kondisi ekonomi Tiongkok yang melambat.

Di saat yang sama, Alibaba juga mesti 'berperang' dengan rival domestik seperti Pinduoduo dan JD.com untuk pangsa pasar e-commerce yang lebih besar di kota-kota kecil China yang diharapkan menjadi pendorong pertumbuhan berikutnya untuk konsumsi Tiongkok.

"Penjualan jangka panjang dan pertumbuhan laba dapat mengambil manfaat dari investasi strategis dalam teknologi yang menggunakan kecerdasan buatan dan analisis data pengguna yang luas untuk menghasilkan uang dari segmen bisnis baru, seperti keuangan, logistik, cloud, media dan hiburan," kata analis Bloomberg Intelligence Vey -Sern Ling dalam catatannya.

Perusahaan juga berencana untuk menjual sahamnya di bursa Hong Kong pada bulan Oktober, setelah melakukan IPO terbesar sepanjang sejarah ketika melantai di bursa New York pada tahun 2014 dengan mengumpulkan US$ 25 miliar.

Tetapi sementara Ma secara formal telah menjauh dari pengelolaan Alibaba, para pengamat percaya bahwa ia masih akan terus menjadi pengaruh besar terhadap perusahaan yang telah ia dirikan.

Baca Juga: Jack Ma pensiun, ini momen-monem bersejarah Alibaba di bawah kepemimpinannya (2)

"Saya tidak berpikir Jack Ma akan tiba-tiba menghilang dan tidak memiliki hubungan dengan Alibaba lagi, dia akan tetap menjadi salah satu wajah perusahaan meskipun tidak memiliki peran formal," kata David de Cremer, profesor manajemen dan organisasi di Universitas Nasional Singapura.

Dia menunjukkan bahwa walaupun rencana suksesi Alibaba jarang terjadi di China tata kelola dan perencanaan perusahaan seperti itu akan menjadi lebih umum karena lebih banyak perusahaan teknologi China ingin go public dan melakukan bisnis di Barat.

“Apa yang Anda lihat sekarang adalah bahwa perusahaan-perusahaan China masih belum cukup berinvestasi dalam hal SDM atau rekrutmen orang-orang yang tepat sehingga pada dasarnya mereka dapat melatih dan membina untuk menjadi pemimpin perusahaan,” kata de Cremer.

Ketergantungan terhadap sosok pendiri bisa dilihat dari sejumlah perusahaan lain. Tencent dan Baidu, dua perusahaan internet yang sering disebutkan bersama dengan Alibaba dalam triumvirate "BAT", masih dijalankan oleh pendiri mereka masing-masing yakni Pony Ma Huateng dan Robin Li Yanhong. 

Lalu NetEase yang perusahaan game nomor 2 di China setelah Tencent, masih memiliki sang pendiri yakni William Ding Lei sebagai chief executive sejak didirikan pada tahun 1997. Hal yang sama berlaku untuk perusahaan jasa pencarian dan periklanan Sohu, yang dipimpin oleh pendiri Charles Zhang.

Tetapi apa yang membuat perusahaan teknologi ini sukses sering kali adalah visi dan kepemimpinan para pendirinya, sesuatu yang sulit ditiru oleh penerusnya.

Baca Juga: Dituduh langgar aturan, Apple akui Foxconn terlalu banyak memakai pegawai kontrak

"Tidak ada rekam jejak yang sangat baik dari perusahaan internet dan teknologi yang sangat inovatif yang menunjukkan kesuksesan yang berkelanjutan ke generasi berikutnya," kata Jeffrey Towson, profesor investasi di Universitas Peking.

Dia menunjukkan bahwa inovasi Apple terhenti ketika Tim Cook mengambil alih perusahaan. Begitu juga nasib Microsoft  setelah Steve Ballmer mengambil alih kendali dari Bill Gates sebagai chief executive.

Meskipun demikian, Towson menilai Alibaba mungkin salah satu dari sedikit perusahaan yang akan berhasil menyerahkan tongkat estafet kepada generasi pemimpin berikutnya. Karena perusahaan sejauh ini mampu menangkap ombak dan di bawah kendali Zhang.

"Mungkin Jack Ma adalah salah satu yang pertama mencapai apa yang coba dilakukan oleh Steve Jobs, Bill Gates dan Jerry," kata Towson.




TERBARU
Terpopuler

Close [X]
×