Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Harga minyak dunia melonjak sekitar 2% pada perdagangan Selasa (14/7) dan mencapai level tertinggi dalam satu bulan terakhir seiring meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran di Selat Hormuz, yang memicu kekhawatiran terhadap kelancaran pasokan energi global.
Melansir Reuters, harga minyak mentah Brent naik US$ 1,68 atau 2% menjadi US$ 84,98 per barel pada pukul 00.51 GMT. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS menguat US$ 1,65 atau 2,1% menjadi US$ 79,79 per barel.
Baca Juga: Harga Minyak Reli, Meroket 2% di Pagi Ini (14/7): WTI Incar US$ 80 Per Barel
Sebelumnya, Brent melonjak 9,6% pada sesi Senin, menjadi kenaikan harian terbesar sejak Mei 2020.
Kenaikan tersebut membawa harga minyak ke level tertinggi sejak kedua negara menandatangani nota kesepahaman untuk mengakhiri perang pada 17 Juni lalu.
Ketegangan kembali meningkat setelah dua kapal tanker Uni Emirat Arab (UEA) dihantam dua rudal jelajah Iran di jalur selatan Selat Hormuz yang berada di wilayah perairan Oman.
Kementerian Pertahanan UEA menyatakan, insiden itu menewaskan satu awak kapal berkewarganegaraan India dan melukai delapan orang lainnya.
Baca Juga: Dolar AS Stabil Selasa (14/7) Pagi Jelang Data Inflasi AS, Yen Masih Tertekan
Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump mengatakan Washington kembali memberlakukan blokade terhadap pelayaran Iran.
Ia juga menegaskan bahwa AS ingin memperoleh kompensasi atas upayanya menjaga keamanan pelayaran negara-negara lain di Selat Hormuz.
Kepala Analis Pasar KCM Trade Tim Waterer mengatakan, eskalasi terbaru telah meningkatkan premi risiko di pasar minyak.
"Eskalasi terbaru, termasuk diberlakukannya kembali blokade oleh AS dan respons Iran, jelas telah menambah risiko baru di pasar," ujar Waterer.
Ia menambahkan bahwa meski Selat Hormuz belum sepenuhnya ditutup, tujuan yang saling bertentangan dari kedua pihak membuat prospek pasokan minyak menjadi sangat tidak pasti.
Sementara itu, Komando Pusat Militer AS (CENTCOM) menyatakan telah melancarkan serangan terhadap Iran untuk malam ketiga secara berturut-turut.
Di pihak Iran, kantor berita semi-resmi YJC melaporkan sedikitnya tujuh ledakan terdengar di kota pelabuhan Bandar Abbas dan dua ledakan lainnya terjadi di Pulau Kish pada Selasa dini hari.
Baca Juga: Refund Tarif Trump Dorong Defisit Anggaran AS Melonjak Tajam
Risiko Pasokan Minyak Kian Meluas
Ketegangan di kawasan Timur Tengah juga melibatkan kelompok Houthi di Yaman yang menembakkan rudal ke arah Arab Saudi setelah menuduh kerajaan tersebut membombardir bandara yang berada di bawah kendali mereka pada Senin.
Manajer Portofolio Gabelli Funds, Simon Wong, menilai situasi dapat semakin memperburuk prospek pasokan minyak apabila Houthi memperluas serangan ke infrastruktur energi Arab Saudi.
"Jika Houthi memperluas serangan terhadap produk minyak mentah Arab Saudi di Laut Merah, hal itu akan menambah ketidakpastian terhadap arus pasokan minyak dari kawasan tersebut," kata Wong.
Baca Juga: Perang AS-Iran Makin Membara: Rudal dan Drone Hantam Fasilitas Militer di Teluk
Sementara dari sisi fundamental, survei awal Reuters menunjukkan persediaan minyak mentah AS diperkirakan turun pada pekan lalu.
Sebaliknya, stok bensin dan produk distilat diperkirakan meningkat, menjelang rilis data resmi persediaan energi AS.














