Sumber: Reuters | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - NEW DELHI. Amerika Serikat dan India mencapai kesepakatan dagang baru yang memangkas tarif impor AS atas produk India secara signifikan.
Presiden AS Donald Trump mengumumkan, tarif barang India ke AS diturunkan menjadi 18% dari sebelumnya 50%, sebagai imbalan atas komitmen India menghentikan pembelian minyak Rusia dan melonggarkan hambatan perdagangan.
Trump menyebut kesepakatan ini sebagai tahap awal dari perjanjian yang lebih luas. Dalam fase pertama, India akan meningkatkan pembelian produk energi, batubara, teknologi, alat pertahanan, hingga produk pertanian asal Amerika Serikat.
Baca Juga: India–AS Akhiri Kebuntuan Dagang: AS Pangkas Tarif, India Kurangi Impor Minyak Rusia
Langkah ini langsung memberi angin segar bagi hubungan dagang kedua negara dan mengangkat sentimen pasar.
Dari sisi Amerika Serikat, kesepakatan ini membuka peluang peningkatan ekspor energi, peralatan militer, elektronik, farmasi, produk telekomunikasi, pesawat terbang, serta akses terbatas ke pasar pertanian India. Komitmen pembelian tersebut akan dilakukan secara bertahap dalam beberapa tahun ke depan.
Meski Trump menyatakan tarif India akan dipangkas hingga nol, pemerintah India belum merinci produk apa saja yang akan mendapatkan pembebasan bea masuk atau penurunan tarif bertahap, seperti yang dilakukan India dalam perjanjian dagang dengan Uni Eropa dan Inggris.
Pada 2024, AS tercatat mengalami defisit perdagangan pertanian dengan India sebesar US$ 1,3 miliar.
Bagi India, pemangkasan tarif AS menjadi 18% dinilai akan mendongkrak ekspor secara signifikan. Sejumlah sektor diperkirakan menikmati manfaat besar, mulai dari tekstil dan pakaian jadi, farmasi, kimia, alas kaki, perhiasan, hingga produk makanan seperti udang.
Baca Juga: Amerika Serikat Pangkas Tarif Impor Bagi Swiss dari 39% Menjadi 15%
Dengan tarif yang lebih rendah, produk India kini bisa bersaing sejajar dengan negara Asia lain seperti Vietnam dan Bangladesh.
Terkait komitmen menghentikan pembelian minyak Rusia, kilang minyak India disebut telah mengurangi pasokan dari Rusia dan mulai mendiversifikasi sumber impor ke Amerika Serikat, Timur Tengah, Afrika, dan Amerika Selatan. Namun, pelaku industri menilai India masih memerlukan masa transisi untuk menyelesaikan kontrak minyak Rusia yang sudah berjalan, dan hingga kini belum ada perintah resmi untuk penghentian total.
Dalam perdagangan bilateral, hubungan dagang kedua negara tetap menunjukkan pertumbuhan. Meski sejumlah sektor seperti tekstil, perhiasan, dan udang sempat tertekan akibat kenaikan tarif AS pada Agustus lalu, diskon harga membantu eksportir mempertahankan pasar. Sepanjang Januari–November, ekspor India ke AS tumbuh 15,9% secara tahunan menjadi US$ 85,5 miliar, sementara impor dari AS mencapai US$ 46,1 miliar.
Total perdagangan barang dan jasa India-AS pada 2024 tercatat sebesar US$ 212,3 miliar. AS mencatat defisit perdagangan barang sebesar US$ 45,8 miliar, sementara surplus kecil berasal dari sektor jasa.
Meski demikian, analis menilai sejumlah tarif AS masih akan bertahan. Bea masuk berdasarkan Pasal 232 AS untuk baja, aluminium, tembaga, otomotif, dan suku cadang diperkirakan tidak dicabut. Akibatnya, sebagian ekspor India ke AS masih akan menghadapi tarif tinggi, meski ada kesepakatan dagang baru.
Baca Juga: India Akan Lanjutkan Perundingan Dagang dengan AS Meski Tarif Naik Jadi 50%
Pengumuman kesepakatan ini langsung disambut positif oleh pasar keuangan. Nilai tukar rupee menguat lebih dari 1% terhadap dolar AS, indeks saham utama Nifty 50 melonjak sekitar 3% setelah sempat naik hingga 5%, dan imbal hasil obligasi pemerintah tenor 10 tahun turun sekitar 5 basis poin.
Analis menilai kesepakatan ini berpotensi menopang ekspor, arus modal masuk, serta stabilitas rupee. Namun, implementasi penuh—terutama penghentian impor minyak Rusia—diperkirakan masih membutuhkan waktu.













