kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.968.000   52.000   1,78%
  • USD/IDR 16.737   -54,00   -0,32%
  • IDX 8.352   -628,38   -7,00%
  • KOMPAS100 1.157   -82,72   -6,67%
  • LQ45 822   -54,24   -6,19%
  • ISSI 305   -25,66   -7,76%
  • IDX30 422   -21,81   -4,91%
  • IDXHIDIV20 499   -20,45   -3,94%
  • IDX80 128   -9,50   -6,90%
  • IDXV30 138   -5,53   -3,84%
  • IDXQ30 136   -6,49   -4,56%

Jam Kiamat Semakin Maju: Ini Alasan Dunia Kini Makin Dekat Kiamat


Rabu, 28 Januari 2026 / 08:09 WIB
Jam Kiamat Semakin Maju: Ini Alasan Dunia Kini Makin Dekat Kiamat
ILUSTRASI. Doomsday Clock bergerak ke 85 detik sebelum tengah malam, terdekat sepanjang sejarah. Perilaku agresif negara nuklir dan AI pemicu utama. (DOK/Shutterstock)


Sumber: Reuters | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

KONTAN.CO.ID - Para ilmuwan atom kembali memajukan Doomsday Clock atau Jam Kiamat ke titik paling dekat dengan tengah malam sepanjang sejarah. Mereka menilai perilaku agresif negara-negara pemilik senjata nuklir, yakni Rusia, China, dan Amerika Serikat, serta melemahnya pengendalian senjata nuklir, konflik di Ukraina dan Timur Tengah, hingga risiko kecerdasan buatan (AI) telah meningkatkan ancaman bencana global.

Informasi saja, Doomsday Clock adalah sebuah jam simbolik yang dibuat untuk menunjukkan seberapa dekat umat manusia dengan kehancuran global, terutama akibat perang nuklir, tetapi kini juga mencakup krisis iklim, ancaman biologi, dan risiko kecerdasan buatan (AI).

Reuters melaporkan, Buletin Ilmuwan Atom (Bulletin of the Atomic Scientists) menetapkan Jam Kiamat berada di 85 detik sebelum tengah malam, titik teoretis kehancuran umat manusia. Angka ini empat detik lebih dekat dibanding tahun lalu. Lembaga nirlaba berbasis di Chicago itu pertama kali menciptakan Jam Kiamat pada 1947, di tengah ketegangan Perang Dingin pasca-Perang Dunia II, sebagai peringatan bagi publik tentang seberapa dekat dunia pada kehancuran diri.

Para ilmuwan menyoroti ancaman integrasi AI yang tidak diatur dalam sistem militer, potensi penyalahgunaan AI untuk membantu penciptaan ancaman biologis, serta peran AI dalam menyebarkan disinformasi secara global. Tantangan perubahan iklim juga dinilai terus memperburuk risiko.

Baca Juga: Trump: AS Akan Cari Jalan Tengah dengan Korea Selatan Usai Ancaman Tarif 25%

“Jam Kiamat berbicara tentang risiko global. Yang kita saksikan adalah kegagalan kepemimpinan di tingkat dunia,” kata pakar kebijakan nuklir Alexandra Bell, Presiden dan CEO Bulletin of the Atomic Scientists, kepada Reuters. “Apa pun pemerintahnya, pergeseran menuju neo-imperialisme dan pendekatan pemerintahan ala Orwell hanya akan mendorong jarum jam semakin mendekati tengah malam.”

Ini menjadi ketiga kalinya dalam empat tahun terakhir Jam Kiamat dimajukan lebih dekat ke tengah malam.

“Dari sisi risiko nuklir, tidak ada satu pun tren pada 2025 yang bergerak ke arah positif,” ujar Bell. 

Ia juga menyebut kerangka diplomasi lama berada di bawah tekanan atau runtuh, ancaman uji coba nuklir kembali mencuat, kekhawatiran proliferasi meningkat, dan ada tiga operasi militer yang berlangsung di bawah bayang-bayang senjata nuklir. 

“Risiko penggunaan nuklir berada pada tingkat yang tidak berkelanjutan dan tidak dapat diterima.”

Bell menunjuk perang Rusia di Ukraina, pemboman AS dan Israel terhadap Iran, serta bentrokan perbatasan India–Pakistan. Ia juga menyoroti ketegangan di Asia, termasuk di Semenanjung Korea dan ancaman China terhadap Taiwan, serta meningkatnya tensi di Belahan Barat sejak Presiden AS Donald Trump kembali menjabat 12 bulan lalu.

Baca Juga: Diplomasi Xi Menggoda Eropa, Akankah AS Kehilangan Sekutu Penting?




TERBARU
Kontan Academy
SPT Tahunan PPh Coretax: Mitigasi, Tips dan Kertas Kerja Investing From Zero

[X]
×