Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Lolosnya Argentina ke semifinal Piala Dunia diiringi gelombang kritik terhadap kepemimpinan wasit dan penggunaan Video Assistant Referee (VAR).
Seorang mantan wasit FIFA menilai penerapan protokol baru VAR justru memicu perdebatan mengenai keadilan pertandingan dan memperburuk persepsi publik terhadap turnamen.
Baca Juga: Harga Minyak Dunia Sentuh Level Tertinggi Sebulan Selasa (14/7), Brent ke US$ 84,98
Argentina, sang juara bertahan, akan menghadapi Inggris di semifinal pada Rabu (15/7/2026).
Namun perjalanan tim asuhan Lionel Messi menuju empat besar dibayangi keluhan dari sejumlah lawan terkait keputusan wasit, sementara di media sosial muncul spekulasi bahwa turnamen lebih menguntungkan tim Tango hingga memunculkan julukan "VARgentina".
Kontroversi terbaru terjadi pada laga perempat final saat Argentina mengalahkan Swiss.
Penyerang Swiss, Breel Embolo, mendapat kartu kuning kedua karena dianggap melakukan simulasi setelah keputusan tersebut ditinjau melalui VAR.
Pelatih Swiss Murat Yakin menyebut keputusan itu sebagai sesuatu yang "tidak dapat diterima."
Menanggapi kritik tersebut, FIFA pada Senin merujuk Reuters kepada wawancara 8 Juli dengan Kepala Perwasitan FIFA, Pierluigi Collina, yang sebelumnya telah membantah tuduhan adanya keberpihakan terhadap Argentina dalam laga babak 16 besar melawan Mesir.
Baca Juga: Harga Minyak Reli, Meroket 2% di Pagi Ini (14/7): WTI Incar US$ 80 Per Barel
Protokol Baru VAR Dipertanyakan
Kontroversi turut dipicu oleh penerapan protokol baru VAR mengenai kasus salah identitas pemain.
Berdasarkan aturan yang mulai berlaku pada musim 2026-2027 dan digunakan di Piala Dunia, VAR kini memiliki ruang intervensi yang lebih luas dibanding sebelumnya.
Mantan wasit FIFA sekaligus analis peraturan untuk stasiun televisi ITV, Christina Unkel, menilai protokol tersebut seharusnya tidak diterapkan tanpa pengujian yang memadai.
"Saya rasa aturan itu seharusnya tidak diterapkan sejak awal. Ruang lingkupnya terlalu luas," kata Unkel.
Menurutnya, VAR kini bukan hanya mengoreksi pemain yang menerima kartu, tetapi juga mengubah keputusan dasar pertandingan.
"Kita bukan sekadar mengubah siapa yang mendapat kartu. Kita juga mengubah keputusan awal, dari tendangan bebas untuk satu tim menjadi keputusan yang sepenuhnya berlawanan. Di titik itulah VAR mulai masuk ke wilayah 'mengadili ulang pertandingan', sesuatu yang selama ini justru berusaha dihindari," ujarnya.
Unkel menambahkan bahwa fakta bahwa protokol tersebut menguntungkan Argentina semakin memperbesar kemarahan publik.
"Perluasan protokol baru ini diterapkan tanpa pengujian yang memadai. Situasinya sekarang seperti tong mesiu. Saya hanya menunggu pemicu terakhirnya," kata dia kepada Reuters.
Baca Juga: Dolar AS Stabil Selasa (14/7) Pagi Jelang Data Inflasi AS, Yen Masih Tertekan
Rangkaian Kontroversi Sejak Fase Grup
Narasi mengenai dugaan keputusan wasit yang menguntungkan Argentina sebenarnya telah muncul sejak fase grup.
Aljazair sempat menilai Lionel Messi layak mendapat kartu merah setelah menginjak betis kapten mereka, Aissa Mandi, pada babak pertama.
Namun Messi tidak mendapat hukuman dan justru mencetak hattrick dalam pertandingan tersebut.
Beberapa hari kemudian, Aljazair mengajukan keluhan resmi terkait kepemimpinan wasit, menurut sumber Reuters.
Kontroversi juga muncul saat Argentina mengalahkan Mesir di babak 16 besar. Gol Mesir pada menit ke-62 dianulir setelah VAR menemukan adanya pelanggaran dalam proses terjadinya gol.
Mesir kemudian juga tidak mendapatkan hadiah penalti meski sempat mengajukan protes, sebelum Argentina mencetak gol kemenangan pada menit ke-92.
Federasi Sepak Bola Mesir menyatakan sejumlah keputusan wasit dalam laga tersebut memengaruhi hasil pertandingan.
Baca Juga: Refund Tarif Trump Dorong Defisit Anggaran AS Melonjak Tajam
Meski demikian, Unkel menilai secara teknis tidak ada keputusan mencolok yang menunjukkan buruknya kepemimpinan wasit dalam dua pertandingan tersebut.
Ia mengakui wasit sering menjadi sasaran kritik ketika hasil pertandingan tidak sesuai harapan pendukung.
Namun, menurutnya, sejumlah persoalan di luar lapangan telah memperburuk kepercayaan publik terhadap penyelenggaraan turnamen.
Kepercayaan itu juga terganggu setelah FIFA menuai sorotan dalam penanganan dua kasus kartu merah.
Penyerang Amerika Serikat Folarin Balogun dibebaskan dari larangan bermain satu pertandingan pada menit-menit terakhir, sedangkan bek Inggris Jarell Quansah justru dijatuhi hukuman larangan bermain dua pertandingan.
"Saya rasa kepercayaan penggemar benar-benar terkikis saat ini," ujar Unkel.
"Saya pernah meliput banyak turnamen besar sebagai wasit maupun analis, tetapi belum pernah melihat tingkat perdebatan seperti sekarang, dan itu bukan hanya terjadi di media sosial," tambahnya.














