kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.635.000   20.000   0,76%
  • USD/IDR 18.088   -22,00   -0,12%
  • IDX 6.042   2,45   0,04%
  • KOMPAS100 790   1,48   0,19%
  • LQ45 600   1,02   0,17%
  • ISSI 210   -0,03   -0,02%
  • IDX30 339   0,09   0,03%
  • IDXHIDIV20 422   0,59   0,14%
  • IDX80 90   0,11   0,12%
  • IDXV30 115   -0,13   -0,11%
  • IDXQ30 109   0,09   0,08%

Kapsul tak berawak SpaceX telah mendarat kembali di Bumi


Minggu, 10 Maret 2019 / 23:06 WIB


Reporter: Maizal Walfajri | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - CAPE CANAVERAL. Sebuah kapsul tak berawak milik Space Exploration Technologies Corp (SpaceX) mendarat di Bumi dan tercebur ke Samudera Atlantik pada Jumat (8/3).

Lokasi pendaratan kapsul bernama Crew Dragon tersebut berada di 320 kilometer (km) lepas pantai Florida, Amerika Serikat (AS).

Sebelumnya, Crew Dragon diluncurkan ke luar angkasa pada Sabtu (2/2) dari Kennedy Space Center, Florida. Kapsul setinggi 4,9 meter ini tiba di International Space Station (ISS) sehari setelahnya.

Setelah enam hari menjalankan misi di ISS, Crew Dragon meluncur kembali ke Bumi pada sekitar 2:30 pagi EST (0730 GMT) dengan kecepatan hipersonik. Kapsul tak berawak itu tiba di Bumi sebelum pukul 8:45 pagi EST (1345 GMT).

Misi tersebut membawa 180 kilogram alat uji ke stasiun ruang angkasa, termasuk boneka bernama Ripley. Boneka ini lengkapi dengan sensor di sekitar kepala, leher, dan penerbangan yang akan dirasakan manusia.

Pasalnya, pada Juli mendatang, National Aeronautics and Space Administration (NASA) akan melakukan penerbangan uji coba kru pertama SpaceX. Penerbangan itu akan membawa dua astronot asal AS, yaitu Doug Hurley dan Bob Behnken.

NASA telah memberikan SpaceX dan Boeing Co total US$ 6,8 miliar untuk membangun sistem dan kapsul untuk meluncurkan astronot ke orbit dari AS.

Sesuatu yang tidak mungkin sejak pesawat ulang-alik AS, Space Shuttle, pensiun dari layanan pada tahun 2011. Hasil dari misi ini akan menentukan apakah SpaceX dapat mengikuti jadwal tes pada 2019 ini atau tidak.

Sistem peluncuran ini bertujuan untuk mengakhiri ketergantungan AS pada roket Soyuz milik Rusia. Alasannya, AS harus membayar seharga US$ 80 juta per kursi untuk terbang setinggi 400 km di atas Bumi ke laboratorium penelitian orbital senilai US$ 100 miliar.

Maklum, Administrator NASA Jim Bridenstine mengatakan, biaya per kursi pada sistem Boeing atau SpaceX akan lebih rendah daripada untuk pesawat ulang-alik atau Soyuz.

Sebelumnya, NASA mengadakan pembicaraan dengan badan antariksa Rusia Roscosmos pada Februari. NASA mencari dua kursi Soyuz tambahan pada 2020 untuk mempertahankan kehadiran AS di stasiun ruang angkasa.




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI Strategi Implementasi PP 20 tahun 2026 (PPh Final UMKM) dan Mitigasi Risiko SP2DK

[X]
×