kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.651.000   11.000   0,42%
  • USD/IDR 17.977   -36,00   -0,20%
  • IDX 5.885   140,75   2,45%
  • KOMPAS100 765   21,35   2,87%
  • LQ45 581   15,60   2,76%
  • ISSI 204   4,45   2,23%
  • IDX30 329   8,65   2,70%
  • IDXHIDIV20 404   9,81   2,49%
  • IDX80 87   2,38   2,81%
  • IDXV30 110   2,46   2,29%
  • IDXQ30 106   2,69   2,61%

Ketua DPR AS: Trump ancaman berkelanjutan bagi keamanan nasional


Kamis, 19 Desember 2019 / 05:36 WIB
ILUSTRASI. Ketua DPR AS Nancy Pelosi berbicara dalam briefing dengan media mengenai rencana pemungutan suara pemakzulan President Donald Trump di Capitol Hill, Washington, 31 Oktober 2019.


Reporter: SS. Kurniawan | Editor: S.S. Kurniawan

Demokrat menuduh Trump menyalahgunakan kekuasaannya, dengan meminta Ukraina untuk menyelidiki mantan Wakil Presiden Joe Biden, kandidat terkuat calon Presiden dari Partai Republik untuk menghadapi Trump dalam Pemilihan Presiden November 2020. 

Trump juga dituduh menghalangi penyelidikan DPR, dengan mengarahkan pejabat dan lembaga pemerintah untuk tidak mematuhi panggilan pengadilan guna  kesaksian dan dokumen yang terkait dengan pemakzulan.

Baca Juga: Siap-siap gaduh, DPR AS gelar pemungutan suara pemakzulan Trump

Trump akan menjadi Presiden AS ketiga yang dimakzulkan. Sebelumnya, DPR AS memakzulkan Presiden Bill Clinton pada 1998 dan Andrew Johnson pada 1868. Tapi, tidak ada satu pun Presiden yang dicopot dari jabatannya melalui pemakzulan.

Saat sidang berlangsung, Trump berkicau di Twitter dan menyebut proses pemakzulannya sebagai "serangan atas AS" dan Republik, partainya. Trump, yang membantah melakukan kesalahan, kemudian menambahkan, "Pelosi bakal tercatat dalam sejarah sebagai Ketua DPR terburuk".

"Masalah di hadapan Dewan hari ini semata-mata didasarkan pada kebencian mendasar terhadap Presiden kita. Ini adalah penipuan, perburuan penyihir, dan itu sama saja dengan kudeta terhadap Presiden Amerika Serikat yang terpilih," tegas Anggota DPR dari Republik Mike Rogers seperti dilansir Reuters.




TERBARU

[X]
×