Sumber: Reuters | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Raksasa industri pertahanan Amerika Serikat, Lockheed Martin (LMT), memproyeksikan pendapatan dan laba tahun 2026 berada di atas ekspektasi Wall Street.
Proyeksi optimistis ini ditopang oleh tingginya permintaan global terhadap jet tempur dan sistem persenjataan di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik.
Saham Lockheed Martin melonjak 5,5% pada perdagangan pra-pasar di New York setelah perusahaan merilis panduan kinerja terbarunya.
Konflik berkepanjangan di Timur Tengah serta perang Rusia–Ukraina yang belum mereda telah mendorong lonjakan permintaan senjata. Kondisi ini secara langsung mengerek penjualan kontraktor pertahanan seperti Lockheed Martin.
Ketegangan geopolitik juga meningkat menyusul operasi militer AS yang menangkap presiden Venezuela.
Baca Juga: AS Kerahkan Armada Militer, Iran Pasang Kuda-Kuda Perang
CEO Lockheed Martin Jim Taiclet mengungkapkan bahwa sejumlah alutsista andalan perusahaan, seperti jet tempur F-35 dan F-22, drone siluman RQ-170, serta helikopter Sikorsky Black Hawk, digunakan dalam operasi tersebut.
Awal bulan ini, Lockheed Martin menandatangani perjanjian tujuh tahun dengan Departemen Pertahanan AS untuk meningkatkan produksi rudal pencegat Patriot PAC-3 menjadi 2.000 unit per tahun, naik signifikan dari sebelumnya 600 unit per tahun.
Secara terpisah, Lockheed juga mencapai kesepakatan untuk meningkatkan produksi rudal pencegat Terminal High Altitude Area Defense (THAAD) lebih dari empat kali lipat menjadi 400 unit per tahun, dari sebelumnya 96 unit.
Kinerja divisi rudal Lockheed, yang memproduksi sistem Patriot, mencatat pertumbuhan penjualan tercepat pada kuartal keempat, yakni naik 17,8% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Sementara itu, penjualan divisi aeronautika—yang memproduksi jet F-35 dan menjadi kontributor pendapatan terbesar—naik 6,4% secara tahunan.
Pada Januari, Lockheed melaporkan pengiriman rekor 191 unit jet tempur F-35 sepanjang 2025, meningkat tajam dari 110 unit pada 2024.
Program F-35 sendiri merupakan program akuisisi terbesar Pentagon dengan estimasi biaya seumur hidup lebih dari US$ 2 triliun, mencakup pembelian, operasional, dan pemeliharaan.
Namun, kebijakan baru Presiden Donald Trump pada Januari yang mengaitkan pembayaran dividen, pembelian kembali saham (buyback), dan kompensasi eksekutif dengan jadwal pengiriman senjata menciptakan ketidakpastian terhadap kebijakan pengembalian modal kepada pemegang saham.
Baca Juga: Korea Utara Tembakkan Rudal ke Laut Saat AS dan Korsel Adakan Pembicaraan Militer
Sejumlah perusahaan sejenis seperti RTX dan Northrop Grumman tetap menegaskan komitmennya terhadap dividen. Meski demikian, Northrop menyatakan akan menangguhkan program buyback setelah Januari.
Sepanjang 2025, Lockheed Martin membayarkan dividen sebesar US$ 3,13 miliar, naik dari US$ 3,06 miliar pada tahun sebelumnya.
Untuk 2026, Lockheed memproyeksikan pendapatan di kisaran US$ 77,5 miliar hingga US$ 80 miliar, lebih tinggi dibandingkan estimasi analis sebesar US$ 77,83 miliar, berdasarkan data LSEG.
Perusahaan juga memperkirakan laba per saham (EPS) berada di rentang US$ 29,35 hingga US$ 30,25, melampaui ekspektasi US$ 29,28.
Pada kuartal terakhir, Lockheed Martin membukukan pendapatan sebesar US$ 20,32 miliar, naik dari US$ 18,62 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Selanjutnya: Negosiasi Tarif Indonesia–AS Capai Hasil Optimal, Pemerintah Sebut Ada “Kejutan”
Menarik Dibaca: Data Pribadi Kamu Terancam? Hindari 7 Kebiasaan Buruk saat Pakai Mobile Banking
- Alutsista
- investasi saham
- wall street
- Jet tempur F-35
- F-35
- THAAD
- industri pertahanan
- Perang Rusia-Ukraina
- konflik timur tengah
- Ketegangan Geopolitik
- Lockheed Martin
- LMT
- Saham Lockheed Martin
- Dividen Lockheed Martin
- Proyeksi Laba Lockheed Martin 2026
- Pendapatan Lockheed Martin
- Rudal Patriot PAC-3
- Rudal THAAD
- Kebijakan Donald Trump













