kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.668.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.858   36,00   0,20%
  • IDX 6.134   -43,31   -0,70%
  • KOMPAS100 798   -10,37   -1,28%
  • LQ45 601   -7,94   -1,30%
  • ISSI 213   0,46   0,22%
  • IDX30 340   -4,74   -1,38%
  • IDXHIDIV20 417   -4,92   -1,17%
  • IDX80 90   -1,23   -1,34%
  • IDXV30 112   -0,54   -0,48%
  • IDXQ30 108   -1,64   -1,49%

Jepang Ubah Strategi Komunikasi, Pasar Waspadai Intervensi Yen Mendadak


Senin, 22 Juni 2026 / 14:23 WIB
Jepang Ubah Strategi Komunikasi, Pasar Waspadai Intervensi Yen Mendadak
ILUSTRASI. Yen Jepang (REUTERS/Florence Lo). Menteri Keuangan Jepang bungkam soal intervensi yen, namun sinyal 'peringatan terakhir' diplomat masih berlaku.


Sumber: Reuters | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID - TOKYO. Otoritas keuangan Jepang membuat pasar terus menebak-nebak kemungkinan intervensi di pasar valuta asing untuk menopang nilai tukar yen yang terus melemah. 

Berbeda dari biasanya, pemerintah kini dinilai sengaja mengurangi sinyal-sinyal tegas kepada pasar agar intervensi berikutnya bisa memberikan dampak yang lebih besar.

Pada Senin (22/6/2026), Menteri Keuangan Jepang Satsuki Katayama hanya menyatakan pemerintah akan merespons secara tepat setiap saat terhadap pergerakan nilai tukar. 

Pernyataan tersebut tergolong normatif dan jauh lebih lunak dibandingkan sejumlah komentar sebelumnya yang secara terbuka mengisyaratkan kesiapan pemerintah untuk melakukan intervensi.

Baca Juga: Pasar Akhir Tahun: Yen Bangkit, Bitcoin dan Ether Menguat Tipis

Yen pada perdagangan Senin melemah ke level 161,7 per dolar Amerika Serikat (AS), mendekati titik terendah dalam dua tahun yang tercapai pekan lalu.

Jika menembus level 161,96 per dolar AS, mata uang Jepang itu akan menyentuh posisi terlemahnya sejak 1986.

Pelaku pasar kini menunggu apakah diplomat mata uang utama Jepang, Atsushi Mimura, akan memberikan komentar.

Tidak seperti Menteri Keuangan yang rutin menggelar konferensi pers, pernyataan Mimura relatif jarang sehingga sering dianggap sebagai sinyal kebijakan yang lebih kuat.

Mimura sendiri belum berbicara kepada publik sejak awal Mei, tak lama setelah Jepang melakukan intervensi dengan menjual dolar AS untuk mendukung yen, yang menjadi aksi pertama dalam hampir dua tahun terakhir. 

Beberapa jam sebelum intervensi tersebut, Mimura sempat memperingatkan bahwa waktu untuk mengambil tindakan tegas sudah semakin dekat dan menyebutnya sebagai peringatan terakhir bagi pasar.

Dua sumber pemerintah Jepang mengatakan peringatan yang disampaikan Mimura pada akhir April lalu masih berlaku hingga saat ini. Artinya, peluang intervensi mendadak tetap terbuka meskipun pejabat pemerintah tidak lagi memberikan peringatan keras kepada pasar.

Baca Juga: IHSG Ambruk 22% Sejak Awal Tahun 2026, Saatnya Investor Ubah Strategi Portofolio

Analis menilai perubahan pola komunikasi ini bukan tanpa alasan.

Pada intervensi sebelumnya, sinyal yang terlalu jelas memberi kesempatan bagi spekulan untuk mengurangi posisi jual yen sebelum pemerintah bertindak, sehingga efektivitas intervensi menjadi berkurang.

"Sebagian pelaku spekulatif kemungkinan berhasil keluar tanpa mengalami kerugian. Karena itu, intervensi berikutnya kemungkinan akan dilakukan semaksimal mungkin secara mengejutkan," kata Shota Ryu, strategist valuta asing di Mitsubishi UFJ Morgan Stanley Securities.

Menurutnya, meski komentar pejabat pemerintah saat ini tidak menunjukkan urgensi tinggi, pasar tetap berhati-hati karena risiko intervensi sewaktu-waktu masih sangat besar.

Data Commodity Futures Trading Commission (CFTC) menunjukkan posisi spekulatif net short terhadap yen meningkat menjadi 145.818 kontrak pada pekan lalu, tertinggi sejak Juli 2024. Kondisi ini mencerminkan semakin banyak investor yang bertaruh yen akan terus melemah.

Baca Juga: Bitcoin Pernah Anjlok 30% Usai Intervensi Yen, Tapi Ada Polanya

Yuji Saito, Executive Advisor SBI FX Trade, mengatakan ekspektasi kenaikan suku bunga AS serta meningkatnya ketidakpastian di Timur Tengah yang mendorong harga minyak naik membuat investor semakin enggan melepas kepemilikan dolar AS.

Menurutnya, kondisi tersebut justru dapat memperbesar dampak intervensi pemerintah Jepang jika dilakukan dalam waktu dekat, karena posisi pasar saat ini sudah sangat condong terhadap penguatan dolar.

Pekan lalu, yen sempat jatuh hingga 161,8 per dolar AS, level terendah sejak Juli 2024 dan menghapus seluruh penguatan yang sempat tercipta setelah intervensi pemerintah pada akhir April dan awal Mei.

Dalam periode tersebut, Tokyo menggelontorkan dana rekor sebesar 11,7 triliun yen atau sekitar US$72,4 miliar untuk menstabilkan mata uangnya.

Pelemahan yen yang berkepanjangan kini menjadi masalah serius bagi Jepang karena meningkatkan biaya impor dan memperkuat tekanan inflasi. Kenaikan harga energi akibat ketegangan di Timur Tengah juga memperburuk situasi.

Wakil Gubernur Ryozo Himino mengatakan inflasi berpotensi melampaui target 2% yang ditetapkan Bank of Japan. Ia kembali mengingatkan risiko jika bank sentral terlambat menaikkan suku bunga di tengah tekanan harga yang terus meningkat.

Kondisi tersebut membuat pasar kini tidak hanya memperhatikan arah kebijakan suku bunga Jepang, tetapi juga semakin waspada terhadap kemungkinan intervensi mendadak yang dapat mengguncang pasar valuta asing kapan saja.




TERBARU
Kontan Academy
Langganan Business Insight promo optimal Supply Chain End-to-End: From Forecast to Customer Value

[X]
×