Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Jumlah klaim awal tunjangan pengangguran di Amerika Serikat (AS) meningkat moderat pada pekan lalu, namun masih berada di level rendah, menandakan pasar tenaga kerja belum menunjukkan pelemahan signifikan.
Kondisi ini memberi ruang bagi bank sentral AS untuk mempertahankan suku bunga sambil memantau dampak ekonomi dari konflik dengan Iran.
Melansir Reuters Kamis (9/4/2026), Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan, klaim awal tunjangan pengangguran naik 16.000 menjadi 219.000 (disesuaikan secara musiman) untuk pekan yang berakhir 4 April.
Baca Juga: Emas Menguat Seiring Dolar Melemah dan Ketegangan Timur Tengah Terus Berlanjut
Angka ini sedikit lebih tinggi dari perkiraan ekonom yang disurvei Reuters sebesar 210.000 klaim.
Rendahnya angka pemutusan hubungan kerja (PHK) menjadi penopang utama pasar tenaga kerja.
Hingga saat ini, belum ada indikasi bahwa lonjakan harga minyak akibat perang AS-Israel dengan Iran mendorong perusahaan untuk mengurangi jumlah pekerja.
Presiden AS Donald Trump sebelumnya mengumumkan gencatan senjata selama dua minggu, dengan syarat Iran membuka kembali Selat Hormuz yang sempat diblokade.
Baca Juga: Persidangan Korupsi PM Israel Netanyahu Kembali Digelar pada Minggu Ini
Namun, lonjakan harga minyak global telah mendorong harga bensin rata-rata nasional melampaui US$4 per galon untuk pertama kalinya dalam lebih dari tiga tahun, sekaligus menghapus nilai kapitalisasi pasar saham sekitar US$3,2 triliun pada Maret.
Para ekonom memperkirakan inflasi akan meningkat pada Maret. Indeks Harga Konsumen (CPI) diperkirakan naik hingga 1,0% secara bulanan, atau sekitar 3,3% secara tahunan, masih di atas target bank sentral sebesar 2%.
Risalah rapat Federal Reserve pada 17–18 Maret menunjukkan semakin banyak pembuat kebijakan yang menilai kenaikan suku bunga mungkin diperlukan untuk mengendalikan inflasi.
Saat ini, The Fed mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,50%–3,75%, dengan peluang penurunan suku bunga tahun ini semakin mengecil.
Baca Juga: Selat Hormuz Masih Ditutup, UAE Tegaskan Iran Harus Buka Tanpa Syarat
Mayoritas pejabat The Fed memperkirakan tingkat pengangguran akan relatif stabil, dengan penciptaan lapangan kerja dan pertumbuhan angkatan kerja tetap terbatas. Namun, sebagian kecil memperkirakan kondisi pasar tenaga kerja bisa melemah.
Saat ini, pasar tenaga kerja berada dalam kondisi yang oleh ekonom disebut sebagai “low-hire, low-fire”, yakni rendahnya perekrutan sekaligus minimnya PHK.
Kondisi ini dipicu ketidakpastian akibat kebijakan tarif impor serta deportasi massal yang dilakukan pemerintahan Trump.
Meski data payroll non-pertanian menunjukkan penambahan 178.000 pekerjaan pada Maret, durasi rata-rata pengangguran mencapai 11,4 minggu, terpanjang dalam hampir 4,5 tahun.
Sementara itu, jumlah penerima tunjangan pengangguran lanjutan turun 38.000 menjadi 1,794 juta pada pekan yang berakhir 28 Maret.
Baca Juga: Stok Fuel Oil Singapura Turun ke Level Terendah 10 Minggu, Ini Pemicunya
Penurunan ini kemungkinan disebabkan oleh berakhirnya masa manfaat tunjangan yang umumnya dibatasi hingga 26 minggu di sebagian besar negara bagian.
Kelompok usia muda menjadi yang paling terdampak kondisi pasar tenaga kerja yang lesu, terutama karena banyak dari mereka memiliki riwayat kerja terbatas sehingga tidak memenuhi syarat untuk mengajukan klaim tunjangan pengangguran.













