kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.857.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.020   -18,00   -0,11%
  • IDX 7.027   -157,66   -2,19%
  • KOMPAS100 971   -21,90   -2,21%
  • LQ45 715   -12,21   -1,68%
  • ISSI 251   -5,90   -2,30%
  • IDX30 389   -4,63   -1,18%
  • IDXHIDIV20 483   -4,52   -0,93%
  • IDX80 109   -2,25   -2,01%
  • IDXV30 133   -1,42   -1,05%
  • IDXQ30 127   -1,23   -0,96%

Jam Kiamat Semakin Maju: Ini Alasan Dunia Kini Makin Dekat Kiamat


Rabu, 28 Januari 2026 / 08:09 WIB
Jam Kiamat Semakin Maju: Ini Alasan Dunia Kini Makin Dekat Kiamat
ILUSTRASI. Doomsday Clock bergerak ke 85 detik sebelum tengah malam, terdekat sepanjang sejarah. Perilaku agresif negara nuklir dan AI pemicu utama. (DOK/Shutterstock)


Sumber: Reuters | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

Perjanjian pengendalian senjata nuklir terakhir antara AS dan Rusia, New START, akan berakhir pada 5 Februari. Presiden Rusia Vladimir Putin pada September mengusulkan perpanjangan satu tahun untuk tetap mematuhi batas perjanjian yang membatasi hulu ledak nuklir terpasang masing-masing negara hingga 1.550 unit. 

Trump belum memberikan respons resmi, sementara para analis keamanan Barat terbelah soal kelayakan menerima tawaran tersebut.

Pada Oktober, Trump memerintahkan militer AS untuk memulai kembali proses uji coba senjata nuklir setelah jeda lebih dari tiga dekade. Selama lebih dari 25 tahun terakhir, tak ada negara nuklir yang melakukan uji coba nuklir eksplosif, kecuali Korea Utara pada 2017.

Menurut Bell, China akan menjadi pihak yang paling diuntungkan jika dunia kembali pada era uji coba nuklir penuh, mengingat ambisi Beijing memperluas arsenal nuklirnya.

“Semakin Agresif dan Nasionalistik”

Bell menilai Rusia, China, Amerika Serikat, dan negara besar lainnya kini semakin agresif dan nasionalistik. Kompetisi kekuatan besar dengan logika “pemenang mengambil segalanya” dinilai merusak kerja sama internasional yang dibutuhkan untuk menekan risiko perang nuklir, perubahan iklim, penyalahgunaan bioteknologi, bahaya AI, dan ancaman apokaliptik lainnya.

Ia juga menyinggung kebijakan domestik Trump yang dinilai melemahkan sains, dunia akademik, birokrasi sipil, dan organisasi media.

Dalam pengumuman tersebut, hadir pula Maria Ressa, peraih Nobel Perdamaian 2021, yang menyoroti bahaya disinformasi di era teknologi. Ressa menyebut dunia sedang menghadapi “Armageddon informasi”, di mana kebohongan menyebar lebih cepat daripada fakta melalui media sosial dan AI generatif.

Tonton: Blokir 2 Juta Konten Judi Online pada 2025, Apa Rencana Kemenkomdigi Selanjutnya?

“Teknologi yang mengatur hidup kita tidak berakar pada fakta. Chatbot Anda hanyalah mesin probabilistik,” kata Ressa dalam konferensi pers daring.

Bulletin of the Atomic Scientists didirikan pada 1945 oleh para ilmuwan, termasuk Albert Einstein dan J. Robert Oppenheimer.


Tag


TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Effective Warehouse Management

[X]
×