kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45825,22   12,92   1.59%
  • EMAS1.026.000 -2,84%
  • RD.SAHAM 0.38%
  • RD.CAMPURAN 0.16%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.09%

'Jika provokasi AS berlanjut, China akan kerahkan kapal perang ke Laut China Selatan'


Selasa, 21 Juli 2020 / 05:51 WIB
'Jika provokasi AS berlanjut, China akan kerahkan kapal perang ke Laut China Selatan'
ILUSTRASI. USS Nimitz dan USS Ronald Reagan terlihat kembali memasuki perairan Laut China Selatan, Jumat, 17 Juli 2020.

Reporter: Barratut Taqiyyah Rafie | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

KONTAN.CO.ID - LAUT CHINA SELATAN. Pada Senin (20/7/2020), China memberikan peringatan kepada Amerika Serikat untuk tidak melakukan eskalasi militer lebih lanjut di Laut Cina Selatan. Kedua negara secara dramatis meningkatkan kehadiran angkatan bersenjata mereka di wilayah yang diperebutkan tersebut.

Melansir US News, selang beberapa hari setelah AS mengerahkan dua kapal induk ke wilayah itu dalam tindakan yang dipandang sangat langka -yang dinilai China sangat provokatif-, media pemerintah China pada hari Senin mengkonfirmasi pihaknya telah mengirim brigade pasukan penerbangan ke dua pulau yang dikelola di Kepulauan Paracel yang diperebutkan bersama dengan serangkaian kapal perang. 

Baca Juga: Hadapi AS, China kirim jet tempur Flanker yang terkenal garang ke Laut China Selatan

China berencana untuk melakukan "latihan serangan sasaran maritim tembakan langsung" sebagai tanggapan terhadap kehadiran militer AS yang meningkat di sana. China mengklaim, kehadiran AS adalah pendorong nyata militerisasi di Laut China Selatan.

"Jika provokasi militer AS di Laut China Selatan masih terus berlanjut, China tidak memiliki pilihan selain melakukan lebih banyak latihan dan mengerahkan lebih banyak kapal perang dan pesawat perang di Laut China Selatan," lapor China Global Times. 

Baca Juga: Myanmar jadi medan pertempuran baru AS dengan China

Dijelaskan pula bahwa China juga dapat membangun zona pertahanan udara di sekitar wilayah yang dianggapnya serupa dengan yang telah memicu pertikaian sengit dengan AS di masa lalu.

Bahasa 'provokatif' yang digunakan China berfungsi sebagai penyelamatan terbaru dalam peningkatan dramatis antara pemerintahan Trump dan pemerintah Presiden China Xi Jingping dalam beberapa pekan terakhir. 



TERBARU

[X]
×