Sumber: Yahoo News | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Keselamatan kerja menjadi prioritas utama bagi CEO Waste Management, Jim Fish.
Demi memahami langsung kondisi di lapangan, pimpinan perusahaan pengelola sampah dan daur ulang terbesar di Amerika Serikat (AS) dan Kanada itu rutin menghadiri briefing keselamatan pada pukul 01.00 dini hari, bahkan ikut mengangkut sampah bersama kru.
Fish mengaku kebiasaan itu terinspirasi dari mendiang ayah mertuanya, seorang pekerja pipa serikat buruh.
Ia mendapat nasihat bahwa dengan rutin hadir di pertemuan dini hari bersama pekerja lini depan, ia akan belajar banyak tentang bisnis sekaligus membangun kedekatan dengan karyawan.
Baca Juga: Kisah Jim Fish: Perkuat Bisnis Bernilai US$90 Miliar dengan Mengelola Sampah
“Pengalaman itu sangat berharga. Saya belajar bisnis dan belajar memahami orang-orangnya. Tidak semuanya soal angka dan laporan keuangan,” ujar Fish kepada Fortune.
Waste Management menempatkan keselamatan sebagai pilar utama operasional perusahaan. Perusahaan menargetkan penurunan tingkat cedera kerja (Total Recordable Injury Rate/TRIR) sebesar 3% per tahun dengan target TRIR 2,0 pada 2030.
Artinya, maksimal dua cedera tercatat per 100 pekerja per tahun. Pada 2024, perusahaan mencatat penurunan total cedera sebesar 5,8% dan cedera yang menyebabkan kehilangan jam kerja turun 2,4%, berdasarkan laporan keberlanjutan perusahaan.
Menurut Fish, investasi pada keselamatan dan sumber daya manusia memang tidak selalu langsung terlihat dampaknya pada laporan keuangan. Namun dalam jangka panjang, budaya kerja yang aman akan berkontribusi pada kinerja perusahaan.
Baca Juga: MRT Jakarta Tancap Gas hingga Dini Hari! Ini Jam Operasional Malam Tahun Baru 2026
“Dampak keselamatan itu muncul dalam jangka panjang. Jika organisasinya aman, hasilnya akan terlihat di laporan keuangan, tapi butuh waktu,” katanya.
Waste Management mencatat pendapatan sebesar US$ 22 miliar pada 2024 dengan kapitalisasi pasar sekitar US$ 90 miliar. Perusahaan berbasis di Houston ini memiliki lebih dari 60.000 karyawan.
Fish, yang kini berusia 63 tahun, menjabat sebagai presiden dan CEO sejak November 2016, setelah lebih dari 20 tahun berkarier di perusahaan tersebut, termasuk sebagai direktur keuangan (CFO).
Saat masih menjabat CFO, Fish rutin turun ke lapangan setiap empat hingga enam minggu untuk mengangkut sampah bersama kru, biasanya bertepatan dengan briefing keselamatan dini hari.
Meski kemudian diminta dewan direksi untuk tidak lagi mengangkat sampah secara langsung, ia tetap rutin ikut naik truk bersama para pengemudi. Hingga kini, Fish mengunjungi sekitar 20–30 lokasi setiap tahun dan melakukan 5–10 perjalanan bersama pengemudi.
Dari pengalaman lapangan itu, Fish memahami berbagai persoalan yang tidak terlihat dari balik meja kantor. Salah satunya adalah penurunan produktivitas di Boston saat musim dingin.
Baca Juga: Xaviera Global Synergy-Cyber Waste Dorong Mahasiswa Kelola Sampah
Setelah merasakan sendiri bekerja di suhu di bawah nol derajat, ia menyadari bagaimana es dan salju mempersulit pekerjaan pengangkutan sampah.
“Perbedaannya sangat besar jika jalanan bersalju atau tempat sampah membeku,” ujarnya.
Pelajaran penting lain datang dari soal komunikasi dan keberagaman tenaga kerja. Di sebuah distrik di Rhode Island, sekitar 95% pengemudi adalah keturunan Puerto Rico dan Republik Dominika.
Hasil keselamatan di wilayah itu tergolong buruk. Fish mendapati bahwa meski para pekerja bisa berbahasa Inggris, bahasa utama mereka adalah Spanyol, sementara manajernya tidak bisa berbahasa Spanyol dan harus menggunakan penerjemah.
Fish kemudian mendorong promosi seorang pengemudi bilingual menjadi manajer. Hasilnya, tingkat keselamatan langsung membaik.
“Ada banyak hal yang hilang dalam penerjemahan. Setelah itu, semuanya berubah,” kata Fish.
Baca Juga: Di Balik Proyek PLTSa: Truk Sampah Akan Makin Ramai hingga Beban PLN Makin Berat
Langkah tersebut juga membuka peluang karier bagi pekerja yang sebelumnya merasa terhambat karena latar belakang bahasa. Perusahaan bahkan menyediakan pelatihan bahasa agar komunikasi berjalan dua arah.
Manajer bilingual tersebut kemudian menjadi salah satu manajer terbaik di perusahaan sebelum wafat akibat serangan jantung.
Bagi Fish, keunggulan Waste Management tidak terletak di ruang direksi, melainkan di tingkat operasional lapangan. Ia menilai pemahaman mendalam terhadap pekerja hanya bisa didapat dengan hadir langsung di tengah mereka.
“Saya tahu jabatan saya penting, tapi saya tidak lebih penting dari siapa pun di perusahaan ini,” ujar Fish. “Kami hanya berada di level posisi yang berbeda.”













